Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Penjual Kartu E-Money di Pintu Gerbang KNIA Ganggu Pengendara

Tim Redaksi: Senin, 02 Maret 2020 | 15:33 WIB

DELISERDANG - Semenjak diberlakukannya pembayaran non tunai pada 1 Maret 2020 kemarin, sejumlah orang melakukan penjualan kartu (Gate-Tol) E-Money di pintu gerbang masuk Bandara Kualanamu Internasional Airport (KNIA) dengan harga bervariasi kepada pemilik kendaraan yang masuk ke kawasan bandara, Senin (2/3/2020).

Harga variasi tersebut artinya, ada yang membayar perdana dengan Mandiri E- Money sebesar 50 ribu rupiah dengan saldo 25 ribu rupiah, sedangkan dengan Perdana BCA 40 ribu rupiah dengan saldo perdana 20 ribu rupiah.

Kesempatan ini digunakan para penjual kartu E-Money untuk menjaring setiap pengendara yang masuk ke kawasan bandara melalui pintu gerbang masuk.

Akibat ulah mereka, sejumlah pengguna jasa bandara yang hendak masuk melalui pintu gerbang merasa terganggu dengan para penjual berbagai kartu baik E-Money, Brizzi dan lainnya, karena sesuka hati di pintu gerbang sehingga sebagian pengendara yang hendak masuk menjadi terhalang.

"Heran kita, para petugas terlihat tidak ada yang mengawasi mereka. Alhasil, dimanapun mereka bebas menjualkan tanpa mempedulikan yang lain," ujar Munil, salah seorang pengguna jasa.

Karena itu diharapkan pada petugas melakukan penertiban sehingga para penjual kartu dapat teratur dengan baik dan tidak mengganggu pengguna lainnya.

Memang, lanjutnya, mereka membantu warga lain yang tidak punya kartu, tetapi tidak seperti itu cara mereka jualannya.

"Istilah orang Medan seperti di pasar loak serabutan. Jadi harus teratur, sebab mereka berjualan di pintu gerbangnya bandara bertaraf international," pungkasnya.

Sementara, Junior Manager Airport Duty AP II Kualanamu Yasir Nainggolan yang dikonfirmasi menerangkan, keberadaan para penjual kartu baik dari Mandiri, BRI dan BCA, pasca setelah penerapan pembayaran parkir non tunai per 1 Maret 2020.

Menurutnya, mereka disitu sekaligus sosialisasi pada pengguna jasa. Yang belum punya kartu bisa dibeli sama mereka. Sebab kalau tidak punya kartu nanti tidak bisa keluar masuk dari bandara.

"Mereka berada selama seminggu dalam berjualan kartu," ujarnya.

"Terkait pengguna jasa merasa terganggu itu suatu bahan masukan bagi kami dan akan disampaikan kepada pimpinan. Sehingga akan dilakukan pengaturan lebih profesional sehingga tidak mengganggu pengguna yang lain," pungkasnya. (Wan)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html