[caption id="attachment_79287" align="aligncenter" width="531"]
Lokasi transaksi ini disebut pihak manajemen bukan otoritas kampus[/caption]
Kampus yang seharusnya merupakan lembaga pendidikan untuk menempah generasi penerus bangsa kini disusupi oleh para mafia narkoba atau oknum-oknum nakal yang hanya mementingkan dirinya ataupun kelompoknya saja.
Maraknya peredaran narkoba dalam wilayah kampus-kampus di Medan tampaknya luput dari perhatian polisi atau memang sengaja dibiarkan oleh aparat terkait.
Hasil informasi dan investigasi yang dilakukan wartawan membuktikan bahwa peredaran narkoba diduga di dalam lingkungan kampus itu ternyata sudah berlangsung cukup lama.
"Transaksinya di dalam lokasi kampus, tepatnya di pintu masuk kedua yang berderet berbagai sekretariat mahasiswa," ucap sumber yang enggan menyebutkan namanya.
Dijelaskannya, bahwa peredaran narkoba jenis sabu-sabu yang berada di lingkungan kampus berinisial 3 huruf itu diedarkan oleh alumni kampus tersebut.
"Yang pasti mereka sudah senior dan tidak kuliah lagi, namun tamat atau tidaknya mereka, saya tidak tahu," katanya.
Sumber menambahkan, bahwa pengedar narkoba sering nongkrong menunggu pasien sambil bermain judi kartu didepan sekretariatnya yang berada di lingkungan kampus.
"Kalo siang begini lokasi transaksinya dijadikan lapak judi kartu sambil nunggu pasien pembeli sabu. Lihat aja di sekitar sekretariat yang ada di kampus itu, sudah keliatan mereka asyik bermain judi kartu," terangnya.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh AI (24) warga Kecamatan Medan Kota. Dia mengatakan pembeli sabu banyak berasal dari luar kampus.
"Mungkin kalo beli sabu di dalam Kampus akan lebih aman dan tidak dicurigai," jelasnya.
Lebih lanjut, AI menyebutkan beberapa nama seperti RZ (menggunakan kaca mata) dan AN sebagai pengedar sabu yang berada di dalam kampus yang didominasi pria itu.
"Sudah tidak asing lagi nama tersebut bang, baik di kalangan mahasiswa maupun pemakai narkoba. Malah yang saya dengar bahwa yang memasukkannya adalah oknum aparat dan katanya sih sudah ada setoran rutin, makanya oknum aparat seakan menutup mata," ungkapnya.
Ditempat terpisah, BL, salah seorang mahasiswa di kampus itu mengatakan bahwa tak hanya kampusnya saja, tetapi kampus yang tak jauh dari kampusnya juga marak akan peredaran narkoba.
"Tapi di kampus itu tidak ada yang saya kenal. Tapi kalau di kampusku, Sekretariat mahasiswa yang dimanfaatkan oleh mantan mahasiswa untuk berjualan narkoba," tuturnya.
BL menceritakan, dirinya dulu pernah terjerumus sebagai pemakai narkoba. Dia mengungkapkan beberapa nama yang dikenal sebagai pengedar.
"Ada yang biasa dipanggil si Panjang, Katuo, Deni dan Boy. Sudah dikenal mereka di kampus ini," katanya.
Terpisah, Kapolsek Medan Kota Kompol Martuasah Tobing saat dikonfirmasi wartawan beberapa waktu lalu enggan memberi komentar terkait peredaran narkoba di wilayah hukumnya.
Dia mengatakan bahwa masalah peredaran narkoba di Kampus adalah merupakan tanggungjawab pihak Kampus. "Kalo kampus, silahkan ke kampus ya," katanya.
Sementara, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan akan menindaklanjuti informasi tersebut dan akan diberikan langsung ke Kapolrestabes Medan dan Ditresnarkoba Polda Sumut.
"Terima kasih informasinya, saya teruskan kepada kapolrestabes Medan dan Ditresnarkoba Polda untuk melakukan lidik dan pendalaman atas informasi tersebut," ujarnya.
Tak hanya itu, Rina juga menunjukkan keseriusannya dan mengatakan bahwa tidak ada toleransi terhadap pengedar narkoba yang telah merusak generasi bangsa ini, terutama yang telah mengedarkannya secara terang-terangan di dalam kampus.
"Sudah saya informasikan baik ke Polda maupun ke Polrestabes Medan, untuk ditindaklanjuti, terima kasih," tegasnya.
Kemudian, Staf Bagian Umum Kampus tadi, Aswan saat dikonfirmasi wartawan, Senin (22/5/2017) pagi mengatakan tidak mengetahui tentang adanya peredaran sabu di lingkungan kampus tersebut. Namun dirinya sangat berharap jika pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan.
"Kami tidak tahu adanya informasi itu karena kami pulang dari kampus sekira pukul 16.00 WIB, gak tahu juga kalau setelah kami pulang mereka melakukan transaksi," ujarnya.
Aswan juga menjelaskan lokasi sekretariat mahasiswa itu bukan merupakan otoritas kampus jadi tidak akan menyulitkan polisi untuk segera melakukan penggeledahan.
"Sekretariat itu tidak berada didalam otoritas kampus. Kami sangat setuju jika polisi melakukan penyelidikan tentang peredaran narkoba di sekretariat itu yang berada diluar otoritas kampus. Karena batas otoritas kampus hanya sebatas gerbang kedua," imbuhnya.
Perlu diketahui, maraknya peredaran narkoba di kampus tersebut juga dikuatkan dengan penangkapan narkoba jenis Ganja seberat 3 kg satu tahun lalu, tepatnya pada Minggu (19/6/2016).
Penyitaan 3 kilogram ganja itu terdiri atas 62 amplop ganja siap edar, satu plastik daun ganja yang sudah dicacah, dan satu bal daun ganja utuh dari seorang tersangka berinisial UM (21), mahasiswa semester IV Jurusan Geologi di kampus tersebut melalui penangkapan oleh mahasiswa lainnya yang tidak merasa suka dengan peredaran narkoba di kampus mereka.
Berdasarkan berita penangkapan tersebut, tersangka sempat memprovokasi teman-temannya yang lain ketika ingin di evakuasi pihak polisi.(tim)
Kampus yang seharusnya merupakan lembaga pendidikan untuk menempah generasi penerus bangsa kini disusupi oleh para mafia narkoba atau oknum-oknum nakal yang hanya mementingkan dirinya ataupun kelompoknya saja.
Maraknya peredaran narkoba dalam wilayah kampus-kampus di Medan tampaknya luput dari perhatian polisi atau memang sengaja dibiarkan oleh aparat terkait.
Hasil informasi dan investigasi yang dilakukan wartawan membuktikan bahwa peredaran narkoba diduga di dalam lingkungan kampus itu ternyata sudah berlangsung cukup lama.
"Transaksinya di dalam lokasi kampus, tepatnya di pintu masuk kedua yang berderet berbagai sekretariat mahasiswa," ucap sumber yang enggan menyebutkan namanya.
Dijelaskannya, bahwa peredaran narkoba jenis sabu-sabu yang berada di lingkungan kampus berinisial 3 huruf itu diedarkan oleh alumni kampus tersebut.
"Yang pasti mereka sudah senior dan tidak kuliah lagi, namun tamat atau tidaknya mereka, saya tidak tahu," katanya.
Sumber menambahkan, bahwa pengedar narkoba sering nongkrong menunggu pasien sambil bermain judi kartu didepan sekretariatnya yang berada di lingkungan kampus.
"Kalo siang begini lokasi transaksinya dijadikan lapak judi kartu sambil nunggu pasien pembeli sabu. Lihat aja di sekitar sekretariat yang ada di kampus itu, sudah keliatan mereka asyik bermain judi kartu," terangnya.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh AI (24) warga Kecamatan Medan Kota. Dia mengatakan pembeli sabu banyak berasal dari luar kampus.
"Mungkin kalo beli sabu di dalam Kampus akan lebih aman dan tidak dicurigai," jelasnya.
Lebih lanjut, AI menyebutkan beberapa nama seperti RZ (menggunakan kaca mata) dan AN sebagai pengedar sabu yang berada di dalam kampus yang didominasi pria itu.
"Sudah tidak asing lagi nama tersebut bang, baik di kalangan mahasiswa maupun pemakai narkoba. Malah yang saya dengar bahwa yang memasukkannya adalah oknum aparat dan katanya sih sudah ada setoran rutin, makanya oknum aparat seakan menutup mata," ungkapnya.
Ditempat terpisah, BL, salah seorang mahasiswa di kampus itu mengatakan bahwa tak hanya kampusnya saja, tetapi kampus yang tak jauh dari kampusnya juga marak akan peredaran narkoba.
"Tapi di kampus itu tidak ada yang saya kenal. Tapi kalau di kampusku, Sekretariat mahasiswa yang dimanfaatkan oleh mantan mahasiswa untuk berjualan narkoba," tuturnya.
BL menceritakan, dirinya dulu pernah terjerumus sebagai pemakai narkoba. Dia mengungkapkan beberapa nama yang dikenal sebagai pengedar.
"Ada yang biasa dipanggil si Panjang, Katuo, Deni dan Boy. Sudah dikenal mereka di kampus ini," katanya.
Terpisah, Kapolsek Medan Kota Kompol Martuasah Tobing saat dikonfirmasi wartawan beberapa waktu lalu enggan memberi komentar terkait peredaran narkoba di wilayah hukumnya.
Dia mengatakan bahwa masalah peredaran narkoba di Kampus adalah merupakan tanggungjawab pihak Kampus. "Kalo kampus, silahkan ke kampus ya," katanya.
Sementara, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan akan menindaklanjuti informasi tersebut dan akan diberikan langsung ke Kapolrestabes Medan dan Ditresnarkoba Polda Sumut.
"Terima kasih informasinya, saya teruskan kepada kapolrestabes Medan dan Ditresnarkoba Polda untuk melakukan lidik dan pendalaman atas informasi tersebut," ujarnya.
Tak hanya itu, Rina juga menunjukkan keseriusannya dan mengatakan bahwa tidak ada toleransi terhadap pengedar narkoba yang telah merusak generasi bangsa ini, terutama yang telah mengedarkannya secara terang-terangan di dalam kampus.
"Sudah saya informasikan baik ke Polda maupun ke Polrestabes Medan, untuk ditindaklanjuti, terima kasih," tegasnya.
Kemudian, Staf Bagian Umum Kampus tadi, Aswan saat dikonfirmasi wartawan, Senin (22/5/2017) pagi mengatakan tidak mengetahui tentang adanya peredaran sabu di lingkungan kampus tersebut. Namun dirinya sangat berharap jika pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan.
"Kami tidak tahu adanya informasi itu karena kami pulang dari kampus sekira pukul 16.00 WIB, gak tahu juga kalau setelah kami pulang mereka melakukan transaksi," ujarnya.
Aswan juga menjelaskan lokasi sekretariat mahasiswa itu bukan merupakan otoritas kampus jadi tidak akan menyulitkan polisi untuk segera melakukan penggeledahan.
"Sekretariat itu tidak berada didalam otoritas kampus. Kami sangat setuju jika polisi melakukan penyelidikan tentang peredaran narkoba di sekretariat itu yang berada diluar otoritas kampus. Karena batas otoritas kampus hanya sebatas gerbang kedua," imbuhnya.
Perlu diketahui, maraknya peredaran narkoba di kampus tersebut juga dikuatkan dengan penangkapan narkoba jenis Ganja seberat 3 kg satu tahun lalu, tepatnya pada Minggu (19/6/2016).
Penyitaan 3 kilogram ganja itu terdiri atas 62 amplop ganja siap edar, satu plastik daun ganja yang sudah dicacah, dan satu bal daun ganja utuh dari seorang tersangka berinisial UM (21), mahasiswa semester IV Jurusan Geologi di kampus tersebut melalui penangkapan oleh mahasiswa lainnya yang tidak merasa suka dengan peredaran narkoba di kampus mereka.
Berdasarkan berita penangkapan tersebut, tersangka sempat memprovokasi teman-temannya yang lain ketika ingin di evakuasi pihak polisi.(tim)
