MEDAN | Kepedulian terhadap kesehatan lingkungan mengantarkan Miftahussakdan, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU), terlibat aktif dalam riset dan pengabdian masyarakat untuk pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti, vektor penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Keterlibatan tersebut merupakan bagian dari pengalaman akademiknya dalam mendukung penelitian kesehatan lingkungan bersama dosen dan tim peneliti. Dalam penelitian itu, Miftahussakdan berperan dalam fasilitasi kegiatan, analisis data, serta penyusunan jurnal ilmiah dan laporan penelitian.
Salah satu riset yang didukungnya berjudul Effectiveness of Ricinus communis as Natural Larvicide for Aedes aegypti Mosquito Larvae in Medan City. Penelitian ini mengkaji potensi biji jarak (Ricinus communis) sebagai larvasida alami untuk jentik Aedes aegypti di Kota Medan. Riset tersebut melibatkan tim peneliti, di antaranya Ir Indra Chahaya S MSi dan Winni RE Tumanggor SKM MPH.
Tidak hanya menguji bahan alami, penelitian itu juga menekankan aspek penerimaan masyarakat. Edukasi melalui video tutorial penggunaan larvasida digunakan sebagai pendekatan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan warga dalam pengendalian jentik.
Pengalaman riset tersebut berlanjut pada kegiatan pengabdian masyarakat di Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, pada akhir Agustus hingga awal September 2026. Pada kegiatan itu, tim memperkenalkan penggunaan ovitrap dan alternatif bahan alami berupa cabai merah sebagai media edukasi pengendalian jentik.
Kegiatan ini diikuti sekitar 18 anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Warga mendapatkan sosialisasi, lokakarya, serta pendampingan penggunaan ovitrap dan bahan yang disediakan tim. Pemantauan dilakukan selama dua pekan, dengan pembaruan pada minggu pertama melalui grup WhatsApp dan kunjungan langsung ke rumah peserta pada minggu kedua.
Selama pemantauan, tim mengamati kondisi ovitrap dan keberadaan jentik di dalamnya sebagai bagian dari proses pendampingan. Kegiatan tersebut merupakan pengabdian masyarakat, bukan uji eksperimental formal, sehingga hasil pengamatan lapangan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan efektivitas cabai merah sebagai larvasida.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan keterkaitan antara riset akademik dan edukasi kesehatan lingkungan. Melalui kolaborasi bersama dosen dan tim peneliti, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman penelitian, tetapi juga menerapkan ilmunya secara langsung di tengah masyarakat.
Pengendalian jentik sendiri merupakan bagian penting dari pencegahan DBD. Penggunaan alternatif berbahan alami tetap memerlukan uji efektivitas dan keamanan yang memadai serta harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya pengendalian vektor yang lebih luas, bukan sebagai pengganti langkah pencegahan yang telah dianjurkan.(narra_publisher/js)

