Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Makna Propaganda dan Keberhasilan Tokoh Dunia

Tim Redaksi: Jumat, 03 April 2020 | 14:06 WIB


Oleh : Aswan Jaya (Aktifis / Wakil Ketua Bidang Komunikasi Politik DPD PDI Perjuangan Sumut).


Sering sekali kita mendengar kata propaganda di tengah-tengah aktivitas komunikasi. Persepsi buruk terhadap kata propaganda sering juga melekat dalam pikiran kita. Karena propaganda merupakan kegiatan yang selalu dinilai negatif sehingga tidak jarang ditabukan orang.

Sebenarnya, propaganda hanyalah alat, sebagai salah satu teknik komunikasi. Yang buruk bukan propagandanya, tetapi bagaimana konten dan untuk apa propaganda itu digunakan.

Secara pasti, kapan propaganda hadir dalam aktivitas komunikasi manusia tidak ditemukan, namun ada beberapa catatan sejarah yang bisa dijadikan rujukan.

Seperti buku Arthashastra yang ditulis oleh Chanakya (350-283 SM) memuat perincian metode dan teknik penyebaran pesan melalui propaganda atau catatan Behistun Incription (515 M) bahwa keberhasilan Raja Darius I menduduki tahta kerajaan persia berkat propaganda.

Sumber lain adalah Livy (59-17 SM) karya masterpieces tentang propaganda. Mengkisahkan bahwa Kaisar Alexander menginstruksikan tentara Roma menggunakan baju rompi dan helm besi yang bertujuan agar tentara Roma memiliki keberanian lebih untuk menangkap musuhnya hidup-hidup.

Sun Tzu, seorang ahli strategi perang dari Cina dan Genghis Khan dari Mongol adalah dua tokoh yang juga memiliki banyak catatan sejarah yang melakukan kegiatan propaganda dalam menghadapi peperangan.

Kita juga mengenal Plato, filsuf Yunani yang menjadi orang pertama menguraikan teori retorika yang sebagian besar konsekuenasinya dipakai dalam propaganda.

Kegiatan propaganda paling mencolok adalah Hitler bersama Menteri Propagandanya Joseph Goebbels. Kebohongan-kebohongan, ancaman, dilakukan dalam menyebarkan, menanamkan dan menumbuh kembangkan idiologi Fasisme Nazional Socialisme (Nazi) terutama untuk merebut, meraih, memperluas, dan mempertahankan kekuasaannya. Bagi Hitler untuk mencapai suatu tujuan segala cara dapat dihalalkan.

Sejak itu, istilah propaganda mendapat reaksi negatif di negara-negara demokrasi, karena dengan propaganda Nazi, banyak korban jiwa.

Pada perkembangan selanjutnya, kegiatan propaganda yang secara teknik dikembangkan oleh Lipmann dan Bernays (1922) menjadi bagian penting dalam masa Perang Dunia I dan II.

Terus berlanjut di era Perang Dingin. Pada periode modern, kegiatan propaganda telah menjadi milik semua manusia. Propaganda baru (new propaganda) merupakan sesuatu yang tersebar lebih jauh lagi, lebih kuat, dan lebih penting dari pada sekadar perkembangan informasi.

Dalam perkembangannya Bernays pernah mengungkapkan, "Apapun kepentingan sosial yang dilakukan sekarang, harus dilakukan dengan propaganda, sehingga propaganda sangat dibutuhkan bagi peradaban ini,".

Alo Liliweri mendefinisikan propaganda, bahwa secara etimologis, kata “propaganda” dari bahasa latin, dengan kata kerja propago (pro artinya forth (maju) + pag akar kata pangere artinya untuk mengikat) – maju untuk mengikat – yang bermakna menyebarkan (to propagate; untuk menyebarkan) informasi untuk mengikat mereka yang menerima informasi ini.

Propaganda adalah penggunaan dari semua bentuk komunikasi yang direncanakan untuk mempengaruhi pikiran, emosi dan tindakan suatu kelompok yang dituju demi suatu tujuan tertentu.

Selanjutnya, Lasswell, salah satu ahli propaganda yang paling berpengaruh, mengemukakan bahwa, "Salah satu upaya untuk mendefinisikan propaganda adalah mengacu pada peranan propaganda untuk mengontrol pendapat umum melalui pesan-pesan simbolis yang signifikan, atau untuk berbicara lebih konkret dilakukan lewat cerita, rumor, laporan, gambar yang belum tentu akurat".

Ada empat karakteristik utama dari propaganda.

Pertama, Pernyataan Bohong. "Berbohong" yang disusun secara sengaja adalah elemen utama dalam proporsi yang tinggi dari propaganda. Bahwa "Kebenaran" dari suatu informasi merupakan standar utama dari "Propaganda" yang dapat dinilai sebagai kekurangan dan keburukan.

Kedua, Strategi Selektif. Memilih dan menseleksi atas pesan-pesan yang akan disebarkan kepada audiens. Bahkan secara sengaja atau seolah melakukan kelalaian dalam penyampaian pesan kepada publik. Fakta dan data yang valid dimanipulasi atau sebagiannya disimpan dan selebihnya yang kurang penting atau palsu dipublikasikan kepada publik.

Ketiga, Berlebihan. Umumnya pernyataan pesan dalam bentuk tertulis, juga pesan yang tidak tertulis dibesar-besarkan sehingga pesan tersebut mengalami distorsi. Suatu isu yang sepele dibesar-besarkan sebagai isu yang besar.

Keempat, Eksplisit atau Implisit. Pernyataan suatu isu itu dinyatakan secara eksplisit atau implisit sehingga dapat memenuhi standar kekuatan persuasif maupun syarat-syarat normatif suatu argumen yang bersifat faktual.

Tujuan propaganda itu adalah mempengaruhi opini publik, memanipulasi emosi dan menggalang dukungan dan atau penolakan.

Sementara, sasaran propaganda adalah memobilisasi kebencian terhadap musuh, mempertahankan persahabatan dan sekutu, membangun kerjasama dengan sekutu dan menakut-nakuti musuh.

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html