Terdakwa Lim Kwek Liong Akhirnya Mengakui Dirinya di Singapura Bertepatan Tanggal Penerbitan Akta

Sebarkan:

 


Giliran David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong (kemeja putih) dimintai keterangannya sebagai terdakwa di PN Medan. (MOL/ROBS)



MEDAN | Terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong akhirnya mengaku bahwa dirinya berada di Singapura bertepatan dengan tanggal penerbitan Akta Nomor 8 dan 9 tentang Perjanjian Kesepakatan.


Yakni akta seolah terdakwa bersama yang lainnya sesama ahli waris Tjong Tjin Boen telah sepakat seolah dia ditunjuk sebagai orang yang mengurusi seluruh harta benda peninggalan almarhum ayah mereka, Tjong Tjin Boen.


Hal itu diungkapkan terdakwa saat dicecar JPU dari Kejari Medan Chandra Naibaho, Selasa (23/11/2021) di Cakra 6 PN Medan.


Fakta terungkap di persidangan, bahwa  Lim Kwek Liong dan putra putri Tjong Tjin Boen lainnya pada Juli 2008 lalu bertepatan penanggalan akta yang diterbitkan oknum notaris Fujianto Ngariawan (masih berstatus DPO-red), berada di 'Kota Singa'.


Karena saat itu almarhum pengusaha sukses asal Kota Medan tersebut diopname di RS Mount Elizabeth Singapore.  Hakim ketua Dominggus Silaban pun melanjutkan persidangan pekan depan.  


Tidak ke Notaris


Usai persidangan JPU Chandra Naibaho mengatakan bahwa konstruksi hukum pidana menempatkan keterangan palsu dalam bukti autentik sebagaimana didakwakan kepada David alias  Lim Kwek Liong, dinilai sudah terang benderang.


Sebaliknya juga masalah laporan dari terlapor Jong Nam Liong yang mengatakan di Akta tertanggal 21 Juli 2008 itu seolah benar adanya, patut diragukan kebenarannya. 


Sebab mereka para ahli waris dari mendiang Tjong Tjin Boen termasuk terdakwa, tidak ada datang ke hadapan oknum notaris Fujianto Ngariawan untuk membuat kesepakatan bersama maupun menandatangani akta tersebut.


"Saat itu mereka sedang berada di Singapura membesuk ayahnya dan pada 5 September 2008 kemudian meninggal dunia. Di situlah unsur akta palsunya. 


Karena pada 21 Juli 2008 mereka para ahli waris berada di Singapura dan terdakwa di persidangan barusan juga membenarkan hal itu. Alat bukti lainnya berupa paspor almarhum bahwasanya pada tanggal 30 Juni 2008 sudah berangkat ke Singapura," urainya.


Saat ditanya tentang keterangan saksi lainnya, Rismawati mengatakan dirinya ikut bersama oknum notaris membuat akta itu dan dibacakan di depan para ahli waris, imbuhnya, telah terbantahkan. Sebab pada tanggal penerbitan akta dimaksud, ahli waris atas nama Samsudin juga tidak ada di rumah itu.


Kejanggalan


Sementara itu pengacara korban, Longser Sihombing mengungkapkan aroma kejanggalan  seputar penerbitan dan penanggalan Akta Nomor 8 tersebut.


"Ada kejanggalan dari kronologis kasus. Tidak secara sistematis ruang dan waktu antara proses persiapan, perencanaan, pembuatan, hingga penandatanganan minuta akta tanggal 21 Juli 2008. 


Karena sentral masalahnya adalah bagaimana proses dan mekanisme pembuatan akta itu oleh oknum notaris Fujianto Ngariawan, yang kita tahu sendiri bahwa yang bersangkutan kini berstatus DPO di Polrestabes Medan," tegasnya.


Fakta hukum yang tidak terbantahkan bahwa para saksi korban yang merupakan ahli waris berada di Singapura untuk merawat orang tua mereka, Tjong Tjin Boen di rumah sakit.


"Jadi keberadaan mereka di 21 Juli 2008 lalu benar-benar di Singapura dalam rangka membesuk orang tua mereka Jong Tjin Boen yakni sejak 12 Juli 2008 hingga meninggal dunia di rumah sakit Mount Elizabeth dan jenazahnya dibawa kembali ke Medan pada bulan September 2008," sebutnya.


Selain itu Dr Hendri Sinaga selaku ahli kenotariatan pada persidangan sebelumnya juga telah menyampaikan pendapatnya. Bahwa pembuatan akta tersebut pada umumnya tidak sesuai prosedur. Karena dalam prosedur pembuatan akta para pihak harus datang ke kantor notaris," tandasnya. (ROBS/Rel)







Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini