.jpg)
Salman berikan edukasi tentang kekerasan seksual kepada pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah MAN 2 Deliserdang.(nirmala_publisher/mol)
MEDAN | Keinginan untuk melihat dunia lebih luas menjadi alasan Salman Al Farici terjun ke dunia kerelawanan. Alumni Program Studi Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) ini pernah terlibat dalam Komunitas Kawan Bestari di Muara Angke, Jakarta, sebagai staf desainer kurikulum.
Di sana, Salman berhadapan langsung dengan realitas sosial. Ia bertemu dengan anak-anak yang masih mengalami keterbatasan dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Melalui Kawan Bestari, ia terlibat dalam pemetaan kebutuhan belajar dan penyusunan pendekatan pembelajaran bagi anak-anak setempat, termasuk mereka yang belum mendapatkan akses pendidikan usia dini.
Pengalaman itu menjadi titik awal ketertarikannya pada isu-isu sosial yang lebih luas, mulai dari lingkungan hingga kesetaraan gender.
Salman menyoroti masih adanya ketidaksetaraan hak yang dialami perempuan di lingkungan sekitarnya, termasuk praktik objektifikasi.
Menurutnya, perempuan tidak seharusnya dipandang hanya sebagai penerus keturunan. Perempuan memiliki peran fundamental dalam keberlangsungan kehidupan.
"Perempuan itu layaknya sumber kehidupan. Asal mula kehidupan itu dari perempuan, perempuan yang hamil, melahirkan, dan menyusui seperti itu," ujarnya.
Kepedulian tersebut ia wujudkan melalui keterlibatan dalam proyek Boneka Kita yang diimplementasikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Deli Serdang. Bersama tim, ia memberikan edukasi tentang kekerasan seksual kepada pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), serta perwakilan ketua dan wakil ketua kelas.
Kegiatan dikemas secara interaktif melalui diskusi kelompok, analisis kasus, presentasi, dan debat.
Tidak berhenti di situ, Salman juga bergabung sebagai Youth Advocate di UN Women Indonesia. Dalam peran tersebut, ia menyelesaikan sejumlah tantangan, seperti membuat publikasi tentang kekerasan terhadap perempuan berdasarkan data yang dapat diverifikasi serta mengikuti pelatihan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengenai penulisan yang tidak bias gender.
Ia juga aktif mengikuti pelatihan eksternal dan mempublikasikan konten edukatif tentang upaya mencegah bias dan diskriminasi gender.
Melalui perannya itu, Salman turut menyebarkan informasi dan edukasi mengenai isu perempuan. Ia juga menyoroti kerentanan perempuan penyandang disabilitas terhadap kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
"Enggak ada cara lain selain belajar itu, cara menghargai," tegasnya.
Bagi Salman, pembelajaran mengenai gender berkaitan erat dengan cara seseorang memahami dan menghargai perempuan.
"Intinya memang harus belajar. Mau apa pun gendernya tetap harus belajar. Karena kalau enggak belajar, pandangannya pasti akan berputar di situ-situ saja," tutupnya.(nirmala_publisher/js)

