loading...

Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

loading...

Menurut Jejak Digital, Koordinator CEPP Fisip USU Adalah Wakil Sekretaris Tim Eramas

Tim Redaksi: Minggu, 17 Juni 2018 | 20:00 WIB

Ilustrasi pengamat



MEDAN - Hasil survei yang dirilis oleh Center for Election and Political Party (CEPP) Fisip Universitas Sumatera Utara (USU)  yang mengatakan Eramas unggul 53,1 persen, sedangkan Djoss 35,7 persen dan yang belum menentukan pilihan 11,2 persen.

Persoalan ini sedang ramai dibicarakan oleh akademisi dan praktisi. Pasalnya, hasil survei yang dirilis CEPP Fisip USU hanya berjarak 1 hari dengan rilis yang dikeluarkan oleh Indo Barometer yang memaparkan dari hasil survei pasangan Djoss unggul dengan 37,8 persen, sementara  Eramas hanya meraih 36,9 persen.

Ian Pasaribu S.I.P, M.Si yang juga merupakan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Darma Agung Medan yang selama ini konsen di dunia politik lokal dan politik digital Pilkada mengungakkan bahwa ada kejanggalan dari lembaga CEPP FISIP USU. Di mana menurut jejak digital, nama Walid Mustafa Sembiring yang merupakan Koordinator Riset CEPP Fisip USU juga merupakan bagian dari Sekretaris Tim Pemenangan Eramas.

“Ada yang janggal dari CEPP FISIP USU, kita bisa cek di jejak digital kalau tidak percaya. Nama Walid Mustafa Sembiring yang merupakan Koordinator Riset CEPP Fisip USU juga merupakan bagian dari Sekretaris Tim Pemenangan Eramas. Harusnya kampus bersikap netral. Kalau memang CEPP Fisip USU memang bagian dari FISIP USU sebagai lembaga Universitas,” tutur Ian Pasaribu, Minggu (17/6/2018).

Lebih lanjut, Ian Pasaribu juga mempertanyakan metodologi yang dirilis oleh CEPP Fisip USU dan ini bisa mencederai nama besar Fisip USU sebagai sebuah lembaga kampus, kalau diuji secara metodologi nantinya ternyata salah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan karena independensi Lembaga tersebut.

“Survei yang dirilis CEPP Fisip USU dan ini bisa mencederai nama besar Fisip USU sebagai sebuah lembaga kampus. Kalau diuji secara metodologi sampai salah dan tidak bisa dibuktikan secara akademis. Ini bisa merusak kampus karena salah satu bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi adalah Penelitian. Apalagi menimbulkan opini di masyarakat ada oknum tim sukses didalamnya. Ini sangat berbahaya,” ujar Ian Pasaribu. (bcl comm)


Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html