Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Bawaslu Kota Medan: Panwascam yang Lolos Seleksi Didominasi Wajah Baru

Tim Redaksi: Minggu, 22 Desember 2019 | 22:08 WIB

MEDAN | Jajaran Bawaslu Kota Medan merasa kecewa. Pasalnya, hari ini, Minggu (22/12/2019) beredar pemberitaan miring dan sepihak terkait perekrutan Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) se-Kota Medan yang agendanya sudah selesai digelar dengan terbuka dan transparan.

“Menurut berita di media itu, ada kongkalikong sehingga Panwascam Kota Medan diisi wajah lama. Bahkan dituding, bahwa duduknya orang-orang lama ini sebagai bentuk senjata politik dari golongan tertentu. Ini kan sudah mencemarkan institusi. Apa bisa dibuktikan bahwa itu benar? Berita ini sungguh mencoreng wajah kami dan wajah Institusi Bawaslu,” ujar Muh Fadly SSos, Komisioner Bawaslu Kota Medan menanggapi berita yang beredar.

Padahal, lanjut Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga (PHL) itu, di berita tersebut sendiri jelas-jelas menyebutkan, bahwa dari 63 orang yang terpilih, ada 29 wajah lama. Artinya, ada 34 orang baru. Dengan angka tersebut, harusnya dapat dinilai bahwa lebih dari separoh yang lolos bukanlah wajah lama. “Kalau memang kongkalikong, harusnya semua diisi wajah lama. Atau setidaknya, jumlah wajah lama itu lebih banyak. Tapi faktanya kan, Panwas Kecamatan untuk Pilkada Kota Medan Tahun 2020 ini justru didominasi wajah baru,” sesalnya.

Dikatakannya, proses yang dilakukan Bawaslu Kota Medan dalam penjaringan Panwascam sudah sangat transparan. Diumumkan secara terang-terangan sampai ke seluruh kecamatan. Bahkan juga turut melibatkan masyarakat, yakni dengan mengakomodir kesempatan kepada warga Kota Medan untuk memberikan tanggapan kepada nama-nama yang dinyatakan lulus administrasi sebelumnya.

Harusnya, kata Fadly, kesempatan itu dapat digunakan masyarakat luas untuk memberikan masukan kepada Tim Pokja jika memang ada di antara nama-nama tersebut yang terindikasi bagian dari parpol, atau pun bagian dari timses. “Tapi ini kan tidak ada kami terima informasi-informasi itu. Media-media juga tidak ada meliput atau memberikan masukan. Harusnya di sesi itulah Tim Pokja diberi masukan. Lha, kenapa setelah kita tetapkan orang-orangnya, malah dimunculkan isu-isu yang tidak-tidak?” ketusnya.

Sementara itu, seorang komisioner Panwascam terpilih, Rustam juga mengaku terkejut dengan beredarnya berita miring sepihak itu. Katanya, dirinya sebagai calon terpilih sangat merasa tersinggung. Sebab dirinya adalah salah satu wajah lama.

“Saya mau tanya, memangnya ada regulasi yang melarang orang yang sudah pernah ikut sebagai panwascam untuk ikut lagi? Saya tegaskan, TIDAK ADA. Lalu, apakah salah saya yang memang punya back ground dan pengalaman dalam pengawasan ini ikut kembali? Justru kehadiran saya dan teman-teman lama yang terpilih itu, akan menguatkan pengawasan. Pengalaman kami kemarin akan membuat pengawasan kami di ajang kali ini semakin profesional dan kredibel,” ketusnya.

Pria yang juga berstatus sebagai jurnalis di salah satu koran harian terbitan Kota Medan itu mengatakan, jika memang ada kongkalikong yang terjadi antara Tim Pokja dengan mereka yang wajah-wajah lama, sudah tentu seluruh pejabat panwascam sebelumnya lolos dalam seleksi.

“Tahukah bahwa ada rekan kami justru kalah di tahapan administrasi? Selanjutnya ada juga yang tidak diluluskan pada tahap terakhir karena memang nilai ujian dan wawancaranya rendah? Saya sendiri kehilangan rekan dan sahabat saya di beberapa kecamatan. Saya senang nama saya lolos. Tapi saya juga sedih karena beberapa sahabat saya tidak lolos. Jadi tolong jangan giring opini miring kepada masyarakat. Kami tidak terima,” kesalnya.

Hal senada diamini Rizal Arifin Lubis Msi. Mantan Komisioner Panwascam Medan Marelan ini menilai ada pesanan dari pihak tertentu atas pemberitaan tersebut. “Kalau memang benar isi berita itu, harusnya saya orang lama ini terpilih. Tapi nyatanya saya tidak lolos. Dan banyak juga kawan-kawan pejabat lama yang tidak lolos. Semuanya berjalan dengan profesional kok,” ujar praktisi pendidikan ini.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Organisasi Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Provinsi Sumut, Lindung Pandiangan SE SH MH menyayangkan berita sepihak dan tak dikonfirmasi seperti itu bisa tayang di media online.

“Tahukah rekan-rekan bahwa Media Online ini sangat rentan dengan jeratan UU ITE? Harusnya setiap berita yang memojokkan, atau menuduh, wajib memberikan ruang jawab kepada yang dituduh. Kalau saya lihat dari berita itu, hanya Ketua Bawaslu Kota Medan yang diupayakan untuk dikonfirmasi. Itu pun belum berhasil. Tapi sudah ditayangkan. Hal-hal seperti ini yang berbahaya itu,” pungkasnya.(red)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html