Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Pemuda Harus Optimis, Jangan Lembek dan Mudah Menyerah!

Tim Redaksi: Rabu, 25 April 2018 | 18:05 WIB




“Kalau sedikit-sedikit mengeluh, gampang menyerah, kita tidak akan menjadi anak muda yang memiliki mental petarung,” demikian pesan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di hadapan ribuan anak muda dan mahasiswa yang memenuhi Balai Prajurit M. Yusuf, Makassar, 25 April 2018. “Untuk menjadi pemenang, petarung yang hebat selalu berpikir optimis,” tegasnya.

Moeldoko hadir di Makassar dalam kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Optimis. Seminar tersebut mengambil tema “Indonesia Maju Tanpa Hoax”. Hadir sebagai narasumber antara lain Pangdam XIV Hasanudin Mayjen Agus Surya Bakti, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Polisi Umar Septono, pendiri Harian Fajar Alwi Hamu, dan sejumlah motivator dan pakar media sosial.

Mantan Panglima TNI yang pernah bertugas di Makassar selama 10 tahun tersebut mengingatkan para mahasiwa, bahwa optimisme dapat dibangun, jika masing-masing individu memiliki optimisme yang tinggi. “Saya lahir dan hidup di sebuah desa yang miskin di Jawa Timur. Ketika masih kecil, ada seorang taruna yang masuk ke desa saya naik Vespa. Lalu, saya bilang ke ibu saya, suatu saat saya akan menjadi seperti dia,” kisahnya.

Ia pun melanjutkan cerita masa kecilnya, “Ketika SMA, saya dimasukkan ke kelas IPS. Saya lalu menghadap ke kepala sekolah, namanya Drs. Rifai. Saya meyakinkan beliau untuk bisa masuk ke kelas IPA. Saya diberi waktu 3 bulan. Kalau tidak mampu, akan dikembalikan ke kelas IPS. Akhirnya, saya bisa mengikuti kelas IPA, masuk sebagai taruna Akabri, sehingga garis hidup saya menjadi seperti sekarang ini.”

Lebih lanjut ia memaparkan, sekarang ini, 8 dari 10 anak-anak muda Indonesia mudah terpapar dan mengonsumsi informasi dan berita-berita yang tidak menumbuhkan optimisme. Berita-berita bohong, hoax, dan sebagainya. Sementara, pada tahun 2030, kita akan menerima bonus demografi, di mana sebagian besar penduduk Indonesia adalah anak-anak muda yang produktif. Kalau kita tidak berjuang untuk menumbuhkan optimisme, salah satunya adalah memerangi dan melawan hoax secara kompak, bangsa Indonesia akan mengalami kesulitan di masa depan.

Padahal, kata Moeldoko, Pemerintah di bawah kepemipinan Presiden Jokowi sekarang ini memiliki sejumlah indikator yang sangat positif dan membangkitkan optimisme.

Indonesia berada dalam situasi yang menjanjikan datangnya investor dari luar negeri. Salah satunya ditandai dengan meningkatnya kemudahan berusaha yang meningkat dari peringkat 120, kemudian menjadi 106, lalu ke peringkat 90,dan sekarang berada di peringkat 72. Presiden Jokowi menargetkan supaya Indonesia dapat berada di kisaran peringkat 40-50-an.

Berbagai lembaga pemeringkat investasi internasional juga terus menaikkan status sebagai negara layak investasi. Investasi diperlukan untuk menggerakkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekspor. Pembangunan infrastruktur yang sekarang dijalankan oleh pemerintahan Jokowi adalah bagian dari pembangunan peradaban manusia. Infrastruktur akan menghubungkan, mengoneksikan setiap titik di wilayah republik, sehingga setiap warganya  merasa menjadi bagian dari keluarga besar bernama Indonesia.

Pada tahun 2025 Indonesia akan masuk ke peringkat 10 negara dengan ekonomi terbesar. Lima tahun berikutnya, diprediksi Indonesia akan meningkat lagi ke posisi lebih baik. “Jika lembaga-lembaga internasional memprediksi kemajuan Indonesia, mengapa kita sendiri sebagian justru merasa pesimis?” Moeldoko balik bertanya kepada para mahasiswa.

Syarat untuk dapat menuju kepada prediksi-prediksi itu, menurut Moeldoko, ada 3. Yakni stabilitas politik, stabilitas ekonomi, dan stabilitas keamanan. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan stabilitas tersebut adalah menciptakan masyarakat yang positif dan optimis.

“Salah satu contohnya, saya selalu mengajak semua orang, kelompok, tokoh masyarakat, untuk menggunakan istilah tahun pesta demokrasi daripada tahun politik. Kalau disebut tahun politik, bayangan kita seakan-akan ini tahun yang mencemaskan, suram, menakutkan. Dengan tahun pesta demokrasi, kita memandang pemilu, pilkada, pileg, sebagai sebuah pesta untuk memilih para pemimpinnya.

Dalam hal menjaga kemanan, koordinasi dan kerja sama antara aparat keamanan seperti TNI dan Polri, adalah aspek yang penting untuk diperhatikan. Jangan karena pilkada, pemilu, pilpres, keluarga besar bernama Indonesia menjadi tercerai berai. Antarkeluarga jadi ribut, antartetangga bertikai.

Moeldoko kemudian mengilustrasikan cerita Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kepada Presiden Jokowi yang negerinya tercerai berai. Negeri Afghanistan, yang hanya terdiri atas 7 suku, hanya karena dua suku bertikai karena pengaruh ideologi dari luar, membuat negeri itu kacau balau. Sampai 40 tahun tidak kunjung selesai.

Berinovasi
Sejak sekarang hingga waktu-waktu di depan, akan terjadi perubahan dengan perubahan yang sangat cepat, berisiko, kompleks, dan mengejutkan. “Di dunia perbankan misalnya, semua transaksi keuangan sudah dapat dilakukan melalui ponsel. Anak-anak muda sudah tidak mau lagi antre di kantor-kantor bank. Begitu juga di dunia otomotif, dengan hadirnya mobil listrik.”

Moeldoko kemudian juga mengajak anak-anak muda untuk tidak berhenti berinovasi. Ia kemudian bercerita, selepas pensiun sebagai Panglima TNI, dirinya menggeluti dunia pertanian. “Saat ini saya sudah berhasil mengembangkan benih padi, M70D dan M400. M70D ini adalah benih padi yang umur panennya adalah 70 hari. Sementara M400 adalah benih padi, yang satu batangnya bisa menghasilkan kurang lebih 400 bulir padi.

Untuk itu, Moeldoko berpesan kepada anak-anak muda dan mahasiswa untuk tidak mudah menyerah. “Jadilah anak muda yang memiliki mental petarung. Jangan sedikit-sedikit mengeluh. Jangan lembek!” kata Moeldoko.(alois)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait