Kapoldasu Perintahkan Anggotanya Usut Kasus Ini, KAUMi Deliserdang Sebut Intimidasi Pesantren Tahfiz Qur'an Gerakan Intoleran

Sebarkan:

Massa mendemo Tahfiz Qur'an Siti Hajar, Desa Bandar Baru , Kecamatan Sibolangit, Deliserdang.
DELISERDANG | Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol RZ Putra Panca Simanjuntak mengatensi kasus demo sekelompok orang yang melakukan aksi demo terhadap Pesantren Tahfiz Qur'an, Siti Hajar yang terletak di Dusun V Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang beberapa hari lalu.


Kapolda menyebutkan sudah memerintahkan anggotanya untuk mengusut hal ini dan menjaga kekondusifan wilayah tersebut. Atensi Kapolda dilaksankan oleh anggotanya dengan berjaga di lokasi Pesantren Tahfiz Qur' an Siti Hajar.

Sementara itu, dengan kejadian ini pihak pengelola Tahfiz Qur'an ustadz Fahri mengaku saat masih merasa khawatir kalau kalau sejumlah orang yang diduga massa suruhan pihak tertentu itu melakukan kembali intimidasi pada pesantren yang dikelolanya sejak 6 tahun lalu.

Karena akibat aksi demo sekelompok orang mengatasnamakan warga sekitar  itu, membuat sejumlah santri yang belajar di Tahfiz menjadi trauma dan ketakutan.

Pengurus DPD Kesatuan Umat Islam Indonesia ( KAUMI) Deliserdang, Ustadz Azzanul Sautty bersama Ade Lesmana SH, Akhyar Idris Sagala SH selaku Tim Pembela Ulama dan Aktivis Sumut 
dalam siaran persnya dilansir metro-Online.co, Minggu 18/9/2/2022 mengatakan, bahwa pasca kejadian intimidasi sekelompok orang yang mendemo pesantren Tahfiz Qur' an Siti Hajar itu, KAUMI Deliserdang bersama Aliansi Umat Islam dan PA 212 merasa prihatin dan pihaknya juga sudah turun langsung ke Tahfiz bersama 100 an anggota untuk melihat langsung seperti apa situasi dilapangan. 

Berdasarkan pertemuan tadi malam, KAUMI dan Aliansi Umat Islam Sumut meminta izin untuk membuat pernyataan sikap didampingi pihak aparat Kepolisian yang ada di Lokasi.

Bahwa adanya tindakan sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat yang menolak berdirinya rumah Tahfiz Siti Hajar di Sibolangit Sumatera Utara adalah merupakan tindakan Intoleransi.

Bahwa tindakan Intoleransi tersebut dilakukan sembari juga mengeluarkan ancaman berupa pembangkaran dan pembunuhan jika pondok Tahfiz Siti Hajar tetap beroperasi. Tentu saja hal ini sangat membuat pengurus dan anak-anak Pondok Tahfiz menjadi khawatir dan cemas.

Sesungguhnya negara telah menjamin setiap warga negaranya untuk bebas memeluk dan beribadah menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajarannya, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 28E ayat 1 UUD 1945.

Bahwa kemudian adanya tindakan intimidasi berupa ancaman pembakaran dan pembunuhan yang disampaikan dalam orasi demo yang dilakukan sekelompok orang tersebut juga telah melanggar Pasal 368 ayat 1 KUHP.

Maka untuk,  Aliansi Umat Islam Sumatera Utara menyampaikan sikap sebagai berikut, meminta kepada Kapolda Sumatera Utara , Kapolrestabes Medan untuk segera mengusut dan menangkap dalang dibalik aksi demo tersebut. Meminta kepada Bupati Deliserdang, Kapolda Sumatera Utara, Kapolrestabes Medan, DPRD Deliserdang, untuk memberikan perlindungan hukum terhadap pengelola dan anak-anak Pondok Tahfiz Siti Hajar

Azzanul Sauty juga tidak sepakat dengan pernyataan Ketua MUI Deliserdang di sejumlah media yang menyebutkan Bahasa mendiskriminasikan ini tidak tepat, terkesan, seolah olah kehadiran pesantren mendiskreditkan Hotel yang berdekatan dengan lokasi Tahfiz,  sangat tidak nyambung,  Azzanul berharap jangan ada pemutar balikan fakta dalam hal ini, yang ada berdasarkan investigasi KAUMI DS & Aliansi Umat Islam Sumut, santri pondok pesantren Tahfiz merasa terancam, karena teror yang dilakukan pihak pendemo.

" Mereka berbahasa sebagaimana di video demo jika dalam 2x 24 jam kegiatan santri tetap berlanjut maka mereka akan usir & bakar tempat tersebut ini sangat tidak pantas! seyogyanya demo mereka apakah sudah ada surat pemberitahuan? Apakah ada pengawalan dari pihak aparat terkait disana? Apakah sudah izin masuk ke wilayah institusi pendidikan rumah tahfizh hingga se enaknya nyelonong rame rame bawa massa , spanduk, poster, bahkan MIC TOA pengeras suara yang menurut pihak pesantren sampai ada 4 buah??? Ada apa??," Ujar Azzanul," sebut Azzanul.

Azzanul menambahkan, Bahasa Ketua MUI tentang per ekonomian ummat? Umat yang mana? Setau kami d' hill itu hotel , pemiliknya pun bukan orang pribumi situ, menurut info masyarakat sekitar dan pihak pesantren sejak 2016 pun mereka sering membuat teror agar tempat tahfizh ini jangan ada.

Dan...harusnya pihak MUI  DS, FKUB DS wajib turun langsung investigasi jangan membuat statemen ngawur yang terkesan memutarbalik fakta yang sebenarnya.

" Fakta ..bahwa pihak pendemo tidak menginginkan ada pondok tahfizh...kenapa? Ada apa? Siapa yang dirugikan ? Toh itu adalah tanah milik pribadi, rumah pribadi, yang pemiliknya ingin mendapatkan keberkahan dari Allah dengan membangun rumah tahfizh...kalo pihak hotel mau buat pengembangan ? Silahkan?? Cari tempat lain....karena pemilik tanah gak mau. Lantas menggunakan cara yang tidak beradab??? Mencoba menteror , mengusir, merusak , mengancam bunuh dll...ini yang harus diketahui khalayak jangan ditutup tutupi," ucapnya.

Bupati Deliserdang Ashari Tambunan saat dimintai tanggapan terkait persoalan ini mengatakan kalau Pemkab Deliserdang saat ini sudah melakukan langkah langkah melakukan konsolidasi dengan pihak terkait.

" Tentunya persoalan ini sudah kita bahas dengan pihak pihak yang bersangkutan dan nantinya akan kita undang untuk menyelesaikan masalah ini," sebut Bupati.

Dandim 0204 DS Letkol CZI Yoga Febrianto SH MSi, mengatakan sudah memerintahkan Anggota di Koramil Sibolangit untuk membantu pengamanan di lokasi Tahfiz.

" Sudah anggota kita juga kita perintahkan membantu menjaga kekondusifan di lokasi bersama pihak Kepolisian," pungkas Dandim.( Wan)   

  


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini