-->

Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik, dari Pencari Nipah Hingga Jadi Komandan di Tanah Kelahirannya

Sebarkan:


TANJUNGBALAI |
Kalau Allah sudah berkehendak, semua bisa terjadi. Hal yang dirasa tidak mungkin, bisa terjadi. Itulah yang dialami Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik. Perwira kelahiran tahun 1973 ini tak pernah menyangka bakal menjabat sebagai Komandan Denpom Lanal TBA.

Ayah dari 1 orang putra dan 2 orang putri, asli anak Tanjungbalai ini mengaku, dirinya tidak menduga kalau dia bakal menjabat sebagai komandan di tanah kelahirannya sendiri.

Jabatan yang diembannya saat ini bukanlah dengan mudah dia dapatkan. Penuh dengan perjuangan dan kerja keras serta kemauan yang gigih.   Dia bukan dari keluarga mampu. Bahkan perwira menengah ini hanya anak dari seorang buruh tani dan pengrajin atap nikah.

Namun dengan penuh kegigihan dan semangat yang tinggal diam untuk meraih cita citanya, dia terus berjuang meski banyak cobaan yang harus dihadapinya. Demikian dikisahkan Dandenpom Lanal TBA Kapten Laut (PM) Marwansyah Damanik baru baru ini kepada wartawan.

Dikatakan pria yang berbadan tegap dan murah senyum ini, masa kecilnya dia bersama abang, kakak dan adiknya yang berjumlah 11 orang bersaudara. Bersama kedua orang tuanya, mereka bermukim di daerah Sijambi Batu III, atau sekarang dikenal dengan nama Jalan Sudirman Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjung Balai.

"Pada masa itu ayah saya bekerja sebagai buruh di Pelabuhan Teluk Nibung atau PT. Dewata Mulya Raya. Sedangkan ibu saya selain sebagai ibu rumah tangga, namun juga sekaligus ikut membantu menambah penghasilan ayah saya, demi mencukupi kebutuhan keluarga dengan cara bertani / menanam padi, dan mencari daun nipah ke hutan untuk dijadikan usaha kerajinan tambahan buat atap rumah,” ucap Marwan.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Sijambi Batu IV, dirinya berjalan kaki dengan jarak tempuh 1 kilometer dan uang jajan sebesar Rp 10,- "Kami keluarga susah dengan 11 orang bersaudara bang, jadi orang tua gak bisa ngasi banyak uang jajan kepada anaknya,” kisahnya.

Untuk membantu ibu menambah penghasilan di rumah, dirinya juga harus ikut berperan aktif membantu orang tuanya ke sawah dan pergi ke hutan mencari daun Nipah yang harus ditempuh dengan cara menyeberangi sungai dan rawa, berhadapan dengan bahaya dan binatang liar. Namun itu tidak menjadi halangan buatnya.

"Adakalanya kita harus berhadapan dengan ular, pacet, lintah dan kelabang/kaki seribu di hutan. Semua ini dilakukan untuk demi kelangsungan hidup kami sekeluarga. Karena saat itu anak laki-laki tinggal saya seorang, sedangkan abang sudah pada merantau,” ungkap Marwan mengenang masa kecilnya.

Setelah tamat dari SD (ekolah dasar), dia melanjutkan SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Sijambi yang berlokasi sekarang tepatnya Jalan Anwar Idris/Sei Dua. Walaupun jarak sekolah dengan rumahnya berkisar 2 km, namun dia tempuh dengan berjalan kaki setiap harinya.

Setelah menamatkan Sekolah Menengah Pertamanya, dia melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA (Sekolah Menengah Atas) Budi Darma yang saat itu berlokasi di Jalan Muslim, atau sekarang Jalan Fanili, tepatnya di depan Terminal Bus Rajawali. Syukurnya, lokasi sekolah ini tak jauh dari rumah mereka.

Tahun 1992 tamat dari SMA, dirinya merantau ke Ibu Kota Jakarta dan tinggal bersama abangnya yang seorang TNI AD (Kopassus), untuk melanjutkan kuliah. Namun pendidikan tinggi itu harus putus di tengah jalan, hingga akhirnya hanya mengambil kursus komputer dan kursus mengetik di Jl. Gajahmada Jakarta Pusat.

Karena keinginannya yang kuat untuk mengejar cita-cita, Marwan bertawaqqal kepada ALLAH. Sehingga akhirnya pada Tahun 1994 abangnya yang menjadi Prajurit TNI AL mengajak dirinya untuk mengikuti pelamaran personil TNI.

Berkat restu dari kedua orang tuanya, saat pelamaran Sekolah Calon Bintara (Secaba) di Lantamal I Belawan, dia lulus dengan mendapat rengking ketujuh dari 34 siswa, dan diberangkat ke Malang untuk melakukan Pantohir berlanjut ke pendidikan dasar di Surabaya, hingga pembagian jurusan.

"Pada waktu itu saya ditanya Brigjen I Gede Putu Sukarja. Mau ambil jurusan apa, mau jadi Marinir? dan menjawab siap menjadi Marinir, sehingga Brigjen I Gede Putu mengaku, memang kamu cocok jadi Marinir, maka dirinya menjalani pendidikan dasar, yang terletak di kawah Candra di muka Korps Marinir daerah Surabaya, persisnya jalan Gunung Sari jawa Timur selama tiga bulan,” rincinya.

Pertama sekali ditugaskan, dirinya sebagai Komandan Regu (Danru) di Batalyon Provost Resimen Bantuan Tempur II Provost Bintara Muda Ton I KC sekarang disebut Yon Pommar daerah Surabaya. Dikala itulah dia berkenalan dengan seorang putri dari Surabaya di Jakarta yang kini mejadi istrinya yang bernama Suprapti.

Dari hasil pernikahannya, Allah memberikan karunia berupa 1 orang putra dan 2 orang putri. Pada Tahun 1997, dirinya berpangkat Serda dimutasi ke Jakarta di Dinas Provost Korps Marinir.

"Masih jelas terbayang di dalam ingatan saya, pada saat itu lagi berlangsungnya unjuk rasa besar besaran, dan saya pernah diperintahkan pimpinan untuk mengawal Pak Harto, yang saat itu melakukan Panin Raya di daerah Cilengsi Bogor, sehingga saat pulang kita juga dihadang oleh mahasiswa yang melakukan pembakaran ban di jalan," sebutnya.


Tahun 2009, Marwan berpangkat Sersan Mayor (Serma) kemudian mencoba Secapa yang dulunya dengan sebutan Pendidikan Pembentukan Perwira Angkatan Laut (Dik Tuk Pa AL).

Alhamdulillah, sekali test Marwan lulus dan dilantik menjadi pangkat Lenan Dua (Letda) tahun 2010 sesuai Keputusan Presiden (Kepres) dan yang melantik saat itu adalah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal).

Untuk penugasan pertama berpangkat Perwira (Latda) dan masih di Korps Marinir, yaitu di Batalyon Provost Marinir II (Yon Prov Mar II) Jakarta, dengan jabatan Danton II Kompi C Batalyon Provost II Marinir, Resimen Bantuan Tempur (Menbanpur) Korps Marinir.

Pada Tahun 2012, dirinya dimutasi oleh pimpinan dengan jabatan baru sebagai Perwira Urusan Penyidik (Paur Idik) di Detasemen Provost Pasukan Marinir II (Den Prov Pas Mar II) yang terletak dijalan Kuini II No 6 Jakarta Pusat, Bebernya.

"Kita tetap mengikuti kursus dan sekolah lainnya, termasuk pada Tahun 2016 dirinya juga mengikuti seleksi Pendidikan Spesial Perwira Polisi Militer (Dik Spespa Pomal) dengan hasil lulus, itu di Kobang Dikal Surabaya mengikuti seleksi dan pendidikan selama 6 bulan,” ujarnya.

Pada Tahun 2016, Marwan dipercayakan oleh pimpinan menduduki jabatan sebagai Komandan Detasemen Polisi Militer Pangkatan Angkatan Laut (Dan Denpom Lanal) Semeluh Aceh hingga menjabat 2 tahun dan pada tahun 2018 pimpinan mempercayakan dirinya untuk menjabat sebagai Dan Denpom Lanal TBA, hingga sampai saat ini.

Sebagai seorang prajurit yang diamanahkan, itu harus memenuhi unsur, termasuk Disiplin, Loyalitas dan Patuh kepada pimpinan serta tetap berdoa."Utamakan Tugas diatas segalanya. Taat pada Hukum dan Peraturan yang berdasarkan undang-undang, serta objektif dalam menyelesaikan masalah.

“Pesan saya kepada anak muda sekarang, jangan terlena dengan Tehnologi, sehingga lupa dengan jati diri. Mari bangkitkan performa kita dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, Patuhlah pada kedua orang tua yang mengaliri doa dan restu, serta rajin berolahraga, semua ini demi mencapai cita-cita dan keinginan yang akan kita raih," pungkas Marwan. (Surya)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini