Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

‎Trauma dengan Kekejaman di Myanmar, Imigran Rohingya Ingin Menjadi WN Indonesia

Tim Redaksi: Selasa, 05 September 2017 | 18:57 WIB




Imigran etnis Rohingya yang berada di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan sangat berharap menjadi warga negera (WN) Indonesia.
 Pasalnya, kekejaman sadis yang pernah dirasakan masih menyimpan trauma bagi imigran Rohingya yang berada di Belawan.

 Harapan para imigran Rohingya berjumlah 27 orang di Belawan dapat diberikan status kehidupan menjadi warga negara Indonesia. "Kami ingin sekali menjadi warga negara Indonesia, kalau kami nanti dideportasi ke Myanmar, lebih baik kami memilih mati saja," kata Muhammad Jabar yang mahir berbahasa Indonesia, Selasa (5/9).

 Keinginannya menjadi warga Indonesia, kata Jabar, mengingat dirinya yang hidup sebatang kara, karena seluruh keluarganya telah tewas dibantai. Untuk itu, dirinya ingin mempunyai keturunan dan bebes hidup di negara untuk mencari nafkah.

 "Saya tidak ada siapa - siapa lagi. Tidak mungkin saya sampai mati hidup disini, saya ingin berkeluarga dan ingin punya status kewarganegaraan. Saya berharap pemerintah Indonesia dapat menerima kami semua menjadi warga negara Indonesia," ungkap pria berusia 38 tahun ini.

 Diungkapkan imigran yang sudah berada 5 tahun di Indonesia, selama berada di Rudenim, kebutuhan makan dan fasilitas lain mereka peroleh, hanya saja, mereka ingin hidup bebas dan berbaur dengan masyarakat.

 "Kami ini bukan orang jahat, kami ini korban kekejaman pemerintah, berilah kami bebas agar bisa hidup dengan orang lain. Kami tahu, untuk menjadi warga negara Indonesia pasti tidak bisa, tapi kami berharap itu bisa terjadi," pinta Jabar dihadapan teman - temannya.

 Disinggung apakah diantara mereka ada yang sudah berumah tangga selama berada di Rudenim, Jabar mengaku tidak ada, karena untuk menikah sangat sulit dilakukan.

 "Kami memang ada yang sudah berkeluarga, itu karena kabur bersama keluarga. Tapi, sesama kami orang Rohingya, kami belum ada yang menikah, kami juga ingin punya keturunan, tapi dengan kondisi kami sebagai pendatang gelap sangat sulit," kata Jabar.

 Beda dengan ‎Mussrof, dirinya yang masih berusia 22 tahun sangat menginginkan bekerja dan bebas hidup dengan masyarakat. "Saya hanya ingin kerja, walaupun negara Indonesia tidak bisa mengakui kami, tapi berikan kami pekerjaan, agar kami bisa berpenghasilan," Harapan Mussrof.

 Selama berada di Rudenim, kata Mussrof, belum ada kegiatan yang mereka hasilkan untuk bisa menambah kebutuhan uang bagi mereka. Hanya saja, kegiatan yang bersifat ketrampilan.

 "Kami disini memang ada belajar seni, olah raga dan lainnya, tapi kepandaian kami tidak bisa kamu gunakan untuk bekerja, kami ingin sekali bekerja," kata Mussrof.

 Terpisah, Kepala Rudenim Belawan, Abdul Karim SH, MH mengatakan, selama imigran Rohingya belum ada yang menikah, mereka tidak diberikan bebas untuk bekerja dan berbaur dengan masyarakat.

 "Mereka ini masih dalam pengawasan. Jadi, mereka hanya bisa menerima ketrampilan yang telah kita berikan. Begitu juga, untuk menjadi warga negara Indonesi itu tidak bisa dilakukan, yang jelas mereka tetap kita layani dengan layak," ungkap Abdul Karim. (mu-1)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait