Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Isu Rekayasa Terkait Penusukan Wiranto Akhirnya Terkuak, Ini Penjelasannya..

Tim Redaksi: Jumat, 11 Oktober 2019 | 15:11 WIB

NASIONAL - Pro dan kontra di media sosial terkait peristiwa penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten pada Kamis (10/10/2019) siang, terus bergulir.

Teka-teki yang juga ramai diperbicangkan warganet adalah tidak terlihatnya ceceran darah Wiranto akibat luka tikaman tersebut.

Tak sedikit netizen yang berpendapat kasus penusukan Wiranto hanya rekayasa karena tak melihat adanya darah. Padahal, Wiranto dilaporkan menderita dua luka tusukan.

BACA JUGA: Penikam Wiranto Ternyata Warga Kota Medan

Terkait teka-teki darah itu, Tenaga Ahli Deputi IV KSP Ali Mochtar Ngabalin atau Ali Ngabalin angkat bicara.

Ia memaparkan penjelasan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto terkait darah dan luka yang diderita oleh Wiranto.

Menurut Ali Mochtar dari keterangan dokter, Wiranto menderita luka tusukan dengan kedalaman sekitar 10 sentimeter. 

"Menurut keterangan Pak Terawan dua tusukan, kedalamannya sekitar 10 cm, " kata Ali Ngabalin seperti dikutip dari tayangan salah satu televisi swasta.

Menurut keterangan dokter, lanjut Ali Mochtar Ngabalin, darah yang keluar dari tubuh Wiranto akibat luka tusuk itu memang tidak banyak.

"Kalau dari luar darahnya memang tidak terlalu banyak, tetapi karena dalam dinding perut itu senjata tajam menembus usus kecil, diperkirakan darah yang tertampung itu sekitar 3 liter. Jadi memang ada masa yang kita khawatirkan kemarin," katanya.

Dokter menjelaskan, lanjut Ali Mochtar, luka sobek pada perut kiri Wiranto sepanjang 6 sentimeter.

"Tersobek dari kiri ke kanan dua tusukan itu sekitar 6 centi jadi menembus perut sampai ke usus kecil menurut keterangan dokter," ujarnya.

Terpisah Tenaga Ahli Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, Agus Zaini mengatakan, usus halus mantan Panglima ABRI itu dipotong sepanjang 40 centimeter karena terluka.

"Setibanya di RSPAD, langsung ditangani secara intensif dan dokter memutuskan untuk mengambil tindakan operasi di bagian perut lantaran akibat tusukan ditemukan luka di bagian usus halus, sehingga usus halusnya mesti dipotong sepanjang 40 cm," ungkap Agus melalui keterangan tertulis, Jumat (11/10/2019).

Ia menambahkan, saat ini kondisi Wiranto terus membaik. Meski demikian, Wiranto masih harus menjalani perawatan intensif.

"Alhamdulillah, pasca operasi kondisi Wiranto membaik, meski tetap harus menjalani perawatan. Ia percaya, bahwa Tuhan sebaik-baiknya tempat bersandar. Semoga Allah SWT tetap mencurahkan kasih sayang-Nya," ujarnya.

Sementara, Kepala Pusat Riset Kajian Terorisme Benny Mamoto juga menanggapi isu penusukan terhadap Wiranto hanya sebuah rekayasa. Benny meminta publik untuk tidak berkomentar terlalu dini.

"Dengan beredarnya berbagai komentar termasuk di medsos, kalau boleh terlalu dini ataupun dengan tujuan tertentu ini sebaiknya direm, " katanya di salah satu tayangan televisi.

"Semua kasus terorisme akan digelar di pengadilan, disitulah akan ada pembuktian secara terbuka. Ketika nanti hasil di pengadilan pembuktian bertolak belakang dengan yang ditulis, ada UU ITE, ini yang kami ingatkan," tambahnya.

Menurut Benny, spekulasi bahwa kasus penyerangan terhadap Wiranto hanya rekayasa tidak bisa dibenarkan sebelum adanya pembuktian dari polisi.

"Nah betul, berbagai macam komentar itu terlalu dini, jadi marilah kita tunggu, kita tunggu konferensi pers dari polri soal pengungkapan jaringan, ini perlu waktu," kata Benny.

Ia menjelaskan bahwa serangan terorisme selalu saja ada pesan yang disampaikan.

"Karena teror tujuannya adalah menimbulkan ketakutan, ada message yang dikirim, melihat sederhananya, begitu murahnya hanya sebuah pisau, tidak harus mati tapi dampaknya karena yang diserang adalah simbol, buktinya semua koran headline halaman pertama, jangan anggap teror itu harus bom, dampaknya yang diperlukan," jelasnya.

Benny Mamoto menyebut aksi yang dilakukan Abu Rara cukup cermat. Sebab, melihat dari video dan foto yang beredar, pelaku sempat berinteraksi dengan petugas pengamanan Wiranto.

"Dari foto yang beredar, tersangka sempat berinteraksi dengan petugas, itu menunjukan dia cukup cermat untuk masuk ke ring yang lebih dalam. Dia berkomunikasi dengan aparat supaya tidak curiga, bayangkan kalau dia diam matanya lihat kanan kiri aparat sudah langsung melihat dia," kata Benny.

Sementara itu, sejumlah warganet lainnya menilai bahwa kasus penusukan Wiranto hanyalah rekayasa. Putri Amien Rais, Hanum Rais, satu diantaranya.

"Settingan agar dana deradikalisasi terus mengucur. Dia caper. Krn tdk bakal dipakai lg. Play victim. mudah dibaca sbg plot. Diatas berbagai opini yg beredar terkait berita hits siang ini. Tdk byk yg benar2 serius menanggapi. Mgkn krn terlalu byk hoax-framing yg slama ini terjadi,” kicau Hanum Rais.

Kini Hanum Rais dilaporkan oleh Relawan Jam'iyyah Jokowi-Maruf Amin ke Bareskrim Polri. Hanum Rais dilaporkan karena dianggap telah menyebarkan berita bohong terkait peristiwa penusukan Wiranto melalui akun Twitter.

Koordinator Jam'iyyah Jokowi-Ma'ruf Amin, Rody Asyadi mengatakan, pihaknya melaporkan Hanum karena melihatnya sebagai figur publik, sehingga tidak boleh sembarangan dalam memberikan pernyataan.

"Banyak masyarakat yang sudah simpatik (dengan peristiwan penusukan Wiranto), tapi dia memberikan statement bahwa ini hanya rekayasa, settingan, hanya untuk menggelontorkan dana deradikalisasi," ujar Rody di Bareskrim Polri, Jumat (11/10/2019). (Ril/Tri)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html