Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Harga Turun Drastis, Petani Sawit Asahan dan Labura Pertanyakan Program Pemerintah

Tim Redaksi: Minggu, 01 Maret 2020 | 23:02 WIB

HARAPKAN:Petani sawit yang mengharapkan pemerintah menjalankan program agar bisa membantu mereka. 

ASAHAN-Petani kelapa sawit di Kabupaten Asahan dan Labura dalam dua minggu belakangan ini menjerit. Pasalnya, harga kelapa sawit turun drastis.

Sebelumnya harga kelapa sawit di tingkat petani Rp1.800 per kg, namun kemarin sudah mencapai Rp.1.200 per kg. Hal ini membuat petani menjerit.

Apalagi sebelumnya, petani sawit sudah merasakan pahitnya karena harga turun. Namun dua bulan belakangan ini, harga naik dan mencapai Rp 1.800 kg.

James Ganda Sormin

“Penurunan harga yang cukup drastis ini sangat menyengsarakan petani. Seharusnya pemerintah mendengar keluhan-keluhan petani sawit, dan jangan hanya memperhatikan para pengusaha-pengusaha sawit,” ujar James Ganda Sormin, Ketua Kelompok Tani Lestari Mandiri Asahan dan Labura kepada wartawan, Minggu (1/3/2020) malam.

Tambah James, sebelumnya 800 petani sawit yang tergabung dalam kelompok tani Lestari Mandiri sempat senang dengan naiknya harga sawit. Tapi dua minggu belakangan ini, harganya turun hingga mencapai Rp600.
“Pihak terkait juga harus ikut memperhatikan petani-petani sawit,” tambahnya.

Dijelaskan James, program pemerintah yakni B30, B50 dan B100 yang akan menggunakan CPO untuk bahan bakar minyak diyakini akan dapat membantu petani sawit. Namun dengan turun drastinya harga belakangan ini, James menilai program tersebut tak sesuai dengan yang diharapkan.

“Awalnya, petani sempat senang dengan program tersebut, namun dengan tidak stabilnya harga, petani sawit menjadi pesimis terhadap pemerintah,” terangnya. 

Sebelumnya, awal tahun 2020, Pertamina diberi mandat untuk mengimplementasikan B30. Peresmian implementasi program biodiesel 30% (B30) ini dilaksanakan di SPBU COCO Pertamina MT Haryono.
Sebelumnya, uji coba implementasi program B30 sudah dilakukan sejak November 2019 di delapan titik pencampuran (Terminal BBM dan kilang Pertamina). B30 merupakan bahan bakar biosolar dengan kandungan 30% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau minyak nabati dari kelapa sawit dan yang pertama di dunia.

"Saya nyatakan implementasi B30 dimulai. Saya juga mengingatkan bahwa aplikasi B30 ini akan bertahap sampai nantinya bisa ke B100 karena kita harus manfaatkan industri sawit kita yang melimpah," ujar Joko Widodo usai meresmikan pengimplementasian B30 di SPBU COCO Pertamina, Jl. MT Haryono, Jakarta, Senin (23/12/2020).

Mandat ini diberikan karena selama dua tahun belakangan, Pertamina dinilai mampu menjalankan mandatori B20 dan kilangnya juga mampu. 

Pencampuran Biosolar B30 dilakukan di 28 titik pencampuran, yaitu Medan, Dumai, Siak, TLK Kabung, Plaju, Panjang, Tanjung Gerem, Bandung Group, Tanjung Uban, Jakarta Group, Cikampek, Balongan, Tasikmalaya Group, Cilacap Group, Semarang Group, Tanjung Wangi, Surabaya, Tuban, Boyolali, Rewulu, Bitung, Balikpapan Group, Kasim, Kotabaru Group, Makassar, Manggis, Kupang, dan STS Pontianak. (ka/int)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html