Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Konsolidasi Kepemimpinan Polri dan Makna Reformasi Polri Terhadap Nawacita

Tim Redaksi: Senin, 27 Agustus 2018 | 17:50 WIB


Oleh : Firman Jaya Daeli 

Institusi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol. Prof. Tito Karnavian, MA, Ph.D sudah semakin terkonsolidasi rapi dan efektif melalui pergantian dan pengisian sejumlah jabatan strategis di level kepemimpinan satuan kerja Mabes (satker/pejabat utama/PJU Polri) dan satuan wilayah (satwil/Kapolda).

Pergantian dan pengisian jabatan menjadi salah satu dari sekian variabel yang mewarnai dan memaknai konsolidasi kepemimpinan Polri dan reformasi (pembaruan) kelembagaan Polri yang tengah berjalan secara mendasar dan menyeluruh. Agenda pergantian dan pengisian jabatan Polri tidak sekadar urusan teknis administratif semata, dan bukan juga hanya diperuntukkan untuk kepentingan praktis sesaat saja.

Agenda ini justru melambangkan dan memastikan kemauan kuat dan tekad bulat Polri untuk semakin membangun dan memaknai konsolidasi dan reformasi berkelanjutan. Jiwa dan semangat agenda pergantian dan pengisian jabatan, sesungguhnya adalah sebuah konsolidasi taktis dan strategis untuk menanggapi, mewadahi, dan mengakomodasi apa yang merupakan kehendak umum, kebutuhan publik, dan aspirasi masyarakat secara baik dan benar. Kemudian pada gilirannya diterjemahkan dan dijabarkan oleh Polri secara institusional dan profesional sebagaimana konstruksi dan substansi program dan kegiatan Polri yang dilaksanakan berdasarkan konstitusi dan  peraturan perundang-undangan lainnya.

Pemaknaan keberadaan kepemimpinan baru di satker dan satwil Polri terhadap konsolidasi Polri merupakan salah satu penanda dan pemakna bahwa sedang berlangsung konsolidasi dan tengah terjadi reformasi Polri. Kualitas kepemimpinan dan kualitas kinerja pemimpin satker dan satwil Polri secara normatif sudah semakin mencerminkan intisari dari Polri yang profesional, moderen, dan terpercaya (ProMoTer). Kualitas ini secara normatif semakin berproses tumbuh dan tambah berarti ketika kualitas ini menjadi membudaya dan melembaga secara praktik nyata di kalangan Polri. Program menuju Polri yang Promoter dari Kapolri Tito Karnavian merupakan jabaran lanjutan dan aksi nyata dari Program Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK. Beberapa lembaga riset dan survey nasional dan internasional yang bersifat independen dan kredibel telah menyampaikan hasil sejumlah riset dan survey lembaga masing-masing mengenai pendapat dan penilaian publik terhadap kinerja Polri dan hasil ProMoTer Polri. Sebagaimana disampaikan oleh sejumlah lembaga tersebut yang kemudian diberitakan oleh sejumlah media, ada beberapa indikator positif dengan parameter terukur yang menjadi perspektif pemikiran. Hasilnya menyatakan bahwa institusi Polri beserta jajarannya mendapat peningkatan dukungan dan kepercayaan masyarakat terhadap Polri secara signifikan. Masyarakat semakin merasakan hasil penyelenggaraan konsolidasi dan reformasi pemeliharaan keamanan nasional dan ketertiban umum ; konsolidasi dan reformasi penegakan hukum dan keadilan ; konsolidasi dan reformasi perlindungan dan pelayanan masyarakat. Masyarakat juga mulai dan sedang merasakan dinamika proses dan kemanfaatan dari Polri yang ProMoTer.

Salah satu faktor yang mempengaruhi dan menentukan kualitas dan kapasitas personil Polri adalah perihal pendidikan dan pelatihan Polri. Pendidikan dan pelatihan konteks Polri secara institusional ditangani dan diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri. Agenda dan kebijakan reformasi Polri berbasis pada sejauh mana visi dan doktrin Lemdiklat Polri memandang dan sekaligus menampung aspirasi reformasi dalam segenap sistem penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di Lemdiklat Polri secara utuh, memadai, dan menyeluruh. Selanjutnya, sejauh mana pula, personil Polri yang mengikuti pendidikan dan pelatihan Polri memandang keberadaan lembaga beserta sistem pendidikan dan pelatihan Polri dan melaksanakannya dalam rangka pelaksanaan revolusi mental personil dan peningkatan reformasi institusional Polri. Lemdiklat Polri sejak dahulu memiliki konsep pemikiran dan perencanaan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri.

Paradigma dan metodologi yang baru, mulai menampak dan menumbuh secara signifikan ketika Lemdiklat Polri dipimpin saat itu Komjen Pol. Budi Gunawan (Akpol 1983). Jenderal Pol. Purn. Prof. Dr. Budi Gunawan merupakan seorang jenderal polisi dengan kapasitas pemikir intelektual, konseptor perencana dan pelaksana handal, pemimpin yang memiliki relasi, jaringan, dan akses yang luas dan memadai, memiliki reputasi kepemimpinan dan kualitas kematangan dan ketahanan yang paripurna. Budi Gunawan pernah menjadi ADC Presiden Kelima RI Hj. Megawati Soekarnoputri sejak dalam kedudukan sebagai Wakil Presiden RI. Budi Gunawan pernah menjabat tiga kali jabatan dengan pangkat bintang satu (Brigjen), selanjutnya tiga kali jabatan dengan posisi bintang dua (Irjen), kemudian dua kali jabatan dengan posisi bintang tiga (Komjen), yaitu Kalemdiklat Polri dan Wakapolri. Kini merupakan pejabat tinggi negara sebagai Kepala BIN-RI dengan pangkal terakhir Jenderal penuh (bintang empat). Paradigma dan metodologi dalam Lemdiklat Polri yang telah dirintis, dibangun, dan dikawal oleh Budi Gunawan, selanjutnya diteruskan oleh Kepala Lemdiklat Polri berikut, yaitu Komjen Pol. Syafruddin, Akpol 1985 (kini Menteri PAN-RB). Kemudian diteruskan oleh Kepala Lemdiklat Polri selanjutnya, yaitu Komjen Pol. Moechgiyarto (peraih Adhi Makayasa Akpol 1986). Semoga paradigma dan metodologi ini dapat ditingkatkan dan dimaknai oleh Kepala Lemdiklat Polri sekarang Komjen Pol. Unggung Cahyono (Akpol 1985).

Kapolri Tito Karnavian dalam Kata Sambutan saat peringatan atau perayaan HUT Bhayangkara tahun 2017 dan 2018, mengutip hasil riset dan survey dari sejumlah lembaga bertaraf nasional dan internasional yang sangat independen dan kredibel. Kapolri Tito Karnavian sekaligus melaporkannya dalam Kata Sambutan di hadapan Presiden RI Jokowi, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, pimpinan lembaga-lembaga negara, dan tamu undangan hadirin. Intinya adalah : bahwa Institusi Polri beserta jajarannya berhasil melakukan reformasi secara mendasar dan berarti, dan hasil reformasi Polri mengalami kemajuan pesat dan signifikan, yang pada gilirannya mendapat apresiasi, dukungan, dan kepercayaan publik.

Hasil ini merupakan refleksi atau gambaran nyata dari prestasi kepemimpinan puncak Polri dan kepemimpinan satker dan satwil Polri beserta seluruh staf dan anggota. Ada kualitas dan integritas kepemimpinan yang berbasis pada keteladanan. Ada revolusi mental dan transformasi kultural yang bertumpu pada pembaruan. Kehadiran kualitas personal kepemimpinan satker dan satwil Polri memiliki korelasi positif dengan keberadaan kapasitas kelembagaan Polri menuju dan mewujudkan ProMoTer. Agenda pergantian kepemimpinan dan pengisian jabatan penting dan strategis di sejumlah satker dan satwil Polri pada dasarnya diletakkan dan dirangkaikan dalam semangat konsolidasi dan reformasi Polri. Demikian juga kebijakan mutasi dan promosi pemimpin satker dan satwil yang berlangsung sebelum ini dan baru-baru ini.

Seketika Wakil Kapolri (Wakapolri) Komjen Pol. Syafruddin diangkat dan dilantik oleh Presiden RI Jokowi menjadi Menteri PAN-RB, maka Kapolri Tito Karnavian segera dengan tanggap, sigap, cepat, dan tepat melakukan pergantian dan pengisian posisi Wakapolri dan sejumlah posisi lainnya. Beberapa hari sebelumnya, Kapolri Tito Karnavian melakukan juga pergantian dan pengisian sejumlah jabatan kepemimpinan satker dan satwil melalui mutasi dan promosi jabatan beberapa pejabat utama mabes Polri dan Kapolda. Kepala Bareskrim (Kabareskrim) Polri Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto diangkat menjadi Wakapolri. Ari Dono Sukmanto adalah perwira tinggi (pati) bintang tiga (Komjen) dan Akpol 1985. Ari Dono Sukmanto telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti), dan pernah menjabat kasatker/PJU dan kasatwil/Kapolres dan Kapolda. Karir jabatan Ari Dono Sukmanto dengan spesialisasi reserse tergolong cemerlang. Profesionalitas dan integritas Ari Dono Sukmanto semakin menonjol ketika dari posisi Wakil Kabareskrim Polri (Wakabareskrim) diangkat menjadi Kabareskrim Polri untuk mengawal penegakan hukum dan keadilan. Pangkat bintang satu (Brigjen) diraih saat menjabat Direktur Tipidum Bareskrim Polri dan Kapolda Sulteng. Bintang dua (Irjen) saat menjadi staf ahli Kapolri dan Wakabareskrim Polri.

Penulis yang sudah kenal baik dan lama, bahkan sering berdiskusi dengan Ari Dono Sukmanto, berpendapat bahwa tipikal figur Ari Dono Sukmanto sederhana, bersahaja, teduh, tenang, tidak ambisius, tidak bermanufer negatif dan tidak bergerilya negatif, tidak memiliki motif tersembunyi dan misi agenda lain, amat merah putih, loyal tegak lurus, memiliki program dan konsep yang melekat dan menyatu dengan pimpinan Polri dan Negara. Meskipun berlatarbelakang reserse namun Ari Dono Sukmanto mampu melakukan fungsi-fungsi konsolidasi internal dan pembinaan staf serta mendampingi dan membantu pemimpin sehingga kepemimpinan dan kinerja Kapolri Tito Karnavian akan terbantu dengan aman, lancar, dan nyaman. Kapolri Tito Karnavian sungguh tepat memilih dan mengangkat Ari Dono Sukmanto menjadi Wakapolri.

Asisten Kapolri Bidang SDM (As SDM Kapolri) Irjen Pol. Arief Sulistyanto diangkat menjadi Kabareskrim Polri. Arief Sulistyanto adalah perwira tinggi bintang dua (Irjen), Akpol 1987, dan sebentar lagi menyandang bintang tiga (Komjen) dengan jabatan baru ini. Arief Sulistyanto telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti), dan pernah menjabat kepala satuan kerja (kasatker/PJU) dan kepala satuan wilayah (kasatwil). Arief Sulistyanto merupakan figur yang menjadi the rising star Akpol 1987 selain Kapolri Tito Karnavian.

Figur Kapolri Tito Karnavian sejak semula dan jauh sebelum ini sudah menjadi bintang utama yang meraih Adhi Makayasa dan berprestasi gemilang dan mengharumkan Polri dan Negara. Jalan jabatan Arief Sulistyanto berbasis dan berlatangbelakang reserse namun memahami dan menguasai juga bidang SDM, staf (spri/sekpri), kewilayahan, operasi, lapangan, dan perencanaan. Kemampuan profesionalitas dan kematangan integritas serta kekuatan intelektualitas Arief Sulistyanto telah tumbuh berkembang sejak semula. Kapasitas dan kualitas bertambah menampak ketika menjabat Kapolda Kalbar dan As SDM Kapolri. Selain beberapa Kapolda Kalbar lainnya yang menjabat sebelum Arief Sulistyanto, namun Polda Kalbar tergolong berprestasi dan berwibawa saat dipimpin Arief Sulistyanto. Kapolda Kalbar yang fenomenal dan monumental adalah Arief Sulistyanto.

Penulis sudah kenal baik dan lama dengan Arief Sulistyanto, lagi pula sering berdiskusi lama secara informal dan intelektual. Bahkan Arief Sulistyanto secara terbuka dan dengan baik, pernah beberapa kali mengundang penulis untuk mengunjungi dan menghadiri sejumlah kegiatan Polri yang berkaitan dengan agenda SDM Polri. Penulis sebagai mantan Tim Perumus UU Polri Di Pansus DPR-RI dan yang mendukung sepenuhnya reformasi Polri, mungkin sengaja diundang untuk mengikuti dan menyaksikan langsung dialog dan pemikiran sekaligus program dan kegiatan Arief Sulistyanto dalam mereformasi SDM Polri dengan paradigma dan konsep baru. Arief Sulistyanto memperkenalkan penulis kepada beberapa perwira tinggi staf SDM dan pimpinan penyelenggara kegiatan, sembari mempersilakan penulis duduk berdampingan bersama Arief Sulistyanto di deretan meja dan kursi pimpinan di depan. Tak terbantahkan lagi bahwa Arief Sulistyanto selain beberapa As SDM Kapolri sebelumnya adalah merupakan As SDM Kapolri yang intelektual, profesional, dan kredibel. Juga memiliki dan menguasai konsep secara matang, jelas, terencana, terarah, terukur, terutama dalam hal pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Polri yang unggul dan kompetitif berbasis reformatif.

Arief Sulistyanto adalah figur sederhana, tenang, berani, tegas, cerdas, teguh, konsisten, taat azas, “kaku”, “dingin”, tidak kompromistis, tidak bermanufer negatif dan tidak bergerilya negatif, amat merah putih, loyal tegak lurus, memiliki program dan konsep yang melekat dan menyatu dengan pimpinan Polri dan Negara. Salah satu wajah penampakan dari berhasil-tidaknya dan berprestasi-tidaknya Polri terletak di satker Bareskrim Polri dan jajaran satuan reskrim. Konsolidasi dan reformasi sistem penegakan hukum dan keadilan yang sebelum ini dan selama ini relatif sudah tertata, dipastikan bahwa selanjutnya kualitasnya akan ditingkatkan oleh Arief Sulistyanto.

Kapolri Tito Karnavian telah menunjuk dan mengangkat figur yang tepat untuk mengabdi di jabatan yang tepat dalam rangka mengawal dan menjalankan penegakan hukum dan keadilan.  Kapolri Tito Karnavian tentu sudah tahu persis dan hafal betul rekam jejak dan sepak terjang Arief Sulistyanto yang mumpuni untuk menjabat Kabareskrim Polri. Apalagi keduanya sama-sama Akpol 1987.

Setidaknya ada tiga perwira tinggi Polri yang memiliki NRP muda (tahun kelahiran muda yaitu tahun 1965) lAkpol 1987, antara lain : Arief Sulistyanto, Agung Budi Maryoto (mantan Kapolda Sumsel, Kakor Lantas Polri, Kapolda Kalsel, kini menjabat Kapolda Jabar), Lucky Hermawan (kini Kapolda Jatim, sebelumnya menjabat Wakil Kepala Baintelkam Polri), dan lain-lain. Agung Budi Maryoto dan Lucky Hermawan dalam beberapa pertimbangan pada dasarnya termasuk the rising star lulusan Akpol tahun 1987 bersama Arief Sulistyanto.

Ada sejumlah jabatan Polri yang baru-baru ini mengalami pergantian dan pengisian. Ada beberapa kasatker (pejabat utama/staf mabes Polri) dan beberapa kasatwil (Kapolda) yang terkena mutasi dan promosi jabatan. Jiwa dan semangat pergantian dan pengisian ini pada dasarnya berbasis pada penguatan institusi Polri dan pemantapan kepemimpinan puncak Polri serta berorientasi pada peningkatan dan perluasan konsolidasi dan reformasi pemeliharaan keamanan nasional dan ketertiban umum ; konsolidasi dan reformasi penegakan hukum dan keadilan yang profesional dan akuntabel ; konsolidasi dan reformasi perlindungan publik dan pelayanan masyarakat. Di antaranya, antara lain : Brigjen Pol. Agus Andrianto (Akpol 1989) menjadi Kapolda Sumut (tipe A lama). Kombes Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto (Akpol 1993) menjadi Wakapolda Sumut untuk mendampingi dan membantu Agus Andrianto.

Dalam sejarah kepolisian khususnya Polda Sumut, Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto memecahkan rekor dan mematahkan mitos mengenai jalur jabatan dan jenjang kepangkatan kepemimpinan Polda Sumut. Agus Andrianto masih dalam masa jabatan Wakapolda Sumut langsung dipromosikan menjadi Kapolda Sumut (bintang dua/Irjen). Mardiaz Kusin Dwihananto juga masih dalam posisi jabatan berpangkat Kombes mantap yang dipromosikan menjadi Wakapolda Sumut (bintang satu/Brigjen). Biasanya Kapolda Sumut sejak bertipe A selalu dijabat oleh perwira tinggi yang sudah duluan sebelumnya menyandang bintang dua (Irjen) dan setidaknya pernah menjabat sebelumnya sebagai Kapolda tipe B.  Hanya Edi Sunarno (Akpol 1974) yang masih dalam masa jabatan Wakapolda Metro Jaya saat itu dengan pangkat Brigjen, dan tidak pernah sebelumnya menjabat Kapolda, langsung dipromosikan ketika itu menjadi Kapolda Sumut, di sekitar tahun 2002 atau 2003. Demikian juga untuk jabatan Wakapolda Sumut, biasanya dijabat oleh perwira tinggi yang sebelumnya telah berbintang satu (Brigjen).

Hanya Komjen Pol. Purn. Syafruddin yang saat itu masih berpangkat Kombes mantap (kini Menteri PAN-RB). Syafruddin setelah selesai menjadi ADC Wakil Presiden Jusuf Kalla, langsung dipromosikan menjadi Wakapolda Sumut. Tentu dan pasti ada pertimbangan taktis dan strategis dari pimpinan Polri (Kapolri) untuk menempatkan Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto menjadi Kapolda dan Wakapolda Sumut.

Penulis juga sudah kenal baik dan lama, bahkan sering berdiskusi hangat dan dinamis dengan Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto. Figur Agus Andrianto tergolong solider, berkomitmen, berani, tegas, keras, tertib, teguh, tidak kenal kompromi. Sesungguhnya masih ada lagi selain Agus Andrianto yang menjadi the rising star Akpol 1989.

Ada Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Brigjen Pol. Ahmad Dofiri (peraih Adhi Makayasa Akpol 1989), dan sudah empat kali menempati jabatan bintang satu (Brigjen). Selanjutnya ada mantan Deputi Kepala BIN dan Kapolda Lampung Irjen Pol. Suntana (Wakabaintelkam Polri yang baru). Suntana adalah Akpol 1988 B/1989).

Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto tergolong merah putih, loyal tegak lurus, memiliki program dan konsep yang melekat dan menyatu dengan pimpinan Polri dan Negara. Keduanya sudah lama berkarir dan bertugas di wilayah hukum Polda Sumut sejak perwira pertama dengan spesialisasi reserse. Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti). Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto sangat memahami dan menguasai situasi dan kondisi lapangan, permasalahan, dan tantangan wilayah Sumut, juga memiliki banyak relasi dan jaringan luas.

Mardiaz Kusin Dwihananto yang lama bertugas di Polda Sumut dan pernah menjadi Kapolres Nias, Kapolres Madina, Kapolrestabes Medan, merupakan figur pertama Akpol 1993 yang menjadi Wakapolda apalagi bertipe A lama. Bahkan Mardiaz Kusin Dwihananto sudah sering mengikuti sekolah pendidikan, pelatihan, dan kursus di luar negeri (di beberapa negara sahabat).

Kapolda Kepulauan Riau (Kepri, tipe A baru) yang baru adalah Irjen Pol. Andap Budhi Revianto (Akpol 1988 B). Dengan promosi ini, Andap Budhi Revianto dinilai berhasil memimpin dan mengamankan Polda Sultra (tipe B) dan Polda Maluku (tipe A baru) sebagai Kapolda. Karakteristik kewilayahan Sultra apalagi Maluku secara geografi sama dengan Kepri yaitu wilayah perbatasan dan kepulauan. Andap Budhi telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan internal dan eksternal Polri (PTIK, Sespimmen, Lemhanas RI), dan meraih pangkat bintang satu (Brigjen) saat menjadi salah seorang pejabat struktural Mabes Polri dan Kapolda Sultra. Sedangkan bintang dua (Irjen) diraih saat menjabat Kapolda Maluku.

Kapolda Banten (tipe B) yang baru adalah Brigjen Pol. Teddy Minahasa Putra (Akpol 1993), dan lama berkarir di satuan lalulintas. Teddy Minahasa Putra merupakan Akpol 1993 yang pertama meraih bintang satu (Brigjen) dengan menjadi pejabat struktural di lingkungan sekretariat Wakil Presiden RI. Selanjutnya menjabat Kepala Biro Paminal Divisi Propam Polri, dan kini Kapolda Banten. Teddy Minahasa Putra yang juga mantan ADC Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menjadi Akpol 1993 yang pertama menjadi Kapolda. Wilayah Banten merupakan penyanggah dan penopang DKI Jakarta Raya sebagai ibukota RI. Teddy Minahasa Putra telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan internal dan eksternal Polri (PTIK, Sespimmen, Lemhanas RI). Andap Budi Revianto dan Teddy Minahasa Putra tergolong tipikal berani, bernyali, tegas, merah putih, memiliki jaringan kuat dan akses luas, serta loyal membangun institusi di satuan kerja dan satuan wilayah penugasan. Dan juga memiliki program dan konsep yang memperkuat basis kerja dan kepemimpinan. Kapolda Jatim (tipe A lama) yang baru adalah Irjen Pol. Lucky Hermawan (Akpol tahun 1987). Polda Jatim merupakan wilayah hukum yang memiliki anggota Polri terbanyak di antara seluruh Polda di Indonesia. Leveling Polda Jatim selain merupakan tipe A lama, juga merupakan gugusan wilayah strategis dari segi keluasan wilayah, kepadatan penduduk, jumlah daerah otonom, perbatasan dan penyanggah antara Indonesia bagian tengah dengan Indonesia bagian Timur, dan strategis pula dari segi sosiologi politik dan sosiologi budaya. Meskipun biasanya Kapolda Jatim dijabat perwira tinggi berpangkat bintang dua (Irjen) dan sebelumnya pernah menjadi Kapolda.

Walaupun juga Lucky Hermawan sebelum ini belum pernah menjadi Kapolda, namun pengalaman yang berlatarbelakang intelijen pada dasarnya merupakan modal dasar dan sisi potensial untuk menjadi Kapolda Jatim. Apalagi sebelum ini sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Keamanan (Wakabaintelkam) Polri, Lucky Hermawan tentu dan pasti memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai situasi kondisi lapangan, permasalahan, dan tantangan wilayah Jatim. Lucky Hermawan pada dasarnya memiliki perspektif dan intuisi intelijen dan keamanan yang utuh, memadai, dan menyeluruh untuk memimpin dan mengamankan Jatim. Lucky Hermawan akan didampingi dan dibantu oleh Brigjen Pol. M. Iqbal yang diangkat menjadi Wakapolda Jatim. M. Iqbal (Akpol 1991) telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti).

Penulis juga sudah kenal baik dan lama dengan M. Iqbal, dan jika berdiskusi maka M. Iqbal tergolong moderat, akomodatif, hangat, dan terbuka. Iqbal memiliki kemampuan membangun relasi dan jaringan yang luas serta menumbuhkan komunikasi dan sosialisasi yang mumpuni. Tipikal figur yang adaptif, cerdas, visioner, juga seorang konseptor. Iqbal yang pernah menjadi Kapolrestabes Surabaya tentu dan pasti dapat membantu kepemimpinan Lucky Hermawan. Keduanya merah putih, loyal tegak lurus, memiliki program dan konsep yang melekat dan menyatu dengan pimpinan Polri dan Negara.

Kapolda Riau (tipe A baru) yang baru adalah Brigjen Pol. Widodo Eko Prihastopo (sebelum ini Wakapolda Jatim, Akpol 1986). Widodo Eko Prihastopo menjadi perwira tinggi yang menyandang bintang dua (Irjen) dengan posisi Kapolda Riau. Promosi ini dipandang sebagai wujud kebijakan Pimpinan Polri yang menilai Eko Widodo Prihastopo berhasil dan berprestasi sebelum ini khususnya selama menjabat Wakapolda Jatim. Konsolidasi organisasi dan personalia Polri melalui kaderisasi dan regenerasi sedang berproses secara sistematis dan bertahap.

Ada ruang jabatan yang masih ditempati perwira tinggi Polri angkatan senior yaitu Akpol 1984, 1985, dan 1986. Sejumlah perwira tinggi Polri yang satu angkatan dengan Eko Widodo Prihastopo, Akpol 1986, ada yang menjadi Pejabat Polri terutama Kapolda, misalnya : Kapolda Sumbar Irjen Pol. Fakhrizal, Kapolda Kalbar Irjen Pol. Didi Haryono, Kapolda Bengkulu Brigjen Pol. Coki Manurung, Kapolda Gorontalo Brigjen Pol. Rachmad Fudail, Kapolda Sulbar Brigjen Pol. Baharuddin Djafar, dan Kapolda Kaltara Brigjen Pol. Indrajit. Bahkan Akpol 1984 ada yang menjabat Kapolda dalam rangka perkuatan institusi dan kepemimpinan Polri. Ada Kapolda Jateng Irjen Pol. Condro Kirono dan Kapolda Sulut Irjen Pol. Bambang Waskito. Kemudian Akpol 1985, yaitu Kapolda Sumsel Irjen Pol. Zukarnain Adinegara, Kapolda Sulsel Irjen Pol. Umar Septono, dan Kapolda NTT Irjen Pol. Raja Erizman. Penunjukkan dan pengangkatan Eko Widodo Prihastopo pada dasarnya tentu karena berdasarkan argumen matang dan pertimbangan strategis dalam rangka menjaga, mengawal, dan mengamankan wilayah Riau. Eko Widodo Prihastopo sebelumnya berkarir di bidang lalulintas dan logistik, dan  telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti).

Kapolda Lampung (tipe A baru) yang baru adalah Brigjen Pol. Purwadi Arianto (sebelum ini Wakapolda Metro Jaya). Wilayah Lampung selain Polda dengan tipe A baru (dipimpin Kapolda dengan pangkat bintang dua/Irjen), juga merupakan wilayah perbatasan atau penyanggah antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa. Purwadi Arianto yang merupakan Akpol 1988 B adalah perwira reserse, dan telah lulus mengikuti semua sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti). Posisi sebagai Kapolda tipe A akan menyandang bintang dua (Irjen).

Kapolda Kalsel (tipe A baru) yang baru adalah Irjen Pol. Yazid Fanani, yang sebelum ini pernah menjabat Kapolda Jambi dan menjadi Staf Ahli Kepala Badan Intelijen Negara (BIN)-RI dengan pangkat bintang dua (Irjen). Kalsel merupakan wilayah yang berpenduduk banyak meski keluasan wilayahnya tidak seperti wilayah Provinsi Kaltim, Kalbar, dan Kaltim. Sehingga wilayahnya tergolong padat penduduk. Yazid Fanani adalah Akpol 1988 B, dan berkarir di bidang reserse dan intelijen. Yazid Fanani telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti).

Penulis juga kenal baik dan lama dengan Yazid Fanani dan Purwadi Arianto. Keduanya merupakan tipikal figur yang tidak mau menampilkan diri dan tidak terlalu suka menonjolkan pencitraan. Namun menjadi terasa dekat dan semakin terbuka, hangat, dinamis, dan komunikatif jika sudah bertemu dan berdiskusi secara mendalam.

Kapolda Papua (tipe A lama) yang baru adalah Irjen Pol. Martuani Sormin. Pernah menjadi Kapolda Papua Barat (tipe B) dengan pangkat Brigjen saat itu. Polda Papua yang merupakan tipe A membawahi wilayah Papua yang secara sosiologi politik, sosiologi ekonomi, sosiologi budaya memiliki posisi strategis dan menentukan. Provinsi Tanah Papua selain merupakan gugusan  yang strategis secara geostrategis politik, sosial, ekonomi, budaya, maka Tanah Papua juga menjadi wilayah perbatasan yang diperhitungkan oleh masyarakat global dan dunia internasional.

Dengan demikian harus senantiasa ditumbuhkan dan diselenggarakan pendekatan kemanusiaan, kebudayaan, keadaban, kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran. Pendekatan ini mesti selalu dengan semangat kultural dan dialogis dalam suasana persahabatan dan persaudaraan sejati. Di awal tahun 2000-an, penulis sebagai Anggota Parlemen (DPR-RI) bersama sejumlah kecil dan dalam jumlah sangat terbatas Anggota Parlemen RI diundang khusus untuk menghadiri sejumlah pertemuan dan diskusi strategis di beberapa institusi kelembagaan dan beberapa wilayah di Amerika Serikat.

Dalam sebuah pertemuan tertutup dan diskusi terbatas di salah satu gedung pertemuan di Kongres (khususnya Badan Perwakilan/DPR) Amerika Serikat, pernah terjadi dialog dinamis. Ketika itu, sempat bersitegang karena terjadi diskusi keras bahkan perdebatan mendalam. Ada seorang Anggota Kongres yang sudah terlalu jauh mengintervensi dan mencampuri kedaulatan bangsa dan kepentingan nasional RI serta keutuhan wilayah NKRI. Bahkan terkesan dan terasa betul seperti mengatur urusan domestik dalam negeri NKRI ketika membahas perihal Papua.

Perspektif pemikiran Anggota Kongres tersebut kenyataannya hanya merupakan pendapat pribadi dan hanya aspirasi yang tidak argumentatif, tidak akurat, juga tidak obyektif. Perihal ini semakin menggambarkan posisi Tanah Papua yang penting, strategis, dan menentukan. Pengangkatan dan penempatan Martuani Sormin menjadi Kapolda Papua pada gilirannya sungguh tepat dan efektif apabila dikaitkan dengan kualitas kepemimpinan, kinerja, pengalaman, rekam jejak, dan kematangan yang dimiliki Martuani Sormin. Tipikal figur Martuani Sormin merupakan sosok jawaban terhadap situasi dan kondisi kewilayahan, lapangan, permasalahan, dan tantangan Polda Papua.

Martuani Sormin harus senantiasa melakukan pendekatan kebersamaan, kemanusiaan, kebudayaan, keadaban, dan keadilan dengan semangat gotongroyong, kultural, dan dialogis dalam suasana persahabatan, persaudaraan, dan perdamaian.

Penulis mengenal dekat, dan ketika berdiskusi, Martuani Sormin pada dasarnya melakukan analisis situasi dan kondisi lapangan dan perkiraan keadaan kewilayahan berdasarkan perspektif dan intuisi politik strategis, intelijen keamanan, dan dinamika sosial ekonomi. Martuani Sormin telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti). Berpangkat bintang dua (Irjen) saat menjabat Kadiv Propam Polri.

Kapolda Maluku (tipe A baru) yang baru adalah Irjen Pol. Royke Lumowa. Perwira tinggi bintang dua (Irjen) ini adalah Akpol 1987 yang sudah berprestasi dan bersinar terang dalam menunaikan tugas dan tanggungjawab selama ini dalam kapasitas sebagai anggota, staf, kasatker, dan kasatwil. Royke Lumowa terakhir menjadi Kakor Lantas Polri yang dijabat dalam masa waktu yang relatif lama.

Dalam masa jabatan ini, Royke Lumowo yang telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti), sudah berhasil baik dan bagus melanjutkan prestasi dan keberhasilan para Kakor Lantas Polri sebelumnya. Royke Lumowa juga berhasil meletakkan dan membangun perspektif dan paradigma Polri khususnya Korlantas Polri dan jajarannya yang berbasis reformatif dan berorientasi pada percepatan pelayanan yang relatif maksimun dan berkualitas, pada kedisplinan dan kesederhanaan.

Penyempurnaan konsolidasi kepemimpinan Polri dan pemaknaan reformasi Polri terhadap program nawacita, ditandai juga dengan adanya pergantian dan pengisian sejumlah kasatker (pejabat utama dan staf) mabes Polri. “Pesan” yang terbangun dalam konteks pergantian dan pengisian ini adalah bersentuhan pada bergeraknya agenda kaderisasi dan regenerasi di dalam Polri. Kepala Divisi Propam (Kadiv Propam) Polri yang baru adalah Brigjen Pol. Listyo Sigit Prabowo (Akpol 1991, dan akan menyandang bintang dua/Irjen). Listyo Sigit Prabowo memecahkan rekor dalam beberapa hal. Gelombang pertama dalam jumlah terbatas dari Akpol 1991 yang menyandang pangkat Kombes ketika diangkat menjadi Kapolresta Surakarta (Solo).

Listyo Sigit Prabowo merupakan Akpol 1991 yang pertama menjadi perwira tinggi bintang satu (Brigjen) dan sekaligus yang pertama menjadi Kapolda tipe B (Banten). Promosi menjadi Kadiv Propam Polri semakin melengkapi predikat Listyo Sigit Prabowo sebagai Akpol 1991 yang pertama juga menyandang bintang dua (Irjen) dan dalam usia termuda (49 tahun). Lagi pula yang pertama menjabat pejabat utama strategis di mabes Polri. Posisi Kadiv Propam Polri pernah dijabat Komjen Pol. Purn. Oegroseno (mantan Kalemdiklat Polri, Kabaharkam Polri, Wakapolri), Jenderal Pol. Purn. Budi Gunawan (mantan Kalemdiklat Polri, Wakapolri, kini Kepala BIN-RI), Komjen Pol. Purn. Syafruddin (mantan Kalemdiklat Polri, Wakapolri, kini Menteri PAN-RB). Listyo Sigit Prabowo telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan internal dan eksternal Polri (PTIK, Sespimmen, Lemhanas RI).

Penulis sudah kenal baik dan lama dengan Listyo Sigit Prabowo sejak berpangkat AKP (Kapoksek Tambora). Sering berdiskusi secara intens. Listyo Sigit Prabowo berlatarbelakang karir di bidang reserse dan intelijen. Prestasi cemerlang dan keberhasilan gemilang Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolda adalah memimpin dan mengamankan serta membangun stabilitas politik dan keamanan Banten. Listyo Sigit Prabowo tergolong pendiam, tenang, berkomitmen, merah putih, loyal tegak lurus, memiliki program dan konsep yang melekat dan menyatu dengan pimpinan Polri dan Negara, sekaligus mau dan mampu menterjemahkan dan menjabarkan visi, misi, dan program pimpinan dalam bentuk kegiatan aksi dan kinerja nyata.

Listyo Sigit Prabowo menjabat Kapolresta Surakarta bersamaan saat Presiden RI Jokowi masih menjabat Walikota Surakarta. Pimpinan Negara dan pimpinan Polri mempercayakan dan mengangkat Listyo Sigit Prabowo menjadi ADC Presiden RI Jokowi, setelah menjabat Direktur Reskrimum Polda Sultra.

Kakor Lantas Polri yang baru adalah Brigjen Pol. Refdi Andri (Akpol 1987). Pejabat Kakor Lantas Polri sudah tiga diisi oleh perwira tinggi Akpol 1987 (Irjen Pol. Agung Budi Maryoto, Irjen Pol. Royke Lumowa, dan kini Brigjen Pol. Refdi Andri). Satker Korlantas Polri berbeda posisi dan leveling dengan satker polisi lalulintas Polri ketika dalam format Direktorat Lalulintas Polri. Perubahan ini merupakan bagian dari agenda dan sistem perencanaan institusi Polri yang melakukan reorganisasi dan restrukturisasi Polri yang berorientasi pada percepatan dan peningkatan pelayanan publik oleh Polri. Refdi Andri harus bertekad dan mesti mampu secara profesional dan maksimal membangun dan mengorganisasikan Korlantas Polri dan jajarannya untuk memaknai dan mewujudkan maksud dan tujuan dari agenda reorganisasi dan restrukturisasi satker Korlantas. Refdi Andri telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti), dan akan menyandang pangkat bintang dua (Irjen) dengan posisi sebagai Kakor Lantas Polri. As SDM Kapolri yang baru adalah Brigjen Pol. Eko Indra Heri (Akpol 1988 A). Sebelum ini menjabat Kepala Biro Pembinaan Karir (Karo Binkar) SDM Polri. Figur yang berkarir lama di bidang SDM apalagi sebelum ini menjadi pejabat struktural di satker SDM Polri. Promosi Eko Indra Heri dapat dipandang sebagai titik tolak selanjutnya untuk meneruskan dan meningkatkan konsolidasi dan reformasi SDM Polri yang telah diletakkan dan diselenggarakan Arief Sulistyanto sebagai As SDM sebelumnya yang merupakan atasan langsung Eko Indra Heri. Figur Eko Indra Heri dinilai dapat mengetahui, memahami, dan melanjuti semangat dan kultur pembaruan dan penataan SDM yang sedang berlangsung baik.

Transisi kaderisasi dan regenerasi juga berlangsung dengan menyentuh sejumlah jabatan Mabes Polri. Irjen Pol. Boy Rafli Amar (mantan Kapolda Banten dan Kapolda Papua, Akpol 1988 A) diangkat menjadi Wakalemdiklat Polri menggantikan Irjen Pol. Sigit Sudarmanto (peraih Adhi Makayasa Akpol 1985). Kemudian Irjen Pol. Suntana (mantan Deputi Kepala BIN dan Kapolda Lampung, Akpol 1988 B/1989) diangkat menjadi Wakabaintelkam Polri menggantikan Irjen Pol. Lucky Hermawan (Akpol 1987). Kehadiran sejumlah perwira tinggi Akpol angkatan muda yang menempati pos jabatan tertentu sebagai pejabat utama Polri semakin mengkonfirmasi tengah berjalannya kaderisasi dan regenerasi serta sedang berprosesnya pembangunan dan penguatan institusi dan kepemimpinan Polri. Perwira tinggi Akpol angkatan muda inipun secara personal memiliki reputasi cemerlang dan rekam jejak teruji baik serta pemikiran visioner. Berkualifikasi pemikir intelektual, perencana handal, pelaku profesional, konseptor yang bekerja dalam kesunyian tanpa penonjolan dan pencitraan diri personal. Ada Aslog Kapolri Irjen Pol. Asep Suhendar (Akpol 1987), Ketua PTIK/Ketua STIK Lemdiklat Polri Polri Irjen Pol. Remigius Sigid Tri Hardjanto (Akpol 1987), Asrena Kapolri Irjen Pol. Gatot Eddy Pramono (Akpol 1988 A), Gubernur Akpol Lemdiklat Polri Irjen Pol. Rycko Amelza Dahniel (peraih Adhi Makayasa Akpol 1988 B). Ada juga Akpol angkatan yang lebih muda lagi yang dapat dikategorikan berkelas pemimpin, dan sedang menjadi pejabat struktural Mabes Polri. Ada Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Pol. Herry Rudolf Nahak (peraih Adhi Makayasa Akpol 1990) dan Karo Jianstra SDM Polri Brigjen Pol. Wahyu Widada (peraih Adhi Makayasa Akpol 1991). Sudah mulai ada juga lagi Akpol 1988 B yang menjadi pejabat utama mabes Polri, misalnya Dankor Brimob Polri Irjen Pol. Rudy Sufahriadi. Transisi kaderisasi dan regenerasi senantiasa terjaga baik dan berjalan lancar meskipun masih ada kebijakan penugasan dan penempatan terhadap beberapa perwira tinggi dari Akpol angkatan senior untuk menjabat posisi tertentu di dalam maupun di luar lingkungan Mabes Polri. Ada Akpol 1984, yaitu : Irwasum Polri Komjen Pol. Putut Eko Bayu Seno, Kepala Baintelkam Polri Komjen Pol. Lutfi Lubihanto, Kepala Sespim Lemdiklat Polri Irjen Pol. Wahyu Indra Pramugari (peraih Adhi Makayasa Akpol 1984), Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Setyo Wasisto, Kakor Binmas Baharkam Polri Irjen Pol. Arkian Lubis, Kakor Sabhara Baharkam Polri Irjen Pol. Sudjarno.

Kemudian ada Akpol 1985, yaitu : Kepala Lemdiklat Polri Komjen Pol. Unggung Cahyono, Asops Kapolri Irjen Pol. Deden Juhara, Kadiv TI Polri Irjen Pol. Prasta Wahyu Hidayat, Kadiv Hubinter Polri Irjen Pol. Saiful Maltha. Selanjutnya ada juga Akpol 1986, yaitu : Kepala Baharkam Polri Komjen Pol. Moechgiyarto (peraih Adhi Makayasa Akpol 1986), Kakor Polairud Baharkam Polri Irjen Pol. Chairul Noor Alamsyah. Kepemimpinan lulusan Akpol angkatan muda dan berusia muda semakin menampak dalam tataran beberapa Kapolda. Misalnya : Akpol 1987, yaitu : Kapolda Aceh Irjen Pol. Rio Septianda Djambak, Kapolda Jambi Irjen Pol. Muchlis A.S, Kapolda Jabar Irjen Pol. Agung Budi Maryoto, Kapolda Jatim Irjen Pol. Lucky Hermawan, Kapolda Papua Irjen Pol. Martuani Sormin, Kapolda Maluku Irjen Pol. Royke Lumowa, Kapolda NTB Irjen Pol. Achmat Juri, Kapolda Sulteng Brigjen Pol. Ermi Widyatno, Kapolda Babel Brigjen Pol. Syaiful Zachri.

Selanjutnya Akpol 1988 A, yaitu : Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Idham Azis, Kapolda Bali Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose. Kemudian Akpol 1988 B, yaitu : Kapolda Kaltim Irjen Pol. Priyo Widyanto, Kapolda Kepri Irjen Pol. Andap Budhi Revianto, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Anang Revandoko, Kapolda Kalsel Irjen Pol. Yazid Fanani, Kapolda Lampung Brigjen Pol. Purwadi Arianto (akan menyandang Irjen), Kapolda Papua Barat Irjen Pol. Rudolf Albert Rodja, Kapolda Maluku Utara Brigjen Pol. Naufal Yahya. Selanjutnya Akpol 1989, yaitu : Kapolda Sumut Brigjen Pol. Agus Andrianto (akan menyandang Irjen), Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Pol. Ahmad Dofiri, Kapolda Sultra Brigjen Pol. Iriyanto.

Sementara ini, baru ada satu orang Akpol 1990 yang pernah menjabat Kapolda, yakni mantan Kapolda NTB Irjen Pol. Firli (kini menjabat Deputi Penindakan KPK-RI). Sedangkan Akpol 1991, ada satu orang yang pernah menjabat Kapolda, yakni Kapolda Banten Brigjen Pol. Listyo Sigit Prabowo (kini menjabat Kadiv Propam Polri dan akan menyandang Irjen). Akpol 1992 belum ada yang menjabat Kapolda tetapi ada satu orang Akpol 1993 yang menjabat Kapolda, yakni Kapolda Banten Brigjen Pol. Teddy Minahasa Putra. Ada sejumlah Akpol 1992 yang sudah menjadi perwira tinggi bintang satu (Brigjen), antara lain Wakapolda Metro Jaya Wahyu Hadiningrat, Brigjen Pol. Suharyono (peraih Adhi Makayasa Akpol 1992), dan lain-lain.

Formasi kepemimpinan Polri melalui kehadiran sejumlah perwira tinggi Polri yang menjadi pejabat struktural di dalam institusi Polri pada hakekatnya akan semakin mempertegas dan memperjelas posisi dan arah konsolidasi dan reformasi institusi Polri. Konsolidasi dan reformasi ini menjadi penting dan relevan menguati dan memaknai kepemimpinan Polri dalam mengorganisasikan institusi Polri.

Konsolidasi mesti senantiasa berbasis dan sekaligus berorientasi pada kelanjutan reformasi Polri beserta seluruh sistem dan pranata Polri. Reformasi Polri tidak berdiri sendiri melainkan terikat dan terkait dengan berbagai faktor taktis dan strategis. Keterikatan reformasi Polri terletak utamanya pada peningkatan dan percepatan kualitas tugas dan tanggungjawab Polri untuk Indonesia Raya. Kualitas ini menjadi kekurangan makna bahkan kehilangan makna sama sekali apabila tanpa diawali dan tanpa disertai dengan konsolidasi dan reformasi yang hakiki. Konsolidasi dan reformasi Polri merupakan prasyarat standar dan persyaratan mutlak jikalau mewujudkan dan memastikan apakah kualitas sistem dan pranata Polri telah bergerak dan berjalan baik, efektif, dan maksimum ? atau sebaliknya justru belum bergerak dan tidak berjalan. Makna reformasi Polri menjadi penting ketika Indonesia Raya melalui Pemerintah Nasional beserta jajarannya menyelenggarakan pemerintahan dan menjalankan berbagai program Nawacita untuk menyeterahkan dan memakmurkan rakyat. Tipikal figur dan rekam jejak serta bobot kinerja para pejabat Polri yang baru-baru ini ditugaskan di jabatan Polri merupakan dan menjadi salah satu tanggapan langsung untuk menjawab tuntutan dan kebutuhan konsolidasi dan reformasi Polri.

Penulis pernah diundang oleh Mabes Polri beberapa kali untuk menjadi Pembicara/Penceramah atau semacam Dosen Tamu di Sekolah Staf Dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) dan di Sekolah Staf Dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Lemdiklat Polri. Rata-rata dan sebagian besar di antara perwira tinggi yang baru-baru ini dan sebelum ini dipromosikan menjadi pejabat utama mabes Polri dan Kapolda adalah merupakan perwira siswa (pasis) yang mengikuti pendidikan reguler Sespimmen dan Sespimti saat itu ketika Penulis diundang juga menjadi Penceramah (Dosen Tamu) di kegiatan yang sama. Misalnya saat kali pertama Penulis diundang di Sespimmen awal tahun 2000-an.

Tugas pengabdian Polri sebagai Bhayangkara Negara semakin maju pesat dan tumbuh berkembang untuk masa kini dan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia  yang berideologi dan berfalsafah Pancasila berdasarkan konstitusi UUD 1945 dalam suasana dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.(*)

Penulis Adalah: Mantan Tim Perumus UU Polri dan Anggota Komisi Politik & Hukum DPR-RI


Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait