Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Effendi Simbolon Silaturahmi ke Kelompok Cipayung Plus Sumut

Tim Redaksi: Jumat, 01 September 2017 | 15:42 WIB

Effendi Simbolon Silaturahmi ke Kelompok Cipayung Plus Sumut



Anggota Komisi I DPR RI, Effendi Muara Sakti Simbolon bersilaturahmi dengan para pimpinan kelompok Cipayung Plus Sumatera Utara (Sumut) di Medan, Kamis (31/8/2017).

Effendi Simbolon di awal pertemuan mengatakan bahwa kehadirannya di Sumut untuk menyambangi teman-teman, khususnya yang dulu, simpul-simpul yang memberi dukungan kepadanya saat bertarung pada Pilgub Sumut 2013, dan simpul/kelompok yang memberi dukungan baru.

"Kehadiran ini tidak bisa secara langsung dikaitkan dengan Pilkada, karena sebagai kader partai, saya tidak bisa melakukan kegiatan atau gerakan di luar kebijakan partai. Terus terang karena saya pernah maju untuk bertarung, tentulah tidak ada alasan buat saya tidak siap untuk maju, kalau dari sisi humanitas-nya, unsur manusiawi-nya," ujar politisi dari PDI Perjuangan ini.

Effendi kemudian memaparkan bagaimana pandangannya tentang kekalahan pihaknya pada Pilgubsu yang lalu.

"Perjuangan waktu itu penuh dinamika, ya mungkin akibat banyak kekurangan, terkait dana, jaringan, dan waktu. Mungkin juga figur saya yang kurang tepat. Tapi seperti yang dilansir banyak media hari ini, banyak kecurangan waktu itu. Jadi bukan gosip atau fitnah. Data fakta, bukti hukum itu kami bawa ke MK, jadi konstitusional sekali, walaupun akhirnya Ketua MK, saudara Akil, yang dengan sangat arogannya menepis alat bukti yang merupakan fakta di lapangan bahwa telah terjadi kecurangan yang masif dan terstruktur oleh Incumbent, Saudara Gatot dan Saudara Tengku Erry, dan konspirasi dengan beberapa KPU waktu itu ya, dan dengan Ketua MK," ungkapnya.

"Tapi MK tidak mengujinya, langsung menepis dan mengatakan bahan-bahan itu terlambat. Saya juga baru tahu pengadilan ada istilah waktu terlambat. Tuhan membuktikan, walaupun belum semua terbuka, penguasa waktu itu dan Saudara Tengku Erry juga ikut andil, saya juga tidak tahu kapan dia akan ikut _masuk_. Terus terang, saya tidak ada istilah _tedeng aling-aling_, sebab faktanya semua ada di saya. Kalau ingin diuji kembali, kami Alhamdulillah," terangnya.

Effendi kemudian memaparkan pandangannya tentang pengelolaan potensi pariwisata danau Toba, soal sikapnya yang tampak selalu bertentangan dengan kebijakan Jokowi, soal Freeport dan soal sikap kritis aktifis mahasiswa yang dirasakan sudah sangat jauh berubah.

"Saya _sih_ terus terang tidak terima kekalahan, _kan_ terbukti di pengadilan mereka menggunakan dana-dana Bansos itu. Kalau pakai uangnya Gatot, uangnya Erry _sih_, seratus persen saya setuju. Uang istrinya, uang kakaknya, uang tantenya, silahkan. Tapi kalau uang negara, uang rakyat, _entar dulu dong_. Kenapa dia punya hak seperti itu? Sesen pun uang negara, uang rakyat, gak boleh. Itu juga yang saya sinyalir, APBD sekarang ada potensi ke sana juga. Tanpa bermaksud memprovokasi kalian, saya juga ingin bertanya, dimana kepedulian kalian sebagai mahasiswa? Apa boleh seperti itu?" tantangnya.

Effendi juga mensinyalir gejala baru di pusat soal ini. "BLT di jaman SBY yang kita kritisi, di jaman Jokowi mulai muncul lagi, BLT jilid baru. Saya gak pusing, yang benar, benar aja. Kalau salah katakan salah. Sepanjang itu kepentingan publik, kepentingan negara, gak ada urusan. Daripada kita _ewuh pakewuh_, pura-pura begok, pura-pura baik, tahu-tahunya di belakangnya semua rusak seperti sekarang di negeri ini. Masak semuanya tersandera. Hampir semua Ketua Umum tersandera. Masalah hukum barter semua. Apa-apa diselesaikan secara adat. Bubarin aja DPR, bubarin aja pemerintah, kalau semua diselesaikan secara adat. Ngapain? Semuanya dimaklumkan, semuanya dimaklumkan. Negara besar bisa maju karena mereka punya prinsip. Kita enggak, mau partai pendukung, mau oposisi sama aja semua. Ujung-ujungnya kepentingan. Jadi kalau pun saya kritik keras ke pak Jokowi, saya gak merasa menyesal. Enggaklah. Saya kenal beliau cukup lama, sepuluh tahun, gak perlulah _didewa-dewakan_ begitu. Biasa aja. Sebagai kawan, saya mengingatkan beliau," tukasnya.

Sejumlah pernyataan Effendi Simbolon ini memicu reaksi kritis para tokoh mahasiswa Sumut yang hadir. Mayoritas para pimpinan kelompok Cipayung Plus Sumut yang hadir terkesan akan wibawa Effendi yang berani mengkritik kebijakan Jokowi walau pun berasal dari partai yang sama.

Swangro Lumbanbatu Korwil PP GMKI Sumut-Aceh yang menjadi moderator dalam pertemuan silaturahmi ini mengamini apa yang disampaikan rekannya sesama ketua umum elemen mahasiswa tingkat Sumut.


"Kita butuh pemimpin Sumut yang lurus,  kritis, progresif dan tegas serta mempunyai program yang terukur bukan asal ada program, agar rakyat Sumatera Utara dapat merasakan pemimpinnya, Gubernur Sumatera Utara yang pro rakyat," sebutnya.



Septian Fujiansyah Chaniago, Ketua Badko HMI Sumut menjelaskan pada Effendi bahwa kondisi kewibawaan pemerintah provinsi Sumut saat ini berada pada titik terbawah.

"Kami menilai Pemprov Sumut gagal menjalankan pemerintahan," kata Septian.

Ia berharap Pilgubsu mendatang menghasilkan pemimpin yang bisa kerja dan memiliki program kerja yang realistis.

"Kita menginginkan pemimpin yang bukan hanya bisa pencitraan saja. Masyarakat secara sekilas pun tahu mana pemimpin yang hanya jalan kesana, jalan kesini, _cengengesan_ aja, ngabisin uang negara, yang prinsipnya bukan untuk kepentingan negara, malah untuk kepentingan pribadinya," jelasnya.

Nurul Yaqin Sitorus, Ketua HIMMAH Sumut menambahkan bahwa mahasiswa menyambut apa yang diutarakan Effendi Simbolon, karena sudah berbicara dari hati.

"Apa yang disampaikan Bang Effendi Simbolon sudah pas. Itulah kondisi riil hari ini. Bang Effendi bilang, dia berbicara dari hati. Seperti kata ungkapan, sepanjang-panjangnya jembatan, lebih ampuh jembatan hati," kata Yaqin.

Yaqin menggambarkan bahwa sikap pragmatis masyarakat menghadapi Pilgubsu 2018, karena menilai tidak ada calon pemimpin yang mempuni, yang menyatakan akan ikut bertarung.

"Kita melihat sosok-sosok yang hadir hari ini, biasa saja, tidak ada sesuatu yang spektakuler. Ngomong di media nasional pun jarang kita lihat. Kalau bahasa kampung kami, jam terbang pun kurang, padahal untuk memimpin Sumatera Utara yang beragam ini harus _power yang full_, gak bisa separuh-separuh. Masyarakat kan sudah pragmatis, dan menganggap, ah siapa pun maju, begitu-begitu juganya," tambahnya.

Menurut Yaqin, Sumut butuh pemimpin yang mampu mengelola sumber daya alam dan tidak hanya mampu mengelola APBD Sumut yang hanya belasan triliun rupiah.

"Sumber daya alam kita cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sumut, kalau itu dikelola dengan baik. Bukan hanya cukup, berlebih. Kita gak tahu kemana ini perginya, raibnya. APBD Sumut Rp13 triliun sangat kecil sekali dibanding posisi Sumut yang sangat strategis, dan subur, tidak ada satu pun kabupaten di Sumut ini yang tandus. Jadi melihat potensi ini, saya mengatakan, kalau mau bang Effendi, bang Effendi lah," tukasnya, yang disambut applaus oleh semua yang hadir.

Sementara itu, Bobby Niedhal Dalimunthe, Ketua PKC PMII Sumut mengatakan bahwa kehadiran Effendi Simbolon tentu memberikan harapan baru pada masyarakat Sumut.

"Apalagi abang Simbolon, orang Batak tentu _pengennya_ dipimpin orang Batak. Apalagi dari partai yang besar," tukas Bobby.

Harapan baru ini juga disampaikan oleh Budi Setiawan Siregar, Ketua IMM Sumut.

"Presiden aja dikritik sama bang Effendi, satu partainya. Ini membuktikan abang tulus membangun negeri ini. Membangun Indonesia aja abang tulus dan tak mau kompromi, apalagi membangun Sumatera Utara," ungkap Budi.

Budi juga menambahkan bahwa Effendi adalah tokoh nasional yang mempunyai jaringan nasional. "Akan berwibawa lah Sumut ini nanti kalau bang Effendi yang pimpin," sambungnya.

Senada, Charles Munthe, Ketua GMNI Sumut menyatakan bahwa secara pribadi dia meyakini apabila Effendi Simbolon menjadi Gubernur Sumut maka keberagaman akan semakin teguh.

"Kami dari GMNI berharap siapa pun pemimpinnya tetap menjaga persatuan dan kesatuan, dan memikirkan kesejahteraan masyarakat. Karena Sumut merupakan miniatur Indonesia, kita di sini beragam, dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan Bhinneka Tunggal Ika," pungkasnya.


Pertemuan ini berlangsung sangat cair, bahkan seperti yang dikatakan Nurul Yaqin Sitorus, semua yang hadir berbicara dari hati dan saling terbuka.

Namun di bagian akhir pertemuan, Effendi Simbolon tetap menggaris bawahi bahwa dia merupakan kader partai yang taat aturan.

"Saya gak bisa paksa Ibu. Itu hak prerogatif beliau. Saya bisa begini karena beliau, _from nothing to be something_. Tapi kalau bilang iya, saya siap _fight_ untuk Sumut. _Emang loe pikir gua gak miris. Medan aja begini, apalagi kampung gua di Muara sana_," tegas Effendi.(swangro)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait