loading...

Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

loading...

Diserang Isu Hoax, Ternyata Djarot-Sihar Makin Diuntungkan

Tim Redaksi: Sabtu, 14 April 2018 | 12:58 WIB


Anggota Tim Pemenangan Djarot-Sihar (Djoss) Sutrisno Pangaribuan mengatakan, Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut nomor urut 2 Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus sering diserang isu hoax.

Menurut Sutrisno, pasca rilis hasil survei Indo Barometer, pada 23 Maret 2018 yang menempatkan Djarot-Sihar pada posisi teratas, secara periodik muncul serangan pada pasangan ini.

"Belum selesai isu tentang putra daerah atau calon impor, kini muncul isu bahwa Djarot hanya akan jadi Gubernur selama satu tahun, karena beliau akan diangkat jadi Menteri di kabinet kedua Jokowi," ujar Sutrisno kepada Metro-Online.co, Sabtu (14/4/2018).

Dikatakannya, isu demi isu ini muncul sebagai upaya menggiring opini masyarakat agar mengalihkan dukungan dari Djarot-Sihar.

Skenario pembuat isu membangun opini bahwa jika Djarot-Sihar menang, kemudian Djarot akan diangkat jadi menteri, maka Sihar akan jadi Gubernur. Maka isu ini tujuannya untuk membangun sentimen primordial. Pembuat isu ingin menciptakan situasi berbahaya jika Djarot-Sihar menang.
"Mereka khawatir akan penerimaan masyarakat Sumatera Utara yang semakin meluas. Pembuat isu semakin panik melihat grafik pengenalan, kepercayaan, dan pilihan masyarakat Sumatera Utara yang meroket terhadap Djarot-Sihar," tegasnya.

Meskipun isu hoax dan fitnah ini sungguh keji, lanjut Sutrisno, tetap saja Djarot Sihar mendapat manfaat. Bahkan dapat dijadikan energi positif untuk meraih dukungan. 

"Pertama, pembuat isu semakin yakin bahwa Djarot-Sihar akan memenangi kontestasi pilgubsu. Kedua, Pilpres yang juga masih jauh pun diyakini oleh pembuat isu akan dimenangkan Jokowi, sehingga Djarot akan diangkat jadi menteri," kata Sutrisno yang juga anggota DPRD Sumut ini.

Dia menambahkan, pembuat isu secara sengaja mengasosiasikan pendukung Djarot-Sihar sama dengan pendukung Jokowi. Sekali lagi tujuannya untuk membangun sentimen negatif, ternyata Djarot-Sihar semakin diuntungkan. 

"Penerimaan semakin meluas karena Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus beserta seluruh elemen pendukung, relawan, simpatisan, tim pemenangan, partai pengusung dan pendukung tidak pernah menggunakan negative campaign maupun black campaign," tukasnya.

Jika mengikuti alur pikir pembuat isu tersebut, sambungnya, maka sesungguhnya kemenangan Djarot-Sihar sudah di depan mata.

Berdasarkan survei Indo Barometer yang dirilis pada 23 Maret 2018, ternyata 66,4% pemilih Sumatera Utara menginginkan Jokowi terpilih kembali dengan tingkat kepuasan 72,7%.

"Apabila pengelompokan pemilih ini betul-betul sebangun dengan pemilih Djarot-Sihar, istilah sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui akan terwujud," ungkapnya.

Kepada seluruh relawan, simpatisan, tim pemenangan, partai pengusung, partai pendukung, bahkan kepada setiap pemilih yang telah bergerak, berjuang bersama Djarot-Sihar diharapkan terus meyakinkan pemilih Sumatera Utara bahwa Djarot-Sihar serius menjadi "pelayan" di Sumatera Utara.

"Kita berkewajiban menghadirkan pilkada yang menggembirakan tanpa fitnah dan hoax," ujar Sutrisno.

"Sekali lagi kita tegaskan, bahwa Djarot Saiful Hidayat, datang ke Sumatera Utara sebagai Calon Gubernur Sumatera Utara, bukan sebagai calon menteri. Seluruh kriteria untuk menjadi calon menteri, dapat dipenuhi oleh Djarot Saiful Hidayat, tetapi penugasan dan panggilan beliau adalah menjadi calon Gubernur Sumatera Utara," lanjutnya.

Pernyataan Djarot: "Kepada yang memfitnah, saya berdoa, ampuni mereka Tuhan karena mereka tidak tahu" menjadi bukti kesungguhan dirinya membangun Sumatera Utara, sehingga tukang fitnah pun didoakannya.

"Sikap ini menjadi panduan dan rujukan seluruh elemen pendukung. Kemenangan dalam pertandingan itu penting, tetapi kesatuan dan keutuhan masyarakat Sumatera Utara harus tetap terjaga," pungkas Sutrisno. (Tim)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html