![]() |
| Situasi sekolah MTs Negeri 5 Tapanuli Selatan saat jam belajar berlangsung. (MOL/Juanda). |
TAPANULI SELATAN | Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Tapanuli Selatan (Tapsel) menjadi sorotan, pasalnya sekolah yang dibawah naungan Kementerian Agama Wilayah Tapanuli Selatan itu dinilai sangat buruk dalam pelayanan administrasi.
MTs Negeri 5 Tapsel baru saja berdiri sendiri empat bulan yang sebelumnya sekolah tersebut adalah MTs Negeri 4 yang merupakan lokasi induk. Tentunya untuk menjadi MTs yang berdiri sendiri menuju status negeri tidaklah mudah banyak tantangan dan liku-liku yang hadapi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kemenag.co.id, sebelumnya Kasi Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Tapsel Fahrul Sanawi saat melakukan kunjungan ke MTs Negeri 5 Tapsel, Kamis (17/7/2025) dalam sambutannya, ada empat poin penting yang harus dijalankan oleh seluruh warga madrasah MTs Negeri 5 Tapsel.
Poin pertama dikatakan Fahrul yakni, menyelenggarakan proses pembelajaran yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, kedua, menjaga amanah pendidikan di MTsN 5 Tapsel yang baru berdiri, ketiga, Guru dan siswa senantiasa menjaga nama baik madrasah dan kelima, seluruh warga madrasah harus merawat dan mengembangkan MTsN ke arah yang lebih baik.
Namun ironisnya, 5 poin penting yang disampaikan Kasi Pendidikan Madrasah Fahrul Sanawi tersebut tidak diterapkan pihak sekolah MTs Negeri 5 Tapsel, pasalnya ada beberapa hal mendasar yang menjadi catatan buruk di MTs tersebut, yakni, buruknya pelayanan administrasi, tidak masuknya kepala sekolah Syakban Siregar, absennya tata usaha dan menghilangnya guru piket, sehingga menimbulkan citra buruk bagi MTs Negeri 5 yang baru 4 bulan berdiri itu.
Buruknya pelayanan administrasi sekolah MTsn Negeri 5 Tapsel ditambah lagi kepala sekolah Syakban Siregar tidak masuk, hal ini merupakan masalah serius yang dapat mengganggu proses pendidikan dan hak-hak siswa serta orang tua karena kepala sekolah bertanggung jawab penuh terhadap kelancaran pelaksanaan administrasi dan pengajaran di sekolahnya.
Pelayanan buruk tersebut dirasakan Junda salah satu delivery pengantar surat. Kepada metro-online.co Juanda menceritakan saat itu pada pukul 10.15, Senin (17/11/2025) ia sedang mengantarkan surat ke MTs Negeri 5 Tapsel yang beralamat di Desa Sinyior Kecamatan Angkola Selatan.
Ironisnya, kedatangan Juanda tidak disambut dengan baik oleh pihak sekolah, bahkan pihak sekolah disana melarang Juanda masuk menemui tata usaha, dengan alasan tidak diperbolehkan masuk.
"Pas waktu datang jam belajar saya bertanya ke guru yang kumpul di kantin sekolah. Permisi bu mau antar surat sapa ku, namun tanpa sebab guru-guru itu tidak mau menerima surat ku, seperti trauma melihat surat," ungkap Juanda, Senin (17/11/2025).
"Kemudian aku ke kantor tata usaha dan kantor guru disana saya dihadang tak boleh masuk dan surat yang yang saya antar mereka tak mau terima. Kemudian guru disana jawab tak boleh masuk karena kepala sekolah tak ada, baru besok masuk dan tata usaha sedang tidak ada," terang Juanda kepada metro-online.co
Kemudian, Juanda juga tidak melihat adanya guru piket yang jaga seperti sekolah pada umumnya. Merasa ada tanggungjawab Juanda pun tak menyerah disitu, ia kembali menanyakan kepada guru yang hadir disana kepada siapa surat yang ia antar diserahkan.
Namun, berharap mendapatkan jawaban tak seorang guru pun yang memberi tahu dan melayaninya dengan baik. merasa tak dihargai akhirnya Juanda pun meletakkan surat tersebut di salah satu meja dihadapan para sejumlah guru MTs Negeri 5 Tapsel tanpa ada teguran, sehingga surat yang di tuju untuk Kepala Sekolah MTs Negeri 5 Tapsel Syakban Siregar akhirnya terlantar padahal sudah ada arah dan tujuannya kemana.
Perilaku yang dicerminkan pihak sekolah MTs Negeri 5 Tapsel tersebut, mencerminkan banyaknya permasalahan yang terjadi didalam lingkungan sekolah, sehingga menjadi tanda tanya kenapa pihak sekolah disana seperti trauma menerima surat yang ditujukan kepada kepala sekolah?.
Tanpa disadari pihak sekolah, hal ini juga mencerminkan buruknya management MTs Negeri 5 Tapsel dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah Syakban Siregar yang dimana usia sekolah tersebut baru 4 bulan berubah status menjadi MTs Negeri 5.
Pelayanan administrasi yang buruk, kepala sekolah tak masuk, guru piket menghilang ditambah lagi saat jam belajar guru-guru masih asyik nongkrong di kantn, hal ini dapat dinilai pihak sekolah tidak bisa menjaga nama baik sekolahnnya sendiri. (Syahrul/ST).


