Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Muncul Wacana Buka Diskotik dan Bar di Simeulue, FAKSI: Itu Ide Ngawur..!!

Tim Redaksi: Rabu, 01 Januari 2020 | 22:31 WIB

Aktivis Front Anti Kejahatan Sosial (FAKSI) Ronny Hariyanto
ACEH TIMUR - Aktivis Front Anti Kejahatan Sosial (FAKSI) Ronny Hariyanto menyebutkan bahwa ide mencabut Syariat Islam untuk membuka diskotik dan bar sebagai daya pikat wisata di Simeulue, yang dilontarkan salah seorang aktivis setempat, merupakan ide ngawur dan bertentangan dengan prinsip kekhususan Aceh, serta moral kebangsaan.

"Kita memang bukan orang alim, tapi mesti menyadari bahwa Syariat Islam itu merupakan salah satu bagian utama dari ciri kekhususan Aceh, yang telah diperjuangkan dengan banyak pengorbanan dan hal lainnya selama bertahun-tahun, jadi ide seperti itu ngawur," kata Ronny, Rabu (1/1/2020).

Menurut Ronny, hak mengemukakan pendapat memang dijamin Undang - Undang dalam setiap negara demokrasi, tetapi bukanlah pendapat yang sembarangan, apalagi berbenturan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi suatu masyarakat atau bangsa.

"Mengemukakan pendapat boleh-boleh saja, tapi jangan ngawur, apalagi bertentangan dengan norma-norma di masyarakat. Simeulue itu kan masih bagian dari Aceh, dan orang Aceh sangat anti dengan ide yang begituan. Masa iya nanti juga muncul ide agar kuah pliek dicampur daging babi demi memikat wisata, kan ngawur itu," cetusnya.

Dia menuturkan, gagasan itu terkesan disebabkan oleh minimnya ide-ide kreatif untuk mengembangkan dunia pariwisata yang bersesuaian dengan nilai-nilai keacehan.

"Orang luar Aceh, main ke Aceh itu bukan mau lihat mall atau diskotik, sebab di tempat mereka juga ada, tapi mereka ke Aceh ingin melihat kekhususan Aceh dan keindahan alamnya dan sebagainya, secara historis mereka juga ingin kenal Aceh dan manusianya lebih dekat. Jadi objek wisata dan kekhasan islami lebih tepat dikembangkan di Aceh," kata eks Ketua Forum Pers Independen Indonesia (FPII) Provinsi Aceh itu.

Ronny mengungkapkan, penerapan Syariat Islam terutama dari sisi penegakan hukumnya di Aceh memang dirasakan kurang optimal, tapi bukan berarti harus ditiadakan.

"Memang penerapannya dirasakan sebagian orang selama ini kurang berkeadilan, tajam ke bawah tumpul keatas, namun bukan berarti Syariat Islam harus dibubarkan, justru malah harus disempurnakan, sebab ini salah satu benteng moral bagi masyarakat dan bangsa ini kedepannya," sebut putra Idi Rayeuk itu menutup keterangannya. (Said)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html