Atasi Jumlah Penduduk Miskin di Tapsel, Pengamat Ekonomi IPTS Sarankan Langkah Ini kepada Pemkab

Sebarkan:

 

pengamat ekonomi Institut Pendidikan Tapanuli Selatan (IPTS) dosen program studi pendidikan ekonomi dan juga merupakan mahasiswa S3 Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Andalas Padang Sumatera Barat Abdi Hamsyah Tanjung S.Pd, MM.



TAPANULI SELATAN | Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Tapanuli Selatan (Tapsel), mencatat angka penduduk miskin di kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) tahun 2021 mengalami peningkatan dengan mencapai jumlah 8,80 persen atau sekitar 24.220 jiwa dari jumlah penduduk 303.685  jiwa.

Berikut persentase angka penduduk miskin di Kabupaten Tapanuli Selatan selama tiga tahun berturut-turut. Pada tahun 2019 jumlah penduduk miskin di kabupaten Tapanuli Selatan berjumlah 24.220 jiwa atau 8,60 persen. Sementara tahun 2020 turun dengan berjumlah 23.960 jiwa atau sekitar 8,47 persen dan untuk tahun 2021 mengalami kenaikan dengan jumlah 25.010 jiwa atau sekitar 8,80 persen.

Kondisi naiknya angka kemiskinan ini mendapat perhatian dari salahsatu pengamat ekonomi Institut Pendidikan Tapanuli Selatan (IPTS) dosen program studi pendidikan ekonomi dan juga merupakan mahasiswa S3 Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Andalas Padang Sumatera Barat Abdi Hamsyah Tanjung S.Pd, MM.

Menurut Abdi, salahsatu cara untuk mengurangi angka kemiskinan didalam satu daerah tentunya harus menciptakan lapangan kerja baru. 

Dikatakannya lagi, hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan adalah salah satu pokok masalah saat ini. Ia mengakui secara luas bahwa pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tentu mengurangi kemiskinan.

"Dua alasan utama yang sangat penting harus kita ketahui terkait kemiskinan. Pertama, pembuat kebijakan membutuhkan panduan yang lebih rinci untuk membuat keputusan tentang alokasi sumber daya publik dan sumber dana untuk membiayai pengeluaran publik," jelas Abdi saat diwawancarai metro-online.co, Jumat (14/10/2022)

"Kedua, secara teoritis memang terjadi bahwa pertumbuhan sektor ekonomi yang berbeda memiliki efek yang heterogen terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk mencapai efek pengurangan kemiskinan terbesar dari pertumbuhan ekonomi, penting untuk mengidentifikasi sektor-sektor yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap pengurangan angka kemiskinan," tambahnya.

Tidak itu saja dikatakannya, untuk mengurangi angka kemiskinan di Kabupaten Tapanuli Selatan hendaknya pemerintah harus berupaya memaksimalkan potensi yang ada pada masyarakatnya, dengan potensi yang ada tentu akan menciptakan lapangan kerja yang cukup luas. 

"Tapanuli Selatan yang saya ketahui memilliki tiga produk yang bisa di unggulkan, yaitu, Tenun, Kopi dan Salak," sebutnya.

Abdi mengatakan, kalau ketiga produk unggulan tersebut memiliki potensi bagus untuk di kembangkan sebagai home industry atau usah mikro kecil dan menengah. Home industy dan sentral  tenun dan kopi itu sudah ada dan banyak kita lihat di kabupaten tapsel khususnya di kecamatan sipirok.

Kemudian untuk produk salak sentral industrinya juga ada (AGRINA) tapi tidak berjalan dengan baik, ini dikatakannya terbukti karena produk hasil olahan dari sentral Industri tersebut pasarnya masih lokal dan penjualan produknya masih di kategori rendah.

"Nah jika pemerintah serius dan ini betul-betul di Kelola dengan baik oleh masyarakat dan kerja sama yang baik dengan pihak pemerintah, jasa keuangan, pastinya ini akan menjadi potensi atau sumber ekonomi yang sangat baik dan pastinya akan menyerap banyak tenaga kerja, dan bisa mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di Tapsel," tegasnya.

Dalam hal ini Abdi menyarankan supaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapsel harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Membantu perluasan akses terhadap pasar

2.Bekerja sama dengan bank baik pemerintah maupun swasta dalam pemodalan untuk pelaku usaha mikrokecil dan menengah/home industri 

3. Kemudahan memperoleh legalitas formal, 

4. Jaminan perlindungan dan kelangsungan  usaha 

5. pemanfaatan teknologi untuk pengembangan.UMKM. Peran utama yang mempengaruhi perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Ketika metro-online co menanyakan apakah pemerintah Tapsel harus memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di wilayahnya ?.

Abdi menjawab, harusnya SDA yang ada harus dikelola oleh SDM-nya.Tapsel terkenal memiliki potensi alam yang bagus untuk pengembangan objek wisata, salah satu percepatan pembangunan ekonomi itu adalah dengan pengembangan objek wisata.

"Tapsel itu kaya, apalagi punya tambang emas dan rencana pembangunan PLT di marancar. Seharusnya dengan adanya tambang dan PLTA  masyarakatnya bisa merasakan kesejahteraan bukan?," tutur Abdi.

Hal ini berlandaskan filosofi pengelolaan sumber daya alam di Indonesia adalah Pasal 33 ayat (3) UUD Negara Republik Indonesia 1945, yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Kita masih tetap bertahan dengan hasil alam dan bumi bukan mengembangkan industri. Pemerintah mulai dari level pusat sampai daerah seharusnya merubah pola perekonomian dengan cara meningkatkan ekonomi melalui bidang industri, karena jamannya sekarang era industri. Indonesia punya SDM banyak dan pintar hendaknya pemerintah mengunakan potensi ini," pungkasnya. (Syahrul/ST).






Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini