Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Wakapolda Aceh : Kampus Harus Steril dari Gerakan Radikal

Tim Redaksi: Kamis, 28 September 2017 | 14:48 WIB



Wakapolda Aceh Brigjen Pol Brigjen Pol, Bambang Soetjahjo, dalam pidato ilmiah dengan tema peran perguruan tinggi dalam mengantisipasi paham radikalisme di Universitas Malikussaleh (Unimal), Aceh Utara, Kamis (28/9). Foto: Adi

Wakil Kepala Polisi Daerah (Waka Polda) Aceh, Brigjen Pol Brigjen Pol, Bambang Soetjahjo menyebutkan penyebaran paham radikal harus segera dihentikan di perguruan tinggi. Salah satunya yaitu paham khilafah hizbut tahrir internasional yang menurut data yang ada.

“Khusus Aceh, mereka (HTI) mengklaim bahwa ada tiga kampus yang ada jaringannya. Di Indonesia ada 106 kampus yang diklaim telah masuk HTI,” sebut Brigjen Bambang Soetjahjo dalam pidato ilmiah dengan tema peran perguruan tinggi dalam mengantisipasi paham radikalisme di Universitas Malikussaleh (Unimal), Aceh Utara, Kamis (28/9).

Untuk itu, sambung Bambang diperlukan upaya, kampus harus steril dari upaya penyebaran paham radikal tersebut. Dia menyarankan agar mahasiswa dilakukan pembinaan nilai folosofis bernegara yaitu pancasila beserta butir-butirnya.

“Mahasiswa perlu mewaspadai adanya aliran sesat yang mengintai untuk dijadikan pengikutnya (karena aliran sesat masih ada di Aceh). Mahasiswa harus awas melihat konten media sosial yang seringkali berisi paham radikal,” sebutnya.

Selain itu, dia mengajak mahasiswa untuk peduli pada teman dan lingkungannya sehingga ketika ada gejala radikalisme bisa segera dicegah. “Terakhir, jika ada yang mencurigai gerakan radikal, penyebaran paham radikal laporkan ke aparat keamanan. Jangan main hakim sendiri,” katanya.

Dia menyebutkan radikalisme merupakan cikal bakal lahirnya terorisme. Untuk itu, penyebaran paham radikal patut diwaspadai, dan salah satu yang mewaspaai itu adalah mahasiswa. “Mahasiswa harus memberikan penjelasan yang baik pada masyarakat soal paham radikalisme ini. Sehingga tak ada lagi masyarakat kita yang radikal, kita hidup di negara yang welas asih,” terangnya.

Sementara itu, Rektor Unimal, Prof Apridar berkomitmen untuk mengantisipasi paham radikal di kampus tersebut. Selain itu, Unimal sambung Prof Apridar, merupakan salah satu peserta penandatanganan deklarasi anti radikalisme bersama Presiden Joko Widodo dua hari lalu di Bali.

“Kampus harus mengajarkan bagaimana menghormati sesama, saling welas asih dan saling mendukung antar mahasiswa. Bukan sebaliknya, saling menghujat, saling membenci dan lain sebagainya,” sebut Prof Apridar.


Dia telah mengintruksikan seluruh ketua jurusan untuk lebih intensif berdiskusi dengan mahasiswa. Sehingga, begitu ada gejala paham radikal bisa segera dideteksi dan diambil solusi pencegahannya. (Adi)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait