Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Ini Penjelasan BPBD Binjai Terkait Fenomena Hujan Es

Tim Redaksi: Minggu, 04 Juni 2017 | 06:14 WIB

[caption id="attachment_80452" align="aligncenter" width="607"] Ini Penjelasan BPBD Binjai Terkait Fenomena Hujan Es[/caption]


Menyikapi fenomena hujan es di Kota Binjai yang terjadi Sabtu (03/06/17) sore tadi, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Binjai, Ahmad Yani, memberikan penjelasan.

"Jadi, hujan es itu sebenarnya fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia," ungkapnya, saat dihubungi via sambungan telepon seluler, Sabtu (03/06/17) malam.

Dalam hal ini, lanjutnya, peristiwa hujan deras disertai angin kencang, petir, dan butiran es, dalam durasi singkat, umumnya terjadi pada masa transisi musim (pancaroba), baik dari musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya.

Indikasinya, seru Ahmad Yani, awalnya satu hari sebelumnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa panas dan gerah, yang diakibatkan kuatnya radiasi matahari.

Hal ini ditunjukkan dari selisih suhu udara antara pukul 10.00 dan pukul 07.00, yakni sebesar 4,5 derajat celcius, disertai kelembaban cukup tinggi mencapai 700 mb atau di atas 60 persen.

Dari situ, sambungnya, mulai terlihat awan cumulus atau awan putih berlapis-lapis.

"Di antara awan tersebut, ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepi berwarna abu-abu dan menjulang tinggi seperti bunga kubis," jelasnya.

Tahap berikutnya, imbuh Ahmad Yani. Awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam, atau yang lebih dikenal sebagai awan Cumulonimbus (Cb).

Pada saat itu, pepohonan di sekitar tempat seseorang berdiri, biasanya ada dahan atau rantingnya, yang mulai bergoyang cepat, serta terasa ada semacam sentuhan udara dingin.

"Dari situ, biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras dan muncul secara tiba-tiba," terang Ahmad Yani.

Namun jika hujan hanya muncul dalam intensitas kecil, atau hanya berupa gerimis, maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita.

"Apabila satu sampai tiga hari secara berturut-turut, tidak ada hujan pada transisi musim, maka ada indikasi potensi hujan deras akan diikuti kemunculan angin kencang, baik itu puting beliung maupun tidak," timpalnya.

Selain itu, dia pun turut mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kemunculan angin puting beliung selama masa transisi musim, terutama dengan mempelajari dan mengenali fenomena tersebut.

Sebab menurutnya, puting beliung merupakan tipe hembusan angin yang berlangsung singkat, namin memiliki potensi dan efek merusak cukup besar.

Adapun sifat puting beliung yang harus sicermati, ungkap Ahmad Yani. Pertama, angin jenis ini sangat lokal. Kedua, dampak.tiuoannya berkisar 5 hingga 10 kilometer.

Ketiga, waktu kemunculannya relatif singkat, dan umumnya berlangsung kurang dari 10 menit. Keempat, puting beliung lebih sering terjadi pada masa transisi musim.

Kelima, puting beliung lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari. Keenam, biasanya bergerak secara garis lurus.

Ketujuh, kemunculannya tidak bisa diprediksi secara spesifik, karena hanya bisa diprediksi antara setengah hingga satu jam sebelum kejadian. Itu pun jika melihat atau merasakan tandanya, dengan akurasi kurang dari 50 persen.

Kedelapan, angin puting beliung hanya berasal dari awan Cumulonimbus, bukannya dipicu pergerakan angin monsoon ataupun pergerakan angin pada umumnya.

Kesembilan, sangat jarang angin puting beliung terjadi pada titik yang sama. Sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi di lokasi yang.sebelumnya pernah terjadi puting beliung.

"Menariknya lagi. Walaupun angin puting beliung itu hanya berasal dari awan Cumulonimbus, namun tidak semua awan jenis itu bisa memicu timbulnya fenomena angin puting beliung," tukas Ahmad Yani.(hendra)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait