-->

Jokowi Sebut Pertanian Tumbuh 16,2% Secara Kuartalan, Kalau Tahunan?

Sebarkan:
Foto: ANTARA
JAKARTA | Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa hari lalu memposting cuitan terkait sektor pertanian di Indonesia. Dalam cuitannya sektor pertanian tumbuh 16,24% dan ini menjadi penyumbang tertinggi bagi pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal kedua.

Jokowi menyebut momentum pertumbuhan ini harus dijaga dan bisa untuk meningkatkan kesejahteraan petani maupun nelayan.

Menanggapi hal tersebut, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Amanta menyebutkan data yang disampaikan oleh Jokowi merupakan data kuartalan. Jika secara tahunan maka pertumbuhan sektor pertanian hanya 2,19%.

Menurut Felippa, pertumbuhan pada kuartal dua tahun ini paling besar disumbang oleh tanaman pangan.

"Ini berarti pertumbuhan lebih mengindikasikan musim tanam yang tidak menentu, mungkin akibat perubahan iklim yang mempengaruhi curah hujan sampai kemarau. Biasanya puncak panen Februari-Maret kuartal I, sekarang bisa di April kuartal II," kata dia dikutip dari cuitan twitter @FelippaAmanta, Kamis (8/10/2020).

Peneliti INDEF Rusli Abdullah mengungkapkan memang data yang disampaikan oleh Presiden sesuai dengan kondisi di lapangan. Namun secara akademis data kuartalan tidak bisa menggambarkan sebuah sektor dalam waktu yang panjang.

"Di Indonesia kan seasonal, musiman. Jadi kinerjanya baru bisa ditangkap minimal satu tahun. Memang benar ada pertumbuhan 16,24% secara kuartal to kuartal, tapi secara tahunan 2,19%," ujarnya.

Rusli menyebutkan walaupun terdampak pandemi, sektor pertanian pada kuartal II ini adalah salah satu dari sedikit sektor yang masih tumbuh positif. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal II ini sektor pertanian masih mencatatkan pertumbuhan double digit.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan kontribusi pertanian ke perekonomian naik 15,46% pada kuartal II 2020 dari periode yang sama tahun sebelumnya 13,57%.

"Penyebab pertumbuhan ini adalah pergeseran panen raya tanaman pangan yang tahun lalu pada Maret menjadi April dan Mei 2020," katanya. (Dc)
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini