Joget di Kafe Berujung Pembunuhan Berencana, Edi Ginting Luput dari Penjara Seumur Hidup

Sebarkan:

 


Terdakwa pembunuhan berencana dihadirkan di persidangan secara VC di PN Medan. (MOL/ROBS)



MEDAN | Edi Fananta Ginting (21), dalam sidang lanjutan secara video call (VC), Kamis (27/1/2022) di ruang Kartika PN Medan akhirnya luput dari pidana penjara seumur hidup.


Majelis hakim diketuai Murni Rozalinda dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan JPU dari Kejari Medan.


Dari fakta-fakta terungkap di persidangan, unsur dakwaan kesatu, Pasal 340 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, telah terbukti.


Warga Kedebrek, Kelurahan Palding, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi / Jalan Kemiri, Sukadono, Desa Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserang itu diyakini terbukti bersalah melakukan atau turut serta dengan sengaja melalui rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain dan divonis 20 tahun penjara.


Hal memberatkan, lanjut Murni Rozalinda, perbuatan terdakwa mengakibatkan korban Janwarisa Sembiring alias Ucok meninggal dunia, berbelit-belit memberikan keterangan di persidangan dan sempat melarikan diri.


Sedangkan yang meringankan, terdakwa bersikap sopan di persidangan dan belum pernah dihukum.


Hanya saja, vonis majelis lebih ringan dari tuntutan yang pernah diajukan KPU Chandra Priono Naibaho, 2 pekan lalu. Sebab Edi Fananta Ginting dituntut agar dipidana penjara seumur hidup.


Ketika dikonfrontir hakim ketua, baik JPU yang dihadiri Julita Purba maupun penasihat hukum (PH) terdakwa menyatakan melakukan upaya hukum banding.


3 Lainnya 15 Tahun


Secara estafet majelis hakim juga di ruang sidang serupa menjatuhkan pidana masing-masing 15 tahun penjara terhadap ketiga terdakwa lainnya (berkas penuntutan terpisah-red). 



Majelis hakim diketuai Murni Rozalinda saat membacakan putusan. (MOL/ROBS)



Syandyta Ginting (21), Rikki Sinulingga (20) dan Luddy Tanca Aprija Perangin-angin (24), juga diyakini terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan kesatu penuntut umum.


Vonis tersebut juga lebih ringan 5 tahun dari tuntutan JPU. Sebab pada persidangan 2 pekan lalu Chandra Priyono Naibaho menuntut ketiga terdakwa agar dipidana masing-masing 20 tahun penjara.


Menjawab pertanyaan Murni Rozalinda, baik JPU maupun PH ketiga terdakwa menyatakan banding atas vonis yang baru dibacakan majelis hakim tersebut.


Joget dan Senggolan


Dalam dakwaan disebutkan, Edi Fananta Ginting dan 3 terdakwa lainnya sedang joget-joget di Kafe 77 Jalan Bunga Rinte Raya, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, Minggu malam lalu (3/5/2021) lalu sekira pukul 23.00 WIB.


.Lagi asik joget setahu bagaimana terdakwa Edi Fananta bersenggolan dengan korban Janwarisa Sembiring. Tidak lama kemudian Edi pun mengajak ketiga terdakwa lainnya untuk pulang. 


Edi Fananta yang masih menyimpan perasaan tidak senang terhadap korban dan meminta ketiga rekannya untuk mengambil pisau. Terdakwa kemudian menyelipkan pisau tersebut di pinggangnya dan berempat pergi kembali ke Kafe 77 berboncengan sepeda motor.


Setiba di lokasi hiburan tersebut, Senin dini hari (4/5/2021) sekira pukul 00.30 WIB, Edi Fananta meminta terdakwa Rikki Sinulingga standby di depan agar bisa leluasa melarikan diri setelah 'menghabisi' korban.


Korban Janwarisa Sembiring alias Ucok kemudian diajak terdakwa keluar dari kafe karena ada hal yang perlu diselesaikan. Edi Fananta langsung mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan menancapkannya ke arah dada korban. Para terdakwa pun melarikan diri.


Atas kesigapan petugas Polrestabes Medan, terdakwa Edi Fananta dan rekannya lainnya berhasil dibekuk di lokasi berbeda. (ROBERTS)




Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini