Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Hardi, Terduga Teroris Itu Sudah Sering Dinasehati Jangan Ikuti Ajaran Menyimpang

Tim Redaksi: Senin, 26 Juni 2017 | 11:54 WIB

Hardi, Terduga Teroris Itu Sudah Sering Dinasehati Jangan Ikuti Ajaran Menyimpang


Hardi atau yang sering disapa Hardi BW oleh teman-temannya merupakan salah satu terduga teroris yang tewas ditembak oleh porsonil Poldasu saat melakukan penyerangan dan menewaskan seorang personil Poldasu Aiptu M. Galingging ternyata penjual jus buah di kawasan Gang Sopir, jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan.

Dimata sahabat dan tetangganya, Hardi terkenal ramah dan bersahabat. Bahkan tak jarang dia sering menyapa dan bertegur sapa bila bertemu dengan sahabat dan orang tua sekampungnya.

"Ramah kali la dia. Tak pernah itu tak menegur kalo jumpa atau papasan sama tetangga dan sahabatnya. Bahkan dia juga suka menolong tetangga bila ada yang meminta bantuannya," ujar salah seorang tetangga Hardi yang enggan disebutkan namanya.

Dulu, lanjutnya, sebelum terlibat aksi ini, Hardi sempat bekerja di SPBU jalan sisingamangaraja, namun dia berhenti dan menikah, kemudian, Hardi memilih membuka usaha atau berjualan jus.

"Dulu dia sempat kerja di SPBU, namun setelah menikah dia berjualan jus di depan gang rumahnya," jelasnya.

Bahkan, lanjutnya, Hardi yang memiliki seorang anak ini kerap bermain sepak bola dengan warga sekitar. Namun, 5 tahun terakhir, Hardi pindah ke kawasan Tembung, namun dia tetap berjualan jus buah di kawasan tempat tinggal lamanya.

"Sekitar 5 tahun lalu la dia (Hardi_red) pindah ke Tembung dan menikah disana," pungkasnya.

"Kemarin, Hardi pernah kami nasehati agar jangan terlibat jaringan yang menyimpang, namun, dia marah sama kami dan sambil mengatakan kalau kami bukan orang islam," paparnya.

"Bahkan, kami sudah tau lama dia bergabung dengan kelompok pemberontak, sudah banyak juga yang nasehati dia, tokoh masyarakat dan ustad, namun semua dilawannya dan malah dia ngajak berdebat," cetusnya.

Sebelum peristiwa terjadi, Hardi sempat menjadi petugas penerima zakat di Masjid Jamik Teladan Barat. Sekitar pukul 2.00 Wib, Hardi berangkat dari masjid bersama temannya Syawal, yang kini kondisinya masih kritis.

"Pergi orang itu berdua sama Syawal, bahkan, sebelum berangkat menuju Mapoldasu, mereka sempat membeli dua botol bensin.

"Ku tanyak, buat apa kalian beli bensin sampe dua botol, mau jalan jauh kalian. Jawab mereka iya, mau jalan jauh kami bang," katanya.(jhon)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait