Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Syukuran Bakti Budaya Pakpak Digelar Meriah di Lapangan Napasengkut Kota Salak.

Tim Redaksi: Minggu, 22 Juli 2018 | 16:42 WIB

Meriah
Masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat menggelar syukuran Bakti Budaya Pakpak. Prosesi acara diawali dengan pawai yang diwarnai dengan suara Drum Band muda/i Katholik beserta seluruh umat Katholik di Kabupaten Pakpak Bharat yang dimulai dari Gereja Katholik Santa Lusia Salak, Jl. Lae Trondi menuju Lapangan Napasengkut, Salak.

Bupati Pakpak Bharat, Dr. Remigo Yolando Berutu, MBA, M.Fin menyambut baik dan mendukung penuh acara Syukuran Bakti Budaya Pakpak Umat Katholik tersebut mulai dari awal hingga akhir, yang dihadiri langsung oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM.CAP.

Dukungan ini disampaikan Bupati Remigo melalui Kepala Bagian Humas SETDA Kabupaten Pakpak Bharat, Kastro Manik, S.Sos disela-sela acara Syukuran Bakti Budaya Pakpak, Minggu (22/7) di Lapangan Napasengkut, Salak. “Acara ini merupakan acara Syukuran perdana Umat Katholik di Kabupaten Pakpak Bharat untuk menyongsong Hari Jadi Kabupaten Pakpak Bharat yang ke-15, dijamin akan berlangsung dengan meriah” tutur Kastro. “Apalagi syukuran ini diisi dengan serangkaian kegiatan yang melibatkan Adat dan Budaya Pakpak. Diharapkan kegiatan ini dapat menginsiprasi para generasi muda untuk menteladani kehidupan spritualitas Yang Mulia Uskup Agung Medan,” harapnya.

Acara Syukuran ini juga dihadiri oleh Anggota DPRDSU, Jenny Berutu, Ketua DPRD Kabupaten Pakpak Bharat, Sonny Berutu, S.Th beserta anggota, Mhd. Said Darwis Boangmanalu, serta sejumlah Pimpinan OPD Lingkup Pemkab Pakpak Bharat.

Dalam Khotbahnya Uskup Agung mengatakan tiga hal yang menjadi pedoman umat Katholik yakni yang pertama ia mengatakan telah menemukan harta, yaitu Bhineka Tunggal Ika yang tertulis dalam buku terbitan resmi ajaran iman. “Disana dapat dikatakan persis mengenai penghayatan pancasila adalah kesatuan tidak merusak kepelbagain, dan kepelbagaian tidak merusak kesatuan.” tutur Uskup.

Kedua, Gereja Katholik harus membawa damai dan persaudaraan kepada sesama warga negara maupun pemerintah. “Kita tegaskan disini orang katolik tidak boleh menjadi perpecahan, orang katolik terpanggil menjadi bagian dari solusi. Tidak boleh membawa ketakutan atau terorisme.” Seru Uskup Agung. Ketiga, Katholik harus menjadi landasan persaudaraan di bumi indonesia, dimana tidak ada saling berselisih melainkan membawa cinta kasih,” jelas Uskup.(rel)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait