Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Kisruh Pemindahan Dokter RSU Gunungsitoli Ke Puskesmas Menuai Pro dan Kontra

Tim Redaksi: Sabtu, 17 Februari 2018 | 16:51 WIB


Terkait dengan pemindahan Dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungsitoli yakni dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) dr. Fatolosa Pardomuan Panjaitan, Sp.OG ke UPT Puskesmas Botomuzoi berdasarkan surat perintah bernomor 824.4/15/BKD/2018 menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Anggota DPRD Kabupaten Nias Berian Mei Laoli kepada www.metro-online.co terkait dengan pemindahan dokter dari RSUD Gunungsitoli menyampaikan bahwa sanksi wajib diterapkan guna perbaikan RSUD Gunungsitoli sendiri.

"Saya mendukung langkah tegas untuk merubah mental oknum para dokter kita yg melalaikan tugas dan tanggung jawabnya," tegas Berian, Sabtu (17/2/2018).

Menurutnya, banyak pasien yang tak tertolong karena kelalaian dan diabaikan oleh oknum para dokter. Maka demi perbaikan RSUD Gunungsitoli maka ketegasanlah solusinya. Maka pasti banyak orang tidak suka dan wajar hal ini terjadi. 

"Bila RSU Gunungsitoli hancur maka orang pertama yang disalahkan dan dibully siapa? Pasti pemimpinnya, pasti banyak cerita diluar sana percuma dia pemimpin, tidak becus, tidak bisa mengatur, tidak disiplin, tidak berani memberikan sanksi, oalah dunia terbalik harusnya oknum dokter kita harus sadar diri dan intropeksi diri semua adalah pengabdian diri kita bagi masyarakat, bukan sombong, dan tinggi hati karena merasa dibutuhkan karena spesialis, banyak pasien jadi korban dan diabaikan karena berpraktek dirumahnya dan bekerja ditempat lain," cetusnya.

Dikatakannya, lebih baik tidak ada dokter bila makan hati dan melukai perasaan pasien, mereka digaji sebagai PNS, TTP 10 jt/bulan, Pembagian Jasa BPJS, dll.

"Inilah Akibatnya apabila melalaikan tugas dan tanggung jawab sebagai sumpah profesi, inilah Akibatnya apabila merasa sebagai oknum Dokter spesialis bahwa merasa dibutuhkan, inilah akibatnya merasa tinggi hati bila di ingatkan," tutur Berian.

Dia menyampaikan pengalaman pribadinya dirumah sakit apabila diatas Jam 02.00/14.00 WIB maka jangan harap ada dokter Spesialis dirumah Sakit, karena Sibuk berpraktek dirumah dan berpraktek dirumah sakit lain untuk mencari uang, sesungguhnya mereka itu Adalah PNS Kabupaten Nias yang siap ditugaskan dimana pun untuk pelayanan masyarakat. 

Lebih lanjut Berian sampaikan pengalamannya, mengantar istri di RSU Gunungsitoli karena sakit dan harus diopname dan belum diketahui diagnosanya.

"Kami datang jam 3 sore, dokter spesialisnya baru datang jam 9 malam sementara jadwalnya pada saat itu, lalu saya menelusuri keberadaan dokter spesialisnya oalah sedang bertugas membuka praktek dirumahnya dan melalaikan tugas utamanya," ujarnya.

"Ketika saya membawa anak saya yang sakit di praktek salah satu dokter spesialis, dia sampaikan kepada saya bahwa untuk tes darah silahkan datang dirumah sakit Si A, apabila dirumah sakit umum kan semua kita sudah tau pelayanannya seperti apa, tidak bagus, sementara beliau status Dokter PNS milik RSU Gunungsitoli," lanjutnya.

Kemudian, pernah dirinya mengantar bayi berumur 2 tahun di RSU yang hampir kehilangan nyawa akibat demam tinggi, dia melihat jadwal dokter pada saat itu bahwa ada dokter spesialis yang jaga tapi kenyataannya tak ada, sibuk dokter umum konsultasi kepada dokter spesialis bagaimana petunjuk penanganannya padahal si bayi sudah sempat tidak bernafas.

Masih kata Anggota DPRD Nias yang dikenal vocal memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil, Istri teman dia mau melahirkan padahal sudah didiagnosa pecah air ketuban.

"Namun baru dioperasi besok harinya sehingga si bayi tidak tertolong, sungguh disesali sekali," ucap Berian.

"Jujur saya sangat geram melihat kesombongan para oknum Dokter spesialis kita, ini tak boleh dibiarkan wajib ditindak tegas," harapnya.

Sementara Ketua Bara Saro Kabupaten Nias Paulus Sohahau Halawa justru sangat menyesali sikap Bupati Nias atas pemindahan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) dr. Fatolosa Pardomuan Panjaitan, Sp.OG ke UPT Puskesmas Botomuzoi tersebut.

Paulus Sohahau yang dikenal juga sebagai aktifis ini menyampaikan bahwa bau busuk Rumah Sakit Umum Gunungsitoli mulai merasuki pola pikir masyarakat beberapa tindakan tidak terpuji pimpinan mencoreng nama Kabupaten Nias. 

Ditambahkannya bahwa arogansi kepemimpinan ini akan fatal endingnya, dia berharap Bupati Nias lebih bijak dalam mengambil setiap keputusan, jika tidak maka akan berakibat fatal dan yang menjadi korban adalah masyarakat. 

Sementara Bupati Nias Drs. Sekhiatulo Laoli dan dr. Fatolosa Pardomuan Panjaitan, Sp.OG terkait kisruh ini belum berhasil ditemui karena hari libur. Namun pantauan wartawan di Media Sosial terkait pemindahan dokter ini pembahasannya kian memanas. (Marinus Lase)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait