![]() |
| Rumah warga di kawasan Teluk Aru, Kabupaten Langkat terendam banjir. (mol/mp) |
Sejak, Senin lalu langit mulai mendung tak sedietikpun matahar muncul menyinari bumi, sampai keesokan harinya. Tepatnya pukul 03.00 WIB, hujan turun sangat deras dan tidak ada hentinya.
Kemudian di hari ketiga, sekira pukul 04.00 WIB airpun mulai naik ke permukiman masyarakat sampai pada pukul 10.00 WIB. Seluruh rumah masyarakat Desa Securai Utara dan Securai Selatan sudah terendam banjir setinggi 80 centi meter, dan bahkan ada juga rumah masyarakat yang tergenang air setinggi 120 centi meter.
Warga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak sedikit rumah yang tenggelam terseret arus banjir, Semampunya mengungsi ke masjid, gereja dan rumah warga yang bertingkat. Kebanyakan warga memilih mendirikan tenda dipinggir jalan lintas yang tidak terkena banjir seperti di pinggiran Titi Pelawi.
Ironisnya, meski masyarakat telah mengalami penderitaan yang luar biasa, namun Pemerintah Kabuoaten (Pemkab) Langjat dan jajaran tidak memberikan perhatian dalam bentuk apapun.
Sejak banjir melanda Teluk Aru khususnya dua desa tersebut kini sangat kesulitan mendapat bahan pokok makanan sehari-hari dan kebutuhann lainnya lainnya. Kedai atau warung seluruhnya tutup.
Sementara Indomaret dan Alfamart meski tidak terkena banjir persis di depan simpang utama Desa Securai Utara mendadak tutup, Diduga kuat takut kalau barang dagangannya dijarah masyarakat yang saat ini telah kelaparan.
Yang lebih memprihatinkan lagi, air bersih sangat sulit untuk didapat, masyarakat harus pergi membeli air isi ulang ke Kecamatan Gebang. ‘Berjibaku’ menyeberangi banjir yang ada di perbatasan antara Kecamatan Babalan dengan kecamatan gebang.
Saat itu seluruh masyarakat menanti kehadiran pemerintah kabupaten Langkat untuk membantu air bersih untuk kebutuhan minum termasuk untuk balita.
Namun harapan tersebut sirna. Dikarenakan Sampai, Sabtu sore tadi pemerintah tidak kunjung hadir. Minimal.menyaksikan langsung penderitaan warga.
"Bahkan beberapa kepala keluarga dari Dusun Sendayan, Desa Securai Selatan datang mengungsi ke rumah saya. Tetap saya tampung dan tidak pernah terpikir untuk meminta jasa apapun dari masyarakat yang mengungsi kerumah saya.
Apa yang saya makan maka itu jugalah yang dimakan para masyarakat yang mengungsi kerumah saya,” tutur Suwardi Haloho.
Tokoh umat Khatolik Teluk Aru tersebut mengaku sangat kecewa dengan sikap pemerintah. Karena dari awal banjir sampai dengan air surut tidak ada bantuan apapun yang dirasakan masyarakat.
Padahal saat musibah banjir yang berlangsung selama 4 hari, masyarakat sangat membutuhkan bahan pokok makanan, obat obatan dan yang tidak kalah penting air bersih.
"Sudah empat hari memderita. Ke mana saja Pemkab Langkat dan jajaran? Apakah pemerintah hadir hanya untuk menagih pajak saja," tegasnya menohok.
Gagal Panen
Tak sampai di situ. Bencana alam juga menerjang tanaman padi di kedua desa. Kuat dugaan bakal gagal panen. Ternak milik masyarakat banyak hanyut tersapu banjir.
Pantauan Metro-Online, hingga kini banjir masih menggenangi Dusun Pasar Lebar, Desa Securai Utara maupun Desa Pelawi Selatan, Kelurahan Pelawi Utara, Desa Securai Selatan, Kelurahan Berandan Timur. Tak ayal, kendaraan pengguna jalan pun mogok terendal banjir. Banyak lagi titik banjir lainnya menggenangi rumah warga. (mp/lkt1)


