-->
crossorigin="anonymous">

Rumah Hanyut, Ayah Enam Anak di Tapteng Berharap Didata sebagai Korban Banjir

Sebarkan:

Yasozanolo Zebua menunjukkan lokasi bekas rumahnya di Dusun II, Desa Muara Sibutuon, yang hilang diterjang banjir.(mol/yas).

TAPTENG | Dibalik bencana banjir yang melanda Dusun II, Desa Muara Sibutuon, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut), tahun lalu, masih tersimpan kisah pilu yang belum berakhir. 

Yasozanolo Zebua, 39, seorang petani sekaligus ayah dari enam anak, mengaku hingga kini belum pernah tercatat sebagai korban bencana, meski rumah beserta seluruh harta bendanya lenyap tersapu arus banjir saat bencana melanda tahun 2025 lalu. 

Dengan penuh harap, ia memohon agar Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui BPBD, Dinas Sosial, dan instansi terkait dapat membuka ruang verifikasi sehingga haknya dapat diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepada Metro-Online.co, Yasozanolo menceritakan musibah tersebut mengubah kehidupannya dalam sekejap. Rumah yang menjadi tempat berlindung bersama keenam anaknya musnah, sementara seluruh barang yang mereka miliki ikut hilang terbawa banjir.

"Rumah kami hanyut tanpa menyisakan apapun. Kami masih bersyukur karena Tuhan masih menyelamatkan nyawa kami. Beberapa hari kami bertahan tetapi keadaan semakin sulit. Harga kebutuhan pokok meningkat, persediaan terbatas dan kami sudah tidak memiliki tempat tinggal. Akhirnya saya memutuskan pindah sementara demi menyelamatkan anak-anak," tuturnya.

Yasozanolo juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadi orang tua tunggal sejak sang istri meninggal dunia beberapa tahun lalu. Sejak itu, ia berjuang sendiri menghidupi dan membesarkan enam anak di tengah keterbatasan ekonomi.

Ia menegaskan, keputusan meninggalkan kampung bukan untuk menghindari pendataan, melainkan karena situasi saat itu sudah tidak memungkinkan. Akses jalan terputus akibat longsor, kondisi desa belum pulih, dan tempat tinggalnya telah rata dengan tanah. Sebelum berpindah, ia mengaku telah berpamitan kepada suami Kepala Desa.

Beberapa waktu kemudian, setelah mendengar kondisi desa mulai membaik, Yasozanolo kembali. Saat itulah ia mengetahui sejumlah warga yang mengalami musibah serupa telah menerima bantuan, sedangkan namanya tidak tercantum dalam daftar penerima.

"Saya hanya berharap diperlakukan secara adil. Rumah saya juga hilang akibat banjir seperti rumah tetangga yang sudah menerima bantuan. Kalau memang kendalanya karena saya sempat pindah, saya berharap pemerintah dapat melihat kembali kondisi yang sebenarnya," katanya.

Harapan tersebut kini disampaikannya kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah agar dilakukan peninjauan dan pendataan berdasarkan fakta di lapangan sehingga dirinya memperoleh kepastian sebagai warga yang terdampak bencana.

Sebagai bagian dari upaya verifikasi, Metro-Online.co meninjau langsung lokasi bekas rumah Yasozanolo di Dusun II, Desa Muara Sibutuon bersama beliau, pada Selasa (14/7/2026). 

Di lokasi, bangunan rumah sudah tidak terlihat lagi. Area tersebut kini tertutup material pasir dan bebatuan yang terbawa arus banjir. Yang tersisa hanya sebagian pondasi belakang serta sepotong seng bekas sebagai jejak keberadaan rumah tersebut.

Untuk memperoleh informasi yang berimbang, Metro-Online.co telah menghubungi Pemerintah Desa Muara Sibutuon melalui pesan WhatsApp yang dikirim kepada suami Kepala Desa. Namun, sampai berita ini dipublikasikan belum ada tanggapan yang diberikan.

Sementara itu, Camat Sibabangun R Simanullang, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp menyatakan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Desa agar dilakukan pendataan terhadap Yasozanolo serta meneruskan informasi tersebut kepada BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah sesuai mekanisme yang berlaku. Camat juga mengimbau agar yang bersangkutan tetap berada di desa guna mempermudah proses tindak lanjut.

Selain kepada pemerintah kecamatan, Metro-Online.co juga telah menyampaikan identitas beserta kronologi kejadian kepada Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Tengah untuk memperoleh konfirmasi. Hingga berita ini dipublikasikan, tanggapan resmi dari kedua instansi tersebut masih dinantikan.

Peristiwa yang dialami Yasozanolo menjadi pengingat bahwa ketepatan pendataan pascabencana merupakan bagian penting dari upaya perlindungan masyarakat. Verifikasi yang menyeluruh berdasarkan kondisi riil di lapangan diharapkan dapat memastikan setiap warga yang benar-benar terdampak memperoleh kesempatan yang sama untuk diproses sesuai ketentuan, sehingga tidak ada korban yang terlewat dari pendataan. (YAS/REM)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini