Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Ironis ! Potret Pendidikan di Pinggiran Kota Padangsidimpuan Memprihatinkan

Tim Redaksi: Sabtu, 07 September 2019 | 14:13 WIB

Suasana belajar mengajar di Madrasyah Diniyyah Awaliyyah,
PADANGSIDIMPUAN | Ironis, Puluhan siswa dan siswi Madrasyah Diniyyah Awaliyyah, Desa Simatohir, Dusun Batu Bola, Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu, kota Padangsidimpuan memprihatinkan, pasalnya siswa - siswi ini mengikuti proses belajar degan beralaskan lantai tanpa meja dan kursi, tidak seperti sekolah pada umummnya.

Puluhan siswa - siswi madrasyah ini, sampai sekarang masih menulis beralaskan lantai, tanpa meja dan kursi, ini sungguh jelas sangat memprhatinkan.

Pantauwan wartawan, terlihat puluhan siswa dan siswi ini sangat antusias penuh semangat dan harapan, dengan berjalan kaki menuju sekolah mereka tempuh setiap harinya demi mendapatkan ilmu pendidikan, walau keadaan sekolah yang mereka banggakan ini cukup memprihatinkan.

Langkah kecil mereka yang memijak jalan dengan kondisi masih rusak, namun tidak menghilangkan semangat mereka untuk menuntut ilmu.

Seragam putih hijau melekat di badan siswa. Mereka belajar disalah satu bangunan yang dihibahkan oleh salah seorang warga di desa itu.

Terlihat canda dan tawa langsung dari wajah polos para siswa - siswi madrasyah Diniyyah Awaliyyah, ketika mereka berada didalam ruangan kelas. Di ruangan terlihat hanya ada satu lemari yang sudah usang dengan berisi satu buku nyaris dimakan rayap, sungguh memprihatinkan sekali.

Sebenarnya, tidak sulit untuk datang ke sekolah itu, karena hanya berjarak 30 menit dari pusat Kota Padangsidimpuan.

Tidak itu saja jika ditempuh dari beberapa ratusan meter dari sekolah itu, terdapat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang sampai saat ini masih dipergunakan oleh pemerintah. Dipastikan, setiap hari, para siswa yang melintas menuju dan pulang ke sekolah akan menghirup aroma bau sampah menyengat.

Salah satu tenaga pendidik Safriani, satu dari tiga orang guru yang mengajar terlihat sibuk untuk memberikan materi pelajaran kepada para anak didiknya. Meski tidak mendapatkan imbalan (gaji), namun perempuan satu orang anak itu tetap antusias dan optimis.

Bagi Syafriani pengabdian untuk dunia pendidikan yang terpenting dalam hidupnya, kepada wartawan Ia mengatakan, biasanya, Ia datang mengajar ke sekolah setelah urusan rumahnya selesai. Ungkap Syafriani Kepada wartawan dengan terharu, Sabtu, (07/09/2019).

Para siswa di sekolah tersebut akan mulai proses belajar mengajar pada pukul 15.00 WIB. Seakan sudah menjadi tradisi bagi para guru yang bergantian untuk memberikan pelajaran kepada anak didik mereka. Maklum, para guru biasanya harus melaksanakan tugas wajib mereka sebelum datang ke sekolah.

"Saya senang mengajar disini tanpa mengesampingkan pekerjaan rumah, walaupun saya sudah memiliki keluarga, anak - anak harus tetap harus mendapatkan hak mereka untuk mendaatkan pendidikan " tuturnya.

Pekerjaan tersebut sudah dimulai Syafriani sejak beberapa bulan yang lalu. Semenjak bekerja, Dia tidak pernah mengharapkan imbalan dari para siswa. "Yang terpenting anak-anak di dusun ini cerdas, itu yang utama," tegasnya.

Selain itu sebagai tenaga pendidik Syfriani juga berharap agar ada dermawan yang mau membantu pengadaan mobiler, sehingga proses belajar mengajar biar lebih nyaman dan siswa - siswi bisa mendapatkan pendidikan yang kayak bagi mereka.

Senada juga disampikan Malikuddin (51), salah satu tokoh masyarakat setempat. Ia menceritakan, sekolah tersebut pernah terpaksa ditutup dikarenakan minimnya siswa.

"Tahun 2008 ditutup dan 2019 dibuka lagi. Alhamdulillah, siswanya sudah puluham orang,"tuturnya.

Malikuddin juga mengakui, bahwa dirinya juga menjadi salah seorang tenaga pengajar, karena saat ini sekolah tersebut masih kekurangan tenaga pendidik.

"Kami disini bergantian, kalau guru yang lain belum hadir, maka akan digantikan oleh guru yang bisa hadir," terangnya.

Ia juga ceritakan, sekolah tersebut didirikan atas keinginan dan swadaya masyarakat. Warga di dusun ini mengingkan agar anak anak mereka mendapatkan pendidikan yang layak.

Sementara salah satu warga kota Padangsidimpuan Lily Lubis yang juga aktif menjadi pemerhati kota Padangsidimpuan, kepada metro-online.co Ia mengatakan sudah seharusnya pemerintah kota Padangsidimpuan mengambil tindakan dalam permasalahan ini.

Dikatakan Lily bahwa, ini menyangkut dunia pendidikan yang dimana pendidikan itu harus dikedepankan, karena sudah jelas bertujuan mencerdaskan bangsa khususnya generasi muda, para penerus perjuangan bangsa ini.

"Saya sangat salut kepada adik - adik siswa madrasyah ini, mereka tetap semangat belajar walau kondisi sekolah mereka memprihatinkan. Begitu juga dengan tenaga pengajar disini, mereka rela membagi waktu memberikan ilmu kepada anak - anak disini, tanpa mengharapkan imbalan padahal mereka sudah berkeluarga dan mereka tetap mau berbagi" ungkap Lily yang juga aktif menjadi reporter salah satu stasiun radio ini.

Ia berharap dan meminta kepada pemerintah kota Padangsidimpuan agar secepatnya mengambil tindakan dan upaya dalam memberikan perhatian khusus kepada madrasyah Diniyyah Awaliyyah Desa Simatohir dan juga mungkin ada sekolah yang memprihatinkan lainnya agar lebih diperhatikan lagi.

Lanjutnya ini gunanya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dikota Padangsidimpuan, dimana kota Padangsidimpuan selain dikenal sebagai kota yang religius dikenal juga sebagai kota Pendidikan. Pungkasnya. (Syahrul)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html