Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Ini Hasil Supervisi BPJS Kesehatan ke RSUD Sipirok

Tim Redaksi: Jumat, 15 November 2019 | 18:40 WIB

TAPSEL - BPJS Kesehatan Cabang Padangsidimpuan melakukan kunjungan supervisi ke RSUD Sipirok, Tapanuli Selatan.

Kunjungan dilakukan langsung oleh Kepala BPJS Kesehatan Cabang Padangsidimpuan, Lenny Marlina T. U. Manalu didampingi oleh Kepala BPJS Kesehatan Kabupaten Tapanuli Selatan, Nugraha Andrianta Bangun.

Kunjungan ini dilakukan ke beberapa ruangan antara ruangan rawat inap, ruangan poli, dan ruangan hemodialysis rumah sakit, Jumat (15/11/2019).

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Padangsidimpuan, Lenny Marlina T. U. Manalu mengatakan, bahwa tidak ada persiapan khusus dalam kunjungannya kali ini. Ia mengatakan hanya secara spontan berkunjung ke rumah sakit untuk memastikan Peserta JKN-KIS dilayani dengan baik tanpa ada diskriminasi.

"Kami mengapresiasi Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, khususnya RSUD Sipirok yang mengupayakan keberlangsungan pelayanan dialisys untuk wilayah Tabagsel," ujarnya.

Dalam kunjungan ini, pihaknya juga menyampaikan kepada pasien peserta JKN-KIS agar tidak sungkan menghubungi melalui Call Center BPJS Kesehatan 1500-400 atau langsung datang ke Kantor BPJS Kesehatan terdekat kalau membutuhkan layanan informasi dan pengaduan.

"Tercatat pasien tetap hemodialysis di RSUD Sipirok sebanyak 30 orang yang didominasi oleh masyarakat dari luar Kecamatan Sipirok," ungkap Lenny.

Dijelaskannya, setiap harinya RSUD Sipirok mengoperasikan lima mesin dialysis, dibawah kendali dan pengawasan 13 orang perawat hemodialysis.

"Tidak hanya dari Kecamatan Sipirok, pasien hemodialisa RSUD Sipirok juga berasal Kecamatan Kotanopan, Kecamatan Sosa, Tano Tombangan, serta beberapa daerah lainnya," imbuhnya.

Menurutnya, hemodialisa atau hemodialisis sendiri merupakan therapi cuci darah di luar tubuh. Therapi ini umumya dilakukan oleh pengidap masalah ginjal yang ginjalnya sudah tak berfungsi dengan optimal.

Pada dasarnya, lanjut Lenny, tubuh manusia memang mampu mencuci darah secara otomatis, tapi bila terjadi masalah pada ginjal maka dibutuhkan mesin tambahan.

"Sementara mesin khusus difungsikan untuk menggantikan ginjal yang rusak agar tubuh bisa menyaring darah. Mesin ini berperan sebagai ginjal artifisial (ginjal buatan) yang dapat menyingkirkan zat-zat kotor, garam, serta air berlebih yang ada di dalam darah pengidap," terangnya.

Dalam supervisi tersebut tidak ditemukan kendala yang berarti. Pasien hemodialisa mengaku puas dengan pelayanan yang ditermia.

Salah satunya Syawal adalah pasien hemodialisa sejak Juni 2019 yang lalu. Dirinya mengaku sangat bersyukur menjadi peserta JKN-KIS mengingat biaya untu satu kali tindakan hemodialisa bisa mencapai 1 juta rupiah.

"Hemodialisanya nyaman disini. Dokter dan perawatnya cepat tanggap memenuhi kebutuhan pasien. Memang kadang banyak keluhan pasien tapi mereka sangat bersabar melayani," ungkap Syawal. (Syahrul)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html