Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Gerakan #SaveBabi, Ribuan Peternak akan Demo Kantor Gubsu

Tim Redaksi: Selasa, 21 Januari 2020 | 21:15 WIB

Ribuan peternak babi hadiri Gerakan#SaveBabi.

MEDAN-Warga pecinta daging babi, peternak, pengusaha rumah makan dan penjual daging serta penjual pakan ternak memenuhi Wisma Mahinna di Jalan Rela, Medan, Sumatera Utara pada Selasa (21/1/2020) sore.

 Pertemuan dengan judul gerakan#SaveBabi ini merupakan bentuk protes terhadap Pemprov Sumut yang berencana memusnahkan seluruh babi di Sumut setelah merebaknya demam babi afrika (african swine fever/ASF).

Ketua gerakan#SaveBabi, Boasa Simanjuntak mengatakan, masyarakat Batak dan pecinta babi di Sumut dengan tegas menolak rencana itu karena babi memiliki kedaulatan tersendiri dalam hidup orang Batak, terutama dalam urusan adat.

Boasa Simanjuntak saat mengaparkan. 
"Babi tidak bisa digantikan dengan hewan lain dalam acara adat. Ini bukan perkara main-main," katanya saat pidato.

Menurutnya, saking sakralnya ternak babi, bisa terjadi pertengkaran antarkeluarga. Dia menyayangkan pemerintah yang dinilai lalai dalam penetapan status penyakit yang menyebabkan kematian puluhan ribu babi di Sumut. Sebelumnya, kematian babi disebabkan virus kolera babi, lalu kabar terakhir disebut karena ASF.

"Ini menandakan kalau pemerintah sepele. Tidak melalui penelitian yang mendalam. Masyarakat yang jadi bingung," katanya.

Dalam pertemuan itu, banyak warga atau peternak mengeluh karena babi mereka habis yang menjadi sumber pendapatan mereka.

Untuk itu rencananya, pada 3 Maret mendatang, mereka akan menggelar aksi unjukrasa di depan kantor Gubernur Sumut. Rencana ini sudah dimatangkan, tinggal eksekusi.

Tuntutan utama mereka adalah mendesak pemerintah segera mencari solusi terbaik dalam mengatasi masalah ASF, selain pemusnahan. Selain menggelar aksi damai, tim pengacara juga telah dibentuk.

Tim ini yang nanti akan menjalankan upaya hukum melalui class action. Jalur hukum ini ditempuh untuk meminta ganti rugi terhadap babi-babi yang sudah mati. 

“Kita tidak bisa tinggal diam. Babi-babi yang sudah mati itu harus ada ganti ruginya. Pemerintah jangan hanya menyuruh kami menguburkan babi, tetapi harus ada gantinya. Entah itu bibit,” kata Sekretaris Panitia, Hasudungan Siahaan. (ka)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html