Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Politisi PDI Perjuangan Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Pelecehan Seksual Anak di Tapsel

Tim Redaksi: Sabtu, 28 Oktober 2017 | 18:08 WIB





Anggota DPRD Sumut Fraksi PDI Perjuangan Sutrisno Pangaribuan, ST meminta pihak kepolisian mengembangkan kasus pencabulan yang terjadi di Kelurahan Pargarutan, Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.

Kasus pencabulan anak perempuan di bawah umur tersebut diduga yang dilakukan oleh seorang pemuda.

"Ini untuk memastikan berapa banyak korban lain. Tindakan pelecehan sangat biadab, sangat layak dihukum seberat-beratnya. Pelaku ini harus dikebiri," ungkap Sutrisno, Sabtu (28/10/2017) sembari menceritakan dirinya telah mengunjungi anak-anak korban pelecehan di Angkola Timur.

Perlu diketahui, sembilan anak perempuan di bawah umur di Angkola Timur, Tapsel menjadi korban pencabulan seorang pemuda. Jumlah korban ini bertambah dari sebelumnya enam orang dan masih memungkinkan untuk terus bertambah.

Tersangka perbuatan bejat itu, yakni Riki Krismanto (21 tahun), warga Pargarutan Batu, Angkola Timur. Aksinya mulai terungkap pada bulan September 2017. Riki pun mengakui perbuatannya dan telah ditahan di Polres Tapsel.

Sutrisno menambahkan, anak-anak korban pelecehan tersebut belum ditangani secara psikologis dan masih tinggal di rumah orang tua masing-masing.

"Memang sebelum saya datang sudah datang Dinas Perempuan dan Perlindungan Anak Pemkab Tapsel,"  terangnya.

Anggota Komisi C DPRD sumut ini meminta Polres Tapsel dan Pemkab Tapsel harus segera membuat sistem perlindungan anak secara holistik. Hal ini mencegah merebaknya predator anak yang mengincar mangsa di jarak yang sangat dekat.

"Ini perbuatan biadab. Malah diantara korban itu, ada 1 anak belum sekolah berulang ulang disetubuhi," ungkap Sutrisno.

Menurutnya, saat dirinya menanyakan kepada anak-anak korban pelecehan seksual itu, mereka mengaku dirayu pelaku dengan memberi uang Rp5.000 dan kalau anak menolak diancam akan dibunuh pakai senapan angin.

"Anak-anak itu masih sekolah kelas 2, 3, 4 SD. Kejadian ini sudah yang kedua kali. Sewaktu pertama, ada perdamaian pelaku dengan keluarga korban. Tetapi kemudian berulang dengan korban yang lebih banyak lagi," tandasnya.

Kejadian biadab itu, sambung Sutrisno, biasa dilakukan setiap kali anak-anak sepulang ngaji sekitar pukul 17.00 WIB sore. Saat melewati rumah pelaku, adik pelaku (masih anak-anak) mengajak mereka main ke rumahnya.

"Pihak orang tua meyakini adik pelaku dijadikan sebagai penarik mangsa. Adik pelaku juga dijadikan korban oleh pelaku. Jadi ini sering terjadi, pelaku melangsungkan aksinya disaksikan adik pelaku sambil cekikikan," pungkasnya.(sandy)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait