loading...

Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

loading...

Bencana Donggala & Palu, Warga Langkat Lakukan Shalat Ghaib

Tim Redaksi: Jumat, 05 Oktober 2018 | 17:46 WIB

Bencana Donggala & Palu, Warga Langkat Lakukan Shalat Ghaib 
LANGKAT-Masyarakat Kabupaten Langkat secara serentak melaksanakan shalat ghaib terhadap korban musibah bencana alam Donggala, Palu dan Sigi Sulawesi tengah, Jumat (5/10) siang.

Shalat ghaib tersebut dilaksanakan seusai pelaksanaan shalat jum'at, Dimasjid Syuhada Komplek Perkantoran Bupati Langkat bertindak sebagai imam H Syahrizal S Sos, dalam kesempatan tersebut H Syarizal yang juga menjabat sebagai Kabag Kesos Pemkab Langkat mengatakan,  shalat ghaib yang dilaksanakan merupakan salah satu bentuk kepedulian dan rasa prihatin atas musibah yang dialami saudara kita di daerah Donggala, Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah.

Hal ini juga merupakan himbauan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Langkat agar melaksanakan shalat ghaib, sebagai bentuk bela sungkawa serta kepedulian sesama umat, sebangsa dan setanah air.

Sholat ghaib adalah shalat pengganti shalat jenazah, yaitu shalat yang dilakukan kepada seorang muslim yang meninggal, namun karena kita berada ditempat jauh, sehingga kita tidak dapat bisa mengerjakan shalat jenazah. "Jika terdapat keluarga atau muslim lain yang meninggal di tempat yang jauh sehingga jenazahnya tidak bisa dihadirkan maka dapat dilakukan salat ghaib atas jenazah tersebut," jelas Syahrizal.

Sebelumnya dalam khutbah jumat Syahrizal mengangkat tema, berkaca atas musibah, belakangan ini kita selalu mendengar musibah bencana alam menimpa saudara kita,  musibah bencana alam yang dialami oleh saudara kita di daerah Nusa Tenggara Barat masih dalam taraf pemulihan, Kini bencana alam juga melanda didaerah Donggala,  Palu dan Sigi Sulawesi Tengah.

"Mari kita jadikan iktibar dan intropeksi diri atas musibah yang sedang dialami saudara kita, kita bermohon keselamatan, mari kita tingkatkan amal ibadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt," sebutnya.

Bukan bermaksud menyalahkan atau mengorek perbuatan atau menuduh penduduk daerah yang terkna musibah, dan bukan berarti daerah yang tidak terkena musibah adalah daerah yang paling bersih,  jadikan iktibar musibah yang terjadi agar menjadi intropeksi diri kita.

"Seperti yang tertera dalam surat Assyura ayat 30, yang artinya "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)"," tuturnya dalam khutbah.

Sebagai pertimbangan kita,  apa penyebab bencana banjir yang menelan kaum nabi nuh, apa penyebab bencana alam dijaman nabi Luth dan bencana lainnya dijaman para nabi.

Hendaknya kita senantiasa bersabar dalam menghadapi berbagai musibah, seperti yang tercantum dalam Surat Al-Baqarah Ayat 155-156, "apabila kita mendapatkan musibah dalam bentuk apa pun juga, maka hendaknya dihadapi dengan rasa sabar sehingga nantinya akan memperoleh hidup yang bahagia dengan tujuan mendapatkan ridha dari Allah SWT. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar sehingga bisa hidup bahagia menurut Islam. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali)

Intropeksi diri terhadap musibah atau bencana,  apakah ujian. Jika kita bersabar atas ujian maka itu adalah hal yang terbaik bagi diri kita untuk meningkatkan keimanan kita, agar lebih baik lagi.

jika musibah adalah teguran maka sebagai umat kita harus evaluasi diri, agar lebih mendekatkan diri kepada Allah swt,  mungkin selama ini kita selalu mengutamakan dan lebih sibuk dengan keduniawi. (lkt-1)



Teks foto,  pelaksanaan shalat ghaib dimasjid Syuhada.


Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html