loading...

Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

loading...

Petani Padi Gogo di Sosa Butuh Perhatian Pemerintah

Tim Redaksi: Jumat, 02 Februari 2018 | 12:26 WIB


Sejumlah petani padi gogo atau padi darat yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Sosa Kabupaten Padang Lawas (Palas), terlihat mulai manggotil atau memotong batang padi gogo yang sudah menguning untuk dipanen.

Informasi dihimpun wartawan di salah satu lahan padi gogo milik petani, mereka melakukan pola pertanaman padi gogo yang dilakukan masih secara tradisional dan belum mendapatkan pembinaan dari pemerintah setempat.

Suparman Daulay, satu petani padi gogo di Desa Ampolu, kepada wartawan Jumat (2/2/2018) menyebutkan, ia bersama 80 orang kepala keluarga, pada sekitar pertengahan bulan september 2017 lalu, melakukan tanam serempak padi gogo di atas lahan seluas 80 hektare.

"Dalam setahun, padi gogo ini hanya bisa sekali saja dilakukan pertanaman dan panennya. Karena sistem dan pola pertanaman padi gogo yang kami lakukan masih secara tradisional atau sistem hauma," lanjutnya.

Dikatakannya, jenis benih padi gogo yang dipergunakan petani merupakan varietas hauma tradisional, yang biasa digunakan petani tradisional di sini, yang hasilnya menjadi beras kuku balam.

"Biasanya, dalam satu hektare luas padi gogo, hasil panennya bisa mencapai sebanyak 150 kaleng. 1 kaleng biasanya seberat 10 kilogram. Artinya, dalam sehektare luas pertanaman padi gogo, maksimal hasil panennya sebanyak 1,5 ton saja. Hasil panen padi hanya untuk konsumsi keluarga, tidak dijual," terangnya.

Minimnya hasil panen padi gogo petani di sini, tambahnya, karena memang para petani memperlakukan tanaman padi gogo secara tradisional dan pemupukan seadanya.

"Kami pernah menyampaikan persoalan ini, langsung kepada Pak Menteri Pertanian Amran Saleh pada saat melakukan kunjungan kerja ke sini, pada tahun 2016 yang lalu," ungkapnya.

"Menurut keterangan dari Pak Menteri, hasil panen dari pertanian padi gogo ini bisa mencapai sebanyak 6 sampai 7 ton perhektare, bila tanaman padi gogo diperlakukan secara baik," katanya.

Diakui Suparman, mereka mengelola pertanian padi gogo ini tidak dengan sistem kelompok tani yang didaftarkan ke instansi pemerintah. "Kami hanya petani biasa yang belum membuat kelompok tani. Tapi, kami akan buat kelompok tani, agar sistem pertanian padi gogo kami ke depannya bisa mendapatkan perhatian dan pembinaan dari pemerintah," imbuhnya. (Pls-1)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html