Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Dewan Kecam Kekerasan Terhadap Aktivis Azhari Sinik

Tim Redaksi: Sabtu, 04 November 2017 | 21:06 WIB


Teror terhadap aktivis anti korupsi kembali terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara. Kali ini, Azhari Sinik yang merupakan aktivis Lippsu dan belakangan ini dikenal sebagai aktivis Sejuta Lobang di kota Medan menjadi korban tabrak lari setelah selesai menunaikan ibadah Sholat Subuh.

Peristiwa teror ini mirip dengan yang dialami oleh Novel Baswedan, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan mengecam keras peristiwa yang menimpa Azhari Sinik. Menurutnya, kekerasan dan teror ini masuk kategori biadab sebab dilakukan kepada korban setelah Sholat Subuh.

"Pemilihan waktu melakukan teror dan tempat tentu sudah direncanakan. Melakukan teror terhadap korban setelah Sholat Subuh bertujuan memberi teror jangka panjang," ungkap Sutrisno kepada Metro-Online, Sabtu (4/11/2017).

Dikatakannya, pelaku teror memahami bahwa korban pasti selalu sholat setiap subuh. Maka jika tujuan teror berhasil, maka pemilihan waktu dan tempat melakukan teror berhasil.

"Itu tujuannya tentu untuk membungkam korban atas suara-suara kritisnya kepada oknum-oknum penyelenggara pemerintah," ujarnya.

Sebagai respon dan sikap atas teror tabrak lari tersebut, Sutrisno meminta Polri untuk melakukan penyelidikan dengan serius terhadap teror ini.

"Saya harap Kapolda memerintahkan pasukannya untuk menangkap pelaku dan aktor intelektual teror tabrak lari tersebut," tegasnya.

Selain itu, Polri diminta mengembangkan penyelidikan berdasarkan penelusuran jejak elektronik aktivitas Azhari Sinik. Teror berupa tabrak lari diyakini berhubungan dengan aktivitas anti korupsi dan suara kritis dari korban.

Politisi PDI Perjuangan ini juga meminta Walikota Medan untuk melakukan koordinasi yang baik dengan kepolisian, sehingga tanggung jawab dalam menciptakan rasa aman menjadi tanggung jawab bersama antara Pemko Medan dan Polrestabes kota Medan.

Keberhasilan menangkap pelaku kejahatan begal di Pematang Siantar, menurut Sutrisno, harus dijadikan referensi oleh Polisi untuk segera menangkap pelaku teror berupa tabrak lari.

"Polisi ternyata memiliki kemampuan untuk menangkap pelaku secara cepat, akurat dan pasti," tukasnya.

Anggota Komisi C DPRD sumut ini meminta kepada seluruh pegiat anti korupsi untuk tidak takut terhadap berbagai bentuk yang telah, sedang, dan mungkin masih harus dihadapi kedepan.


"Kita semua berkewajiban membongkar praktik korupsi yang telah mengakar di berbagai lembaga penyelenggara pemerintah. Pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti, suara kritis tidak boleh dibungkam," pungkasnya.(sandy)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait