Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Moral dan Jati Diri Pemuda Harus Berlandaskan Pancasila

Tim Redaksi: Jumat, 02 Juni 2017 | 07:25 WIB

[caption id="attachment_80251" align="aligncenter" width="809"] Tokoh Pemuda Tionghoa Medan Francky Limit [/caption]
Peran pemuda sangat penting dan memiliki tugas menjadi generasi penerus untuk membangun negara Indonesia.

Dengan gejolak dan semangat yang tinggi, pemuda sejatinya adalah refleksi masa depan bangsa. Maka, jiwa dan gelora pemuda perlu terarah ke jalur yang benar. Pandangan hidupnya dan pemikirannya harus tetap berlandaskan Pancasila

Demikian dikatakan Tokoh Pemuda Tionghoa Medan Francky Limit menanggapi refleksi Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh pada hari ini 1 Juni 2017

"Pancasila yang merupakan dasar Negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia harus dimaknai sebagai salah satu hasil budaya yang sangat penting," ujar Francky kepada wartawan, Kamis (1/6/2017).

Oleh karena itu, lanjutnya, Pancasila harus diwariskan kepada generasi penerus, yaitu pemuda. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bukan hanya sekedar dipahami namun harus diamalkan di kehidupan sehari-hari.

Pemuda kelahiran Pematang Siantar ini melihat, saat ini pengamalan Pancasila oleh pemuda semakin melemah. Hal ini karena Pancasila hanya dimaknai sebagai simbol Negara.

"Salah satu contoh adalah kasus seorang penyanyi wanita populer Indonesia. Dia menjadikan Pancasila sebagai bahan guyonan di salah satu acara televisi swasta, dengan mengganti lambang sila ketiga (Pohon beringin) menjadi bebek nungging," terangnya.

Hal ini menurutnya sangat mencederai esensi Pancasila, yang apabila ditinjau dari landasan historisnya, merupakan nilai-nilai yang digali dari sejarah Indonesia, dimulai dari masa kerajaan, penjajahan kemudian sampai proklamasi kemerdekaan.

Francky menambahkan, perkembangan Ilmu dan Teknologi yang semakin berkembang, menyebabkan informasi dapat diakses oleh siapa saja melalui jaringan Internet. Dan saat ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan internet tidak semestinya.

"Misalnya untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone," jelasnya.

Melihat fenomena tersebut, lanjut Francky, moral pemuda perlu diperbaiki dan kembali ke jati diri bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

"Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu direstorasi artinya perlu segala usaha yang dilakukan untuk mengembalikan Pancasila berperan sebagai Dasar Negara Republik Indonesia," ungkap pemuda yang juga menjabat Kadiv Pemuda & Olahraga Komunitas Indonesia Kompak (KIK) ini.

Dia menjelaskan, Restorasi Pancasila mempunyai tiga aspek. Aspek pertama adalah pendalaman dan pemahaman nilai-nilai Pancasila yang jauh lebih intensif di seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan terpelajar dan kalangan pimpinan bangsa dan daerah.

Aspek kedua adalah Pancasila berperan sebagai faktor utama dalam hakikat pembangunan nasional, yaitu pembangunan manusia Indonesia dan pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia (Nation and Character Building).

Kemudian, aspek ketiga Restorasi Pancasila adalah menjadikan Pancasila sebagai referensi utama untuk memperkaya kebudayaan Indonesia dengan mengadopsi nilai-nilai bukan-Indonesia.

"Pancasila adalah paham terbuka, maka tidak mustahil bangsa Indonesia perlu mengadopsi hasil kebudayaan bangsa lain untuk peningkatan kehidupan sendiri, seperti yang dilakukan bangsa Indonesia di masa dahulu ketika mengadopsi nilai-nilai agama Hindu, Buddha, dan Islam," jelasnya lebih lanjut.

Kemudian, sambung Francky, peran pemuda dalam merestorasi Pancasila adalah dengan menjadikan Pancasila sebagai gaya hidup masa kini dan mengubah kebudayaan yang identik dengan sikap anak muda sekarang ini.

Lebih lanjut, dikatakan, bentuk mencintai Pancasila adalah dengan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari dan merefleksikan perilaku serta kebiasaan pemuda masa kini dengan Pancasila.

"Bentuk cinta kepada Pancasila dapat ditunjukkan dengan cara membiasakan diri untuk musyawarah pada suatu organisasi/kumpulan dan bersikap toleran dengan perbedaan yang ada," pungkasnya.(sandy)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait