Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Dinas Kesehatan Asahan Mencatat Tahun 2019 Kasus DBD Meningkat 60 Persen

Tim Redaksi: Kamis, 05 September 2019 | 12:38 WIB






Asahan Dinas Kesehatan (Dinkes) Asahan mencatat sepanjang 2019 ada 393 kasus DBD yang tersebar hampir di 25 kecamatan di Kabupaten Asahan. Namun, belum ada satu pun korban meninggal akibatnya.

''Untuk kasus DBD, hampir setiap kecamatan ada, tapi belum sampai mewabah. Dibandingkan tren tahun lalu, kali ini meningkat 60 persen. Karena perubahan cuaca. Yang meninggal ada satu, tapi karena sebelumnya mengidap komplikasi, bukan karena DBD murni,'' kata Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Asahan, Santoso, saat di konfirmasi wartawab. Rabu (4/9/2019) sekitar pukul 11.00 wib.

Meski demikian, Dinkes Asahan tak otomatis melakukan penyemprotan fogging. Karena, menurut Santoso, langkah terbaik untuk memberantas jentik nyamuk aedes aegypti dengan cara membersihkan secara teratur tempat penampungan air bersih. Sebab, fogging yang selama ini dilakukan justru hanya membunuh 70 persen nyamuk dewasa. Sedangkan jentik dan larva, tetap dapat berkembang menjadi nyamuk aedes aegypti.

''Fogging hanya dilakukan apabila terjadi tindakan darurat. Cara terbaik adalah melakukan pemantuan jentik nyamuk demam berdarah,'' ujarnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Asahan, S. Hutahaean juga menyebutkan, fogging baru dapat dilakukan bila hasil penyelidikan epidemiologi oleh petugas, diantaranya pada suatu daerah terdapat dua warga yang positif menderita DBD dan petugas menemukan jentik di rumah yang diperiksa. Apalagi, S Hutahean menjelaskan, fogging yang selama ini dilakukan di permukiman tempat tinggal warga memiliki efek negatif bagi kesehatan.

''Anak-anak yang sering terpapar asap fogging, bisa sebabkan kemandulan. Bagi orang dewasa, zat kimia dari fogging bisa sebabkan kanker. Jadi perlahan-lahan fogging ini bakal dihapuskan,'' ungkapnya.

Terkait itu, Dinkes Asahan berencana untuk menggalakan tim Jumantik (Juru Pemantau Jentik). Masyarakat pun diminta secara bergotong royong menjaga lingkungan dengan melakukan 3M (menguras, menutup dan menimbun).

''Tahun depan kami coba di 28 desa/kelurahan akan dibuat tim jumantik. Kami usahakan satu tim jumantik di setiap desa. Maunya kepedulian masyarakat juga, cuma masyarakat kita, kalau tak diingatkan, kesadarannya kurang,'' ucapnya.(rial)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html